Lucia, Pesona Maba Hamil

Lucia, Pesona Maba Hamil
Healing Pertama Dengan Mu


__ADS_3

Apa maksud dari kata-katanya? Tak bisa mencegah hati ini kian merekah.


Begitu indah kala termakan ditelinga, ada gejolak rasa yang ingin membuncah.


Salahkah jika aku terbawa suasana? Tapi tatapan itu mengisyaratkan rasa cinta.


Lucia masih setia membaca arti yang disampaikan oleh Fabio, kenapa tiba-tiba dia berbicara seperti itu?


Apakah dia sedang mengungkapkan isi hatinya?


"Kakak...."


"Aku ingin, karya Sapardi Djoko Damono. Itu.... Isi buku ini"


ZONKKKKK!


Seketika langit terasa runtuh di atas kepala, sorot teduh Lucia berubah seiring kalimat terakhir yang disampaikan.


"I-isi buku?" Ulangnya dengan satu alis yang terangkat ke atas.


"Iya, buku ini punya aku yang didonasiin buat isi perpustakaan"


Sekuat tenaga Lucia mengepalkan kedua tangan, pantas saja Fabio sangat hapal dengan kalimat yang dilontarkan. Ternyata buku itu bekas miliknya!


"Kamu mau pinjem?"


"Gak! Aku mau pulang" Lucia langsung meninggalkan Fabio yang memandangnya heran, buku yang ia pegang pun ditaruh asal ke tempat yang barusan.


Segera ia menyusul Lucia yang berjalan cepat.


Lucia tak peduli ia telah meninggalkan Fabio disana, otaknya mendadak panas dan Lucia malah berjalan ke arah gerbang bukan parkiran tempat Fabio menyimpan kendaraan.


Arrrghhhh! Kenapa ia kesal sekali mengetahui rangkaian kata itu hanyalah sebuah sastra?! Apa sih yang ia harapkan?? Lagipula kenapa Fabio harus menyusul dan langsung mengutarakan isi buku itu tanpa berbicara terlebih dahulu.


Kan kalau sudah salah paham siapa yang kesal? Siapa yang jadi kepikiran? Belum lagi harus menanggung malu akibat kecerobohan diri sendiri.


"Luciaaaa...."


Teriakan Fabio tak diladeni oleh si pemilik nama, Lucia terus berjalan tanpa menghiraukan kakak tingkatnya itu.


"Mau kemana? Parkiran ada disana, aku mau ambil motor dulu" ujar Fabio mensejajarkan laju langkahnya.


"Aku mau pulang sendiri aja!"


"Lho, kenapa? Kamu marah karena nunggu aku lama? Maaf tadi ada pembagian kelompok dulu jadi agak telat" Fabio mengira.


Tuh kan! Sudah salah malah gak peka. Lucia makin merutuki Fabio di dalam hati.


"Lucia? Hey! Maafin aku ya, ayo kita pulang bareng aku ambil motornya sebentar Oke?" Bujuk Fabio.


"Aku bilang gak mau! Aku mau pulang sendiri pokoknya" sambil menghentakkan tangan di udara, sebal melihat laki-laki disebelahnya ini.


Entah karena hormon kehamilan atau sebagainya membuat Lucia mengeluarkan raungan singa, tapi anehnya kesensitifan itu hanya berlaku jika Lucia berhadapan dengan seorang Fabio.


"Jangan dong, plissss.... Tunggu disini jangan kemana-mana. Aku mau ambil motor dulu ya"


"Gak mau!! Kakak denger gak sih aku bilang gak mau!" Bersikeras.

__ADS_1


Fabio menghela nafas kala tak berhasil membujuk wanita ini, tanpa banyak berkata Fabio lari dan meninggalkan Lucia yang berjalan menuju gerbang.


Sontak Lucia langsung menghentikan langkahnya, tak menyangka Fabio malah pergi. Dia merasa tak terima lelaki itu menjauh.


"Ihhhh....!! Bukannya bujuk aku malah pergi!" Umpat Lucia geram.


Tak sadar kalau tingkahnya membuat laki-laki itu bingung, didekati malah menjauh, giliran dijauhi malah ingin didekati.


Lucia benar-benar tak beranjak dari tempat, seolah menunggu lelaki itu datang lagi.


Benar saja, Fabio datang dengan motor Harley nya.


Lucia melipat tangan di atas perut sembari menyoroti tajam manusia satu ini.


"Naik!" Ujar Fabio.


"Aku kan bilang gak mau pulang bareng!"


"Terus kenapa kamu disini? Nungguin aku?"


Skakmat! Lucia tak mampu membalas, akhirnya dengan kesal dia menaiki motor tersebut.


"Nih, pake helm nya. Udah aku siapin"


Lucia menerima dan memakainya tanpa perlawanan.


Senyum kemenangan terbit di bibir Fabio, tanpa menunggu lama dia pun mengendarai motor itu.


***


"Ya emang bukan"


"Terus? Kakak mau culik aku gitu?!"


"Iya, mau aku jual biar gak marah-marah terus"


"Kakak!" Menepuk keras bahu Fabio dari belakang, yang ditepuk justru tertawa lepas.


"Kita jalan-jalan dulu lah, masa di rumah terus. Ibu hamil harus banyak healing" kata Fabio beranggapan.


Rasanya sudah lama sekali Lucia tidak jalan-jalan, terakhir mungkin saat waktu masih SMK, ketika ia belum hamil.


Saat sudah dinyatakan mengandung Lucia jadi anak yang pemurung, boro-boro mau keluar rumah, berdiam di teras pun rasanya malu.


Padahal saat itu Lucia masih menduduki kelas tiga SMK, sebelum beritanya menyebar Lucia memilih mengundurkan diri dari sekolah. Dan Jihan pun menawarkan Lucia untuk home schooling di rumah sampai dia benar-benar lulus.


Tak mau terus berada dalam keterpurukan, Lucia akhirnya memberanikan diri untuk muncul lagi di kalangan masyarakat.


Tekadnya untuk melanjutkan pendidikan membuat Lucia sejenak menyingkirkan rasa malunya.


Sayangnya sang ibu belum bisa menemani Lucia, bukan karena lebih mementingkan pekerjaan, namun kontrak kerja masih belum berakhir sehingga mau tak mau beliau mesti terus merantau.


"Kakak mau bawa aku kemana?"


"Kamu maunya kemana?"


"Jangan ke tempat ramai" jawab Lucia.

__ADS_1


"Jadi maunya ke tempat sepi gitu? Berduaan sama aku? Hayolooo mau ngapain?"


"Kakakkk!" Sangking kesalnya Lucia mencubit pinggang Fabio, membuat kendaraan itu melaju tak seimbang.


"Eh eh eh nanti kalau motornya jatuh gimana?"


"Biarin! Abisnya ngeselin banget sih jadi orang"


"Ngeselin tapi ngangenin kan"


"Tau ah!" Memilih bodo amat dengan godaan Fabio.


Lucia memusatkan tatapannya ke samping, menikmati pemandangan yang seolah bergerak mengikutinya.


Angin kencang seakan mengipasi Lucia, membuatnya ingin bersandar di punggung lebar itu.


Fabio tersenyum senang ketika punggungnya merasakan beban seseorang, hatinya ikut riang, meski butuh ekstra kesabaran.


Tapi Fabio tak pernah mengeluh, dia yang datang untuk menawarkan pertemanan, wajar kalau harus ia yang berjuang.


Fabio membawa Lucia sebuah cafe baca, tampak kosong dari luar, mungkin karena baru buka.


"Ini tempat apa kak?"


"Cafe baca, kita nongkrong di sini sambil baca-baca buku"


"Tempatnya sepi kan? Gak salah aku bawa kamu kesini" lanjut Fabio.


Mereka pun masuk ke dalam tempat tersebut beriringan.


"Selamat datang" sapa waiters dengan ramah.


Bukan sepi lagi, tapi tak ada pengunjung selain mereka.


"Sini, kita duduk di bangku itu"


Lucia mengikuti, kepalanya tak henti berputar memandang sekeliling.


"Cafe nya belum buka kali, kak. Masa cuma kita berdua"


"Udah kok, emang biasanya rame pas malem hari. Lagian baru buka juga, emang masih sepi"


Lucia duduk di kursi paling pojok, aroma buku bercampur racikan kopi bersatu di ruangan itu.


"Kakak sering kesini?"


"Enggak juga, tapi kalau lagi nyari buku biasanya aku kesini sambil ngopi-ngopi"


"Sama siapa?"


"Sendiri aja"


Lucia memicingkan mata, seolah curiga dengan jawaban singkat itu.


"Bohong, emang seru apa nongkrong sendiri"


"Seru, untuk aku yang punya kisah kelabu!"

__ADS_1


__ADS_2