Lucia, Pesona Maba Hamil

Lucia, Pesona Maba Hamil
Langkah Baru Ghani?


__ADS_3

Jihan kembali dari kantor selama dua jam kurang lima belas menit, wanita karir itu tampak sudah menyelesaikan urusannya.


Dari luar samar-samar Jihan mendengar suara orang berbincang, tak langsung masuk, Jihan menguping di depan pintu. Apakah kedua orang yang ia tinggalkan mulai berbagi topik pembicaraan?


"Berbaring saja kalau kamu lelah"


"Enggak lelah, Tuan yang sebaiknya berbaring"


"Punggung ku pegal karena tidur terus"


Sepertinya ada keuntungan tersendiri Jihan meninggal mereka berdua.


"Aku kembali" Begitu membuka pintu kamar inap.


Keduanya dibuat sama-sama menoleh, Lucia kelihatan yang paling senang dengan kemunculan Jihan, akhirnya ia bisa segera keluar dari ruangan pengap yang membuatnya sesak.


"Sudah selesai?" Seru Ghani.


"Sudah, aku bisa menjaga mas mulai besok"


Penglihatan Jihan beralih pada Lucia yang terduduk di sofa.


"Gimana Lucia? Mas Ghani menyusahkan kamu saat aku gak ada?


Sontak Lucia melirik Ghani yang juga memandang ke arahnya.


"E-enggak kok"


"Syukurlah, kamu pasti capek udah menjaga mas Ghani dari pulang kuliah. Mau pulang sekarang?"


Lucia dengan cepat menganggukkan kepala, tentu saja mau, untuk apalagi ia disini.


"Ayo, aku anterin sampai ke bawah" Jihan keluar lebih dulu, membiarkan Lucia pamit pada Ghani agar lebih leluasa.


Lucia pun mengambil tasnya, berdiri agak jauh dari brankar.


Kenapa bahkan ini lebih canggung dibanding yang tadi? Padahal hanya pamit saja setelah itu mereka berpisah dan entah akan bertemu lagi kapan.


"Saya pamit, Tuan" Lucia membungkukkan sedikit badannya, tak kuasa melihat wajah pria itu, ia sudah dibuat kenyang.


Saat tangan Lucia memegang handle pintu barulah Ghani bersuara.


"Jaga diri"


Makin aneh saja orang ini.


Meski heran Lucia hanya menanggapinya dengan anggukan.


***


Kendaraan yang dipakai Lucia sudah melintasi persimpangan rumahnya, tapi ketika melewati rumah makan ayam bakar aroma sedap tanpa sengaja masuk ke dalam indera penciuman Lucia.


Lucia jadi ingat betapa nikmat makanan itu, perutnya yang masih tersisa ruang kosong seketika meraung-raung minta diisi.

__ADS_1


"Pak, boleh putar balik? Saya mau mampir dulu ke tempat ayam bakar tadi"


"Oh, baik. Saya putar balikkan ya"


Mobil pun berbalik ke persimpangan yang baru dilewati, berhenti di depan rumah makan itu.


"Mau saya yang pesankan?"


"Gak usah pak, saya aja yang turun"


Lucia memasuki tempat ramai tersebut, antrian nya pun sangat panjang, tapi tak membuat Lucia berpikir dua kali untuk membelinya.


"Bang, pesen ayam bakar satu porsi ya"


"Makan ditempat atau bawa pulang?" Tanya Abang penjual sembari mengipasi ayam yang sedang dibakar.


"Bawa pulang"


"Ditunggu ya mbak"


Sembari menunggu Lucia duduk bersama dengan pembeli lainnya, dengan sabar Lucia menunggu nomor antriannya dipanggil.


Mendadak Lucia jadi ingat pada Fabio, karena lelaki itulah Lucia jadi suka makanan satu ini, untung saja dekat dengan rumahnya.


Ah, sedang apa ya dia sekarang? Hari ini mereka tidak ada kegiatan bersama, apa nanti malam Fabio akan berkunjung lagi?


Bertemu Fabio seperti sudah menjadi kewajiban yang harus terpenuhi, laki-laki itu menjadi bagian penting dalam kelangsungan mood nya saat ini.


"Bang tambah lagi dua porsi" pinta Lucia.


Setibanya di halaman rumah Lucia membagi satu box ayam bakar itu kepada sang supir.


"Pak, ini buat bapak. Makasih udah nunggu lama"


"Eh, padahal gak perlu Nona" tak enak menerima.


"Gapapa, saya sengaja beli buat bapak"


"Kalau begitu saya terima ya, terimakasih banyak"


"Sama-sama, saya turun dulu"


Lucia pun keluar dari mobil milik Jihan, ia tak sabar menikmati makanan yang sudah dibelinya. Sangking dibuat ngiler Lucia sampai menyetok dua bungkus untuk dirinya sendiri.


***


"Kamu tadi ngobrol apa aja sama Lucia, mas?" Jihan bertanya, sambil memainkan laptop ia membuka obrolan ringan bersama Ghani.


"Cuma menanyakan kondisi bayi saja" jawabnya jujur.


Sontak Jihan langsung menatap ke arah sang suami, ia dibuat terkejut dengan pengakuan Ghani.


"Serius?" Jihan tak bisa menyembunyikan rona kebahagiaan, akhirnya ada perkembangan juga, Ghani dan Lucia sudah mulai berinteraksi.

__ADS_1


"Jadi bagaimana bayinya? Apa yang Lucia bilang?"


"Dia bilang bayinya baik"


Jihan terkekeh, terdengar jawaban yang dibuat seadanya, mungkin hanya obrolan-obrolan singkat.


"Terus apalagi?"


"Enggak ada, selebihnya aku hanya menyuruh dia makan"


"Dan dia mau?"


"Dia memakannya sedikit"


Jihan menatap lama sang suami, diam-diam Ghani memperhatikan gerak-gerik Lucia, pria dengan gengsi tinggi ini tanpa sadar mengamati dengan sangat baik.


"Kamu harus sering-sering bertanya apa kebutuhan dia, saat-saat begini yang Lucia butuhkan adalah pasangannya" saran Jihan, tak lupa dia selalu menasihati Ghani tanpa mempedulikan apakah pria ini mendengarnya atau tidak.


"Kamu enggak cemburu jika aku dekat dengannya?"


Pertanyaan Ghani ditanggapi dengan tawa kecil, Jihan menggenggam tangan Ghani dengan sebelah tangannya.


"Aku lebih baik kalau kamu perhatian dengannya untuk situasi sekarang, cemburu ku tidak ada apa-apanya dibanding rasa cintaku untuk bayi kalian" ungkap Jihan dengan arti yang terdengar mendalam.


Ghani menatap lekat sorot teduh itu, seribu banding satu wanita seperti Jihan ini. Mana ada perempuan yang menyuruh suaminya sendiri untuk lebih dekat dengan istri keduanya, meski ada alasan yang besar dibalik itu semua.


Apakah ini juga pertanda kalau cinta Jihan terhadapnya perlahan memudar? Tapi jika iya, tentu Jihan tak akan mempedulikan tentang bayinya yang ada dalam kandungan Lucia.


"Kamu tau mas, aku gak sabar banget nunggu bayinya lahir. Bulan depan usia kandungan Lucia menginjak tujuh bulan, kita udah bisa beli peralatan bayinya"


Jihan benar-benar seperti wanita yang sedang berbadan dua, kebahagiaannya melebihi wanita hamil sesungguhnya.


"Kenapa bukan sekarang saja?"


"Jangan, kata orang tua dulu kalau beli peralatan bayi kurang dari tujuh bulan itu pamali. Nanti bayinya bisa hilang"


"Hilang? Kemana bayinya?" Baru mendengar istilah tersebut.


"Aku juga gak tau" balas Jihan mengedikkan bahu.


Dipikir-pikir malah kepikiran, bayinya tidak mungkin hilang juga kan? Saat di USG ada mahkluk kecil di dalam sana, bayi itu pasti tumbuh dengan baik.


Ada-ada saja, Ghani menyimpulkan kalau itu adalah sebuah pencegahan karena tidak semua bayi lahir dengan selamat.


"Kenapa melamun mas? Kamu memikirkan ucapan aku barusan?"


Ghani terkesiap,. apakah ekspresinya terlihat jelas?


"Jangan terlalu dipikirin juga mas, bisa aja itu mitos"


"I-iya, bayinya.... Enggak akan mungkin hilang kan?"


"Hahaha.... Enggak akan kalau kita merawatnya dengan baik"

__ADS_1


Ghani menerawang jauh, kekhawatiran yang baru ia rasakan ini membuat Ghani mulai memikirkan langkah baru, haruskah ia mulai merawat bayi tersebut?


__ADS_2