Lucia, Pesona Maba Hamil

Lucia, Pesona Maba Hamil
Tanpa Disengaja


__ADS_3

Fabio dan Lucia tidur hingga pukul sembilan, keduanya benar-benar tidak bisa diganggu bahkan oleh suara-suara bising di luar sana.


Suhu rendah seakan masih tertinggal hingga mereka enggan melepas diri dari lilitan tangan sang pasangan.


Bayi yang tadi sempat protes seketika kembali terdiam saat ulahnya sama sekali tidak dihiraukan.


Tapi saat matahari kian naik, cacing-cacing di perut mereka memberontak minta diisi, alhasil keduanya pun bangun dan tak bisa tidur lagi.


"Kakak mau mandi disini juga?"


"Boleh"


"Kalau gitu aku duluan ya, nanti habis aku baru kakak yang mandi"


"Gak mau mandi bareng aja?" Goda Fabio membuat Lucia menatapnya nyalang.


"Kakkkkk!!!"


Fabio tergelak, puas menjahili "Siapa tau mau, biar hemat waktu"


"Gak, makasih! Diem di kursi jangan ngintip" ancam Lucia memperingati.


"Siap bos!"


Lucia pun lantas masuk guna membersihkan diri, sambil diguyur air shower Lucia masih terbayang diingatan ketika Fabio mengatakan kalimat saat mereka pertama kali terbangun.


Bisakah ia mendengarkan kata itu lagi? Tapi Lucia terlalu malu untuk memintanya.


Sampai saat ini ungkapan itu sukses membuatnya tersenyum-senyum sendiri, dan terkadang wajah Lucia merona ketika menyadari ia pun membalas pengakuan Fabio.


Lucia menutup wajah dengan kedua telapak tangan, "Hmmm..... Malu banget!"


***


Fabio dan Lucia memutuskan sarapan di luar, seperti Minggu sebelumnya. Mereka makan bubur langganan Fabio, bersama para pelanggan yang juga memilih makan di tempat.


"Udah ini ke apartemen aku dulu ya, aku mau ganti baju. Baru kita jalan-jalan lagi" kata Fabio disela-sela makannya.


"Iya" Lucia mengiyakan tanpa bertanya akan dibawa kemana lagi ia oleh lelaki ini, ia akan menikmati saja tempat-tempat tersebut.


Seusai menghabiskan sarapan mereka melanjutkan perjalanan menuju apartemen, hanya sebentar mereka pun sampai disana.


Turun dari motor dan menaiki lift.


"Kakak beneran gak ada acara?"


"Acara apa emang?" Balik bertanya.


"Ya apa aja, kali aja kakak ada janji sama orang Minggu ini"

__ADS_1


Fabio tampak berpikir sebentar "Emm... Ada sih, rencana Minggu ini aku mau pergi ke suatu tempat"


"Hah? Beneran? Sama siapa?"


"Sama kamu lah" mencolek lagi dagu Lucia dengan tawa jailnya.


"Ishh... Kakak yang serius dong! Kalau beneran kakak ada acara sama yang lain mending kakak datang sekarang"


"Gak aku bercanda kok, gak ada waktu buat yang lain selain kamu" gombalnya.


Lucia mendesis, hampir saja lelaki itu membuatnya tidak enak hati.


Ting!


Mereka keluar dari lift, Fabio mengeluarkan kartu akses pintu apartemen.


"Kalau mau nunggu di kamar aku masuk aja ya"


"Gak ah, aku tunggu di ruang tamu aja"


"Lah, jangan malu-malu gitu orang kita udah tidur bareng tadi" kata Fabio nyeleneh.


"Kakak!!" Lucia sontak menutup mulut Fabio yang berbicara asal.


"Gimana kalau ada orang yang denger? Mereka bisa salah paham" bisik Lucia sembari menengok ke segala sudut memastikan tidak ada orang yang mendengar.


Setelah dirasa situasi aman Lucia menarik lagi lengannya.


Pintu terbuka, seketika canda tawa yang tadi terdengar tiba-tiba terhenti manakala mereka mendapati dua orang di dalam sana yang tengah memandang dengan ekspresi penuh tanya.


"Mama? Papa?"


Deg!


Mendengar itu Lucia tak bisa menahan keterkejutannya, ia spontan bersembunyi di belakang tubuh Fabio, tubuhnya bergetar ketakutan.


Kecemasan menyerang Lucia begitu saja, pikiran-pikiran negatif memenuhi otaknya. Ia belum siap bertemu dengan orang tua Fabio, bagaimana kalau kedatangannya tidak diterima? Bagaimana kalau orang tua Fabio tidak menyukai? Atau melarang Fabio untuk berteman lagi dengannya? Semua berkeliaran di dalam kepalanya.


"Sayang, siapa?" Suara lembut dan merdu itu menenangkan jiwa yang mendengarnya.


Fabio menoleh ke belakang, ujung kaosnya ditarik Lucia dengan erat, Fabio yakin perempuan ini tengah gusar.


Fabio menarik lengan Lucia dan menggenggamnya tanpa mempedulikan tatapan orang tuanya.


"Ini Lucia, temen kuliah Fabio" jelas Fabio singkat.


Namun tatapan mereka tertuju pada perut perempuan muda yang dibawa sang putra, kegelisahan serta dugaan yang tidak-tidak menghampiri dua orang tua itu.


Benarkah cuma teman saja? Fabio bahkan berani membawa seorang perempuan ke dalam apartemen, dan juga perut besar itu semakin mendukung terkaan mereka.

__ADS_1


Apakah selama ini mereka telah salah mengira akan perilaku buah hati mereka?


"Masuklah nak, persilakan temanmu duduk" titah sang ayah.


Ketika Fabio melangkah ia kembali terhenti ketika Lucia masih berdiam diri ditempat sambil menggenggam erat kaosnya.


"Gapapa, ayo masuk" ujar Fabio dengan nada sehalus mungkin.


Dengan langkah berat Lucia pun masuk ke dalam, duduk di sofa tamu ditemani Fabio di sampingnya, lelaki itu pun harus mengurungkan niat awalnya datang ke apartemen demi menemani Lucia bertemu dengan orang tuanya.


"Kapan mama papa datang?" Seru Fabio.


"Sejak tadi malam, tapi kamu malah gak ada disini. Mama sama Papa udah mencoba menelpon sahabat-sahabat kamu tapi mereka bilang kamu tidak bersama mereka. Nomor kamu juga enggak aktif, kami cemas kemana kamu sebenarnya?"


Fabio tidak menjawab pertanyaan ibunda, dan sang ayah menyadari kejanggalan pada mimik putra semata wayangnya ini.


"Kamu pasti ada perlu datang kesini, segeralah selesaikan" kata pria setengah baya disana.


Fabio memandang Lucia sebentar, perempuan itu mengangguk, membiarkan Fabio pergi ke kamarnya untuk mengganti pakaian.


Fabio bangkit meninggalkan Lucia sebentar bersama kedua orang tuanya.


Suasana di ruang tamu langsung hening dan sedikit mencekam, Lucia terus menunduk tak mampu menatap dua orang di depannya, seolah ia telah membuat kesalahan.


"Mau minum apa? Biar Tante buatkan"


Untuk pertama kalinya Lucia memberanikan diri mengangkat pandangan, dan sungguh ia terkagum-kagum dengan manusia tersebut, sekarang ia tau darimana ketampanan Fabio berasal.


Tak ada yang menatapnya tajam, tak ada yang berbicara ketus padanya, tapi tetap saja Lucia tak bisa menahan kecemasan.


"E-enggak usah Tante"


"Jus, mau?" Tawarnya lagi.


Lucia harus jawab apa? Kalau menolak ia khawatir dikira tidak menghargai, tapi jika menerima ia juga takut dianggap tidak tau diri. Masalahnya ini orang tua Fabio.


Alhasil Lucia cuma mengangguk sebagai jawaban.


Wanita yang masih nampak cantik di usia kepala empat itu lantas berlalu menuju dapur untuk membuatkan tamu putranya minuman.


Sedangkan sang ayah berlalu menuju kamar Fabio berada.


Clekkk....


"Sepertinya ada yang harus kamu jelaskan pada kami" tutur Sandi begitu masuk.


Fabio yang baru saja selesai mengganti pakaian tidak terkejut sama sekali dengan kemunculan sang ayah yang langsung menuntut sebuah penjelasan.


Fabio mendesah, tanpa berkata apapun ia keluar menuju area balkon agar suaranya tidak bisa di dengar oleh Lucia.

__ADS_1


Sandi mengikuti kemana Fabio melangkah, disana Fabio mulai menjawab pertanyaan-pertanyaan yang menjadikan kesalahan pahaman orang tua terhadapnya.


__ADS_2