Lucia, Pesona Maba Hamil

Lucia, Pesona Maba Hamil
Salam Kenal Dari Teman Ibumu


__ADS_3

"Dimakan buahnya, maaf ya cemilannya cuma ada itu aja. Udah habis kemarin sama temen-temen aku, belum sempet beli lagi" ujar Fabio ikut bergabung di sofa sambil menonton siaran televisi.


"Temen kakak sering kesini juga?"


"Dulu sering, kalau sekarang-sekarang baru satu kali doang"


Lucia mengigit buah apel yang sudah di potong menjadi enam bagian, kalau dipikir-pikir tentu saja Fabio sering menerima tamu apalagi kalau itu teman-temannya. Bisa-bisanya Lucia mengira kalau dia orang luar pertama yang Fabio ajak ke apartemen miliknya.


"Temen kakak laki-laki semua?"


"Ada perempuannya juga"


Ah, kenapa Lucia seakan tidak terima dengan fakta itu. Egois sekali dia, Lucia mengumpat dirinya sendiri.


"Yang kemarin kakak anterin pulang?"


Fabio mengangguk, Lucia tersenyum kecut melihatnya.


"Temen perempuan kakak dateng kesini sendirian? Sama kayak aku?"


"Enggaklah, dia dateng rame-rame empat orang. Dua cewek dua cowok, gak berani aku bawa cewek kalau gak sama temen-temen" Fabio meluruskan.


"Terus kenapa kakak berani bawa aku ke apartemen? Kakak lho yang ngajak" menatap selidik sang tuan rumah.


"Kamu mah beda lagi, kalau kita ketahuan berduaan pun orang gak akan bisa macem-macem, soalnya gak bisa dinikahin. Tapi kalau memang bisa juga gak apa-apa kalau sama kamu"


"Idihhh.... Kakak pikir aku mau poliandri? Ogah!"


Fabio terbahak-bahak, senang sekali ia menjahili Lucia.


"Mau nonton film gak? Daripada nontonin acara gak jelas kayak gitu"


"Kakak punya kasetnya?"


"Gak perlu pake kaset jaman sekarang, tinggal pilih aja lewat handphone terus muncul deh di TV"


"Boleh deh"


Fabio pun lantas menyambungkan televisi itu dengan handphonenya, masuk ke halaman aplikasi dan mencari film rekomendasi Minggu ini.


"Mau genre apa? Delapa belas plus mau?"


"Ihh... Kakak!" Melototi Fabio yang asal bicara.


"Hahaha.... Sorry, kirain suka"


"Gak lah! Sini biar aku aja yang milih" meminta ponsel Fabio.


Ternyata zaman sudah sangat maju, Lucia tidak mengetahui ada alat secanggih ini. Walaupun tinggal di ibukota tapi kehidupan keduanya sangat berbeda. Lucia seperti hidup dua puluh tahun lebih lama dibanding Fabio.


"Kakak biasanya nonton film apa?" Mencoba bertanya, siapa tau Lucia juga tertarik.

__ADS_1


"Lebih suka genre sad ending"


"Hah?! Kok bisa??"


"Soalnya aku selalu ngambil pelajaran dibalik film yang endingnya sedih, karena gak semua kehidupan itu berakhir bahagia, justru kalau aku nonton film yang kayak gitu, aku bakalan merasa lebih bersyukur, karena bukan kisah aku doang yang berakhir tragis" jelas Fabio panjang lebar.


"Tapi itu kan cuma film"


"Iya, tapi film juga kebanyakan diambil dari kisah nyata"


Dari kata-kata itu ada hal yang menunjukkan jika kisah tragis pernah menghampiri sosok lelaki ini, tapi dalam bentuk apa? Apakah ada kaitannya dengan cerita Fabio yang sebelum-sebelumnya? Lucia dibuat berpikir keras.


Namun ia belum berani bertanya lebih, takut disangka terlalu mencampuri urusan orang lain.


***


Ditinggalkan mandi, Lucia tertidur di atas sofa karena terlalu lama menunggu Fabio, menonton televisi sambil berbaring ditambah lagi rasa lelah membuat wanita itu tak bisa menahan kantuk yang menyerangnya.


Fabio yang baru keluar dari kamar mandi langsung menghampiri ruang tamu.


"Maaf ya lama, tadi a....."


Ucapan Fabio langsung terhenti ketika mendapati Lucia yang terlelap di atas sofa panjang. Televisi yang masih menyala menandakan jika Lucia tak sengaja tertidur.


Fabio geleng-geleng melihatnya, "Ya ampun, padahal udah aku bilang nontonnya di kamar aja"


Fabio mendekat, berdiri tepat di depan perempuan yang tak sadarkan diri itu.


Fabio memutuskan untuk memindahkan Lucia ke kamarnya agar dia bisa berbaring di atas ranjang.


Fabio mulai memposisikan tubuhnya untuk mengangkat tubuh Lucia.


"Aku izin gendong kamu ya, jangan marah" bisik Fabio, tak peduli jika Lucia tidak mendengar perkataannya, yang penting ia sudah izin pada wanita ini.


"Euugghhh........ Berat juga!"


Baru kali ini Fabio menggendong seseorang yang tengah berbadan dua, lumayan mengeluarkan otot ternyata.


Selanjutnya Fabio membaringkan lagi Lucia di atas tempat tidurnya, dengan sangat hati-hati sebab ia tak mau sampai perempuan itu terusik.


Tak lupa menyelimuti Lucia supaya tidak kedinginan, bahaya kalau sampai masuk angin karena AC di ruangan itu.


Fabio tak langsung beranjak, ia menikmati pemandangan di depannya, wajah damai Lucia membuat hati serta pikiran Fabio ikut tenang.


"Wajah itu gak cocok buat nakutin aku" Fabio tersenyum gemas.


Dia tau selain karena hormon kehamilan, hal yang membuat Lucia sering memasang wajah jutek adalah untuk melindungi dirinya sendiri. Orang tidak akan mudah menindasnya, padahal kalau Fabio tebak, Lucia orang yang alim, hanya saja keadaan mengubahnya secara paksa.


Lucia juga tak jarang mengeluhkan hidupnya, hal yang membuatnya tak pernah terlihat tersenyum lagi. Sehingga orang mengira Lucia termasuk perempuan dingin.


Belum lagi, ia harus bertahan demi nyawa yang ada di dalam perutnya.

__ADS_1


Seketika tatapan Fabio beralih pada perut buncit yang tertutup selimut, nampak jelas meski di baluti kain tebal.


Bagaimana rasanya punya perut yang menonjol seperti itu?


Apakah keras?


Sebesar apa ruang untuk bayi itu?


Tiba-tiba pertanyaan itu memberondong rasa penasaran Fabio.


Aku ingin menyentuh perut itu!


Desakan yang muncul secara mendadak tak bisa menghindari keinginan Fabio yang satu ini, ia menatap Lucia yang masih terpejam rapat, memastikan Lucia tidak menyadari tindakannya.


"Sebentar saja, aku janji"


Dengan penuh keragu-raguan Fabio menyikap selimut itu, tangannya terangkat guna menyentuh bagian tersebut.


Ketika telapak tangannya sudah menempel, Fabio merasa seperti ada sengatan yang menjalar di bagian bawah tangan.


Kali ini Fabio mulai mengelus lembut perut itu, meraba bagian yang selalu mencuri perhatiannya, diusapnya dengan gerakan kecil.


Keras tapi juga licin kala dibelai.


Sesuatu dari dalam perut itu mengangetkan Fabio, sampai dia menarik lengannya dalam sekejap.


"Apa itu? Seperti ada yang bergerak"


Beberapa detik Fabio membeku, hingga ia dibuat penasaran dengan apa yang barusan ia rasakan. Fabio harus memastikannya.


Ditaruh lagi lengan tersebut diatas perut Lucia, diam beberapa saat sampai gerakan dari dalam muncul kembali.


"Ada lagi!" Fabio heboh sendiri.


Fabio mendekatkan wajahnya pada bagian perut Lucia, dengan tangan yang masih setia menempel.


"Hey, pasti itu kau" Fabio berbisik kecil, mengajak makhluk di dalam sana berbicara.


Dan dibalas oleh gerakan lagi, beberapa tendangan seolah bayi itu mendesak untuk keluar.


"Iya aku percaya kali ini, sabar dulu belum waktunya kamu lahir sekarang"


Beberapa saat Fabio tak merasakan gerakan bayi itu, ia pun mencari ke sudut yang lain sampai menemukannya lagi.


"Jangan marah, tunggu tiga bulan lagi. Salam kenal dari aku, teman ibumu"


Tapi Fabio kehilangan respon si bayi, sudah berusaha mencari di sudut yang lain pun tetap tak ada.


"Baiklah, selamat tidur juga. Jangan nakal ya"


Dan Fabio benar-benar menarik lengannya setelah merasa puas dengan apa yang ia lakukan. Fabio kembali menutupi Lucia dengan selimut, barulah ia pergi dari kamar membiarkan dua manusia yang berbaring di ranjangnya beristirahat.

__ADS_1


__ADS_2