
Aku ingin memujamu setiap waktu, meski dalam balutan darah yang membeku.
Tiap detik ku tunggu agar kita bisa bertemu, walau terkadang jarum jam itu tak kunjung maju.
Di hamparan laut yang membentang, bersama mu ku takkan pernah bimbang.
Di ujung cerita kita nanti, ku janjikan kamu yang ku genggam dengan pasti.
Pagi itu, Lucia tidak berangkat ke kampus. Dosen yang mengajar tiba-tiba menghubungi kelas dan mengatakan berhalangan hadir karena ada urusan yang sangat mendadak.
Pagi yang masih gelap itu, membuat Lucia tidak bisa tidur lagi. Niat hati bangun untuk bersiap-siap kini malah tidak jadi pergi.
Waktu masih menunjukkan pukul lima, dari pada tetap disini Lucia ingin pergi ke suatu tempat, tempat favoritnya.
Sebab kemarin ia tidak jadi kesana karena Fabio mengajaknya jalan-jalan.
Lucia lantas bergegas, ia mandi dan bersiap menuju halte bus. Tak lupa Lucia memberitahu Ghani agar tidak usah menjemputnya, Lucia mengirim pesan itu tanpa mempedulikan apakah sudah dibaca atau belum.
Mengunci rumah, Lucia jalan kaki menuju perempatan dimana halte bis berada.
Berdiri bersama orang-orang asing yang juga memulai kegiatan di pagi hari, dengan tujuan yang berbeda-beda.
Lucia kebagian kursi ketika seorang laki-laki menawarkan tempat duduknya.
"Makasih, pak"
Lucia menjatuhkan pantatnya di kursi tersebut sambil mendekap tas selempang serta perutnya, menatap jendela luar yang masih dipenuhi embun.
Bis beberapa kali berhenti ketika penumpang baru berdatangan, tetapi Lucia tidak menghiraukan, ia fokus menatap jalanan luar yang hanya dipenuhi oleh pemandangan kendaraan.
Sesampainya di tempat tujuan, Lucia turun dari bis seusai memberikan ongkos. Ia berjalan lagi membelah hutan mini yang masih asri itu.
Dan sampailah ia di jembatan panjang yang menyuguhkan panorama laut yang membentang luas.
Lucia menghirup dalam-dalam udara bersih yang sangat menyegarkan, kemudian melangkah melewati tiap-tiap kayu yang silih berpegangan, bunyi tapak kaki Lucia timbul begitu menginjak jembatan tersebut.
Hingga pada kayu yang paling ujung Lucia pun berhenti, menatap lama lukisan Tuhan yang masih ditutupi warna hitam, ketika matahari terbit barulah pemandangan itu diwarnai dalam sekejap mata.
__ADS_1
Tak ada manusia di sekitar sini, seolah tempat ini adalah khusus milik Lucia dan diperuntukkan untuknya. Kerja kerasnya menyembunyikan tempat tersebut berbuah manis dengan tidak adanya satu pengunjung pun yang datang.
Lucia memejamkan mata meresapi nikmatnya suasana yang menyegarkan hati serta pikiran, aktivitas sederhana yang sangat memberi dampak besar bagi Lucia, bagai terapi alamiah yang begitu memanjakan.
Ketika keheningan mengisi suasana tersebut, bunyi tapak sepatu dari arah belakang muncul diikuti suara si pemilik kaki.
"Lucia?"
Deg!
Pemilik nama spontan membuka mata dengan cepat, di tempat sunyi ini ada seseorang selain dirinya, namun yang lebih mengejutkan orang itu tau siapa dia.
Seketika Lucia membalikkan badan, kelopak matanya terbuka dengan lebar kala mendapati lelaki muda di tengah-tengah jembatan yang sama.
"K-kakak....!?"
Tak bisa dipercaya, makhluk mana yang sudah membawa anak itu ke tempat ini, tempat persembunyian Lucia yang sengaja tidak ia beritahu ke pada siapapun termasuk pada lelaki tersebut.
Angin berhembus menerpa keduanya, dua insan yang sama-sama terpijak diatas kayu tua yang masih kuat menampung manusia. Menukar aroma khas dua orang tersebut, seolah memastikan sepasang manusia itu kalau orang yang mereka lihat benar-benar sungguhan.
Bagaimana mungkin?? Dunia begitu cerewet untuk di ajak berbagi rahasia.
"Kakak kenapa ada disini? Kakak.... Ngikutin aku?!" Tuduhnya menyerang dengan pertanyaan.
Fabio tertegun, nada sarkas itu semakin meyakinkan Fabio, jadi benar ini Lucia??? Sepertinya Tuhan memang berpihak padanya.
Fabio menghampiri perempuan yang tengah memasang wajah antara bingung dan curiga itu, jarak mereka berada sejengkal saja dan itu semakin membuat keduanya bisa melihat dengan jelas.
"Aku yang harusnya tanya, kenapa kamu disini? Kamu tau tempat ini dari mana?"
Dan pertanyaan Fabio yang terdengar sungguh-sungguh itu menghilangkan sangkaan buruk Lucia dalam sekilas.
"Jadi tempat ini yang kamu maksud? Makanya kamu gak mau bagi tau aku?"
Lucia tak menjawab, melainkan ia masih penasaran bagaimana Fabio tau tempat ini jika memang tidak sedang membuntutinya.
"Kakak tau dari mana?"
__ADS_1
"Ini tempat main ku dari kecil, lebih tepatnya tempat kesukaan teman ku. Jadi sesekali aku kesini buat ngeliat matahari terbit atau terbenam" jelas Fabio memecahkan pertanyaan Lucia.
"Dan kamu?"
"Aku...."
***
Mereka duduk di ujung jembatan, menjuntai kan kaki ke air laut yang tenang, sembari menunggu sang Surya terbangun dari tidur panjangnya.
"Semenjak Ayah meninggal dan aku merantau buat magang, aku nemuin tempat ini disaat pikiran aku lagi kacau waktu itu. Disini tempat ternyaman buat aku nangis sekeras-kerasnya, gak ada siapapun yang bakalan ngeliat, semenjak itu tempat ini jadi tempat favorit aku kalau lagi banyak masalah, makanya aku gak mau orang-orang semakin tau tempat ini" kata Lucia bercerita, ia tak bisa menutupi rahasianya dari Fabio, bahkan ketika sekuat tenaga Lucia menyembunyikannya, alam malah mempertemukan mereka.
"Jadi sekarang kamu lagi banyak masalah?" Tebak Fabio menyimpulkan dari apa yang dia dengar.
"Enggak juga, cuma pingin kesini aja soalnya kemarin gak sempet datang"
Mereka sama-sama menatap ke depan, ke arah sinar yang menyembul keluar. Lucu sekali, jauh-jauh pergi dan akhirnya berjumpa lagi.
"Apa yang biasa kakak lakuin disini?" Tanya Lucia sambil menoleh ke samping.
"Cuma diem aja, aku ke sini kalau lagi kangen sama teman lama ku. Aku jadi dapet energi setelah datang kesini" ujarnya.
"Temen kakak.... Perempuan atau laki-laki?"
"Perempuan" jawab Fabio cepat.
Dan Lucia langsung tertegun mendengar pengakuan tersebut, mendadak hatinya seperti disentil sesuatu.
"K-kenapa gak langsung pergi ke rumahnya? K-kenapa harus kesini?" Lanjut Lucia terbata-bata, perasaannya jadi tak karuan setelah tau fakta yang terungkap.
"Udah dari sini mau kok, kamu mau ikut?" Tawar Fabio.
"Hah?? Aku? Enggak lah" tolak Lucia mentah-mentah, mendengar Fabio merindukan sosok perempuan itu saja sudah membuat dadanya nyeri, apalagi harus bertemu dengannya langsung.
"Ikut aja, sekalian pulang bareng. Gak akan lama kok"
"Gak usah, aku pulang naik bis lagi. Kakak pergi aja ke rumah temen perempuan kakak" titah Lucia sedikit ketus, dan itu malah membuat Fabio menyinggung senyumnya.
__ADS_1
"Kalau udah kayak gini gak mungkin aku biarin kamu pergi sendirian, kamu harus ikut, sekalian aku kenalin sama teman ku nanti"