Lucia, Pesona Maba Hamil

Lucia, Pesona Maba Hamil
Pernyataan Di Tengah Kuburan


__ADS_3

Letusan kembang api tak bisa menyaingi perasaan Lucia yang meledak.


Terkejut, tercengang, tertegun, semua bercampur menjadi satu ketika ucapan Fabio masuk ke telinganya dan dicerna oleh otak.


Tak ada yang bisa Lucia lakukan kecuali membeku sambil menatap Fabio dengan mata terbelalak.


Cincin?


Untuknya???


Bukankah tadi itu terdengar seperti seseorang yang sedang berjanji untuk melamar dirinya?


Ditempat ini, di hadapan mendiang wanita yang pernah Fabio cintai. Lelaki itu mengatakan hal demikian padanya.


"Tunggu aku, tetap bersamaku. Aku pasti akan mendapatkan kamu, aku pastikan itu!" Mengangkat tangan Lucia lebih tinggi dan merapatkannya di dada Fabio.


Haru, bukan main! Lucia seperti mendapat surga ditengah neraka dunia yang sedang dijalaninya.


"Kakak mencintai aku?" Dengan ragu Lucia menuntut penjelasan.


Fabio memandang mata itu penuh arti, dengan hanya ditatap seperti itu pun Lucia sudah tau apa jawabannya.


"Ya, aku sangat mencintaimu kamu Lucia"


Deg


Deg

__ADS_1


Deg


Jantung Lucia seakan ingin pecah menjadi berkeping-keping, bahkan Lucia yakin kalau Fabio bisa mendengar degup jantungnya kini sangking kencangnya.


"Aku cinta kamu, Lucia"


Aneh sekaligus ngeri-ngeri sedap, membayangkan ada dua orang yang menyatakan perasaan ditengah-tengah kuburan seperti ini.


Bukan tempat romantis ataupun setidaknya yang sedikit lebih layak, ini justru diantara orang-orang yang telah dikubur dan berbeda alam.


Tapi meski demikian, siapa yang tidak senang jika seseorang yang sedang dekat dengan kita mengungkapkan perasaan yang sebenarnya. Lucia bahkan lupa dimana dirinya berada sekarang.


"Aku.... Aku juga" lirih Lucia malu-malu.


Fabio membeliakkan kedua matanya, ia tidak berpikir Lucia akan membalas juga.


Dan tanpa diduga Lucia mengangguk pelan.


"I-iya" cicitnya menggigit bibir bagian bawah.


Dengan sekejap Fabio menghamburkan pelukan pada Lucia, sangking cepatnya mereka hampir terpental ke belakang.


"Kak!!"


"Makasih.... Makasih Lucia..... Makasih"


Ekspresi Lucia langsung berubah teduh, ia pun membalas pelukan itu dengan hangat, seluruh keraguan itu luruh dengan keduanya saling mengakui perasaan.

__ADS_1


Perlakuan manis Fabio selama ini rupanya adalah sebuah bukti rasa cinta yang semakin hari kian membengkak.


Dan Lucia pun menerima semua itu sebab dirinya pun merasakan cinta yang sama, kebahagiaan selalu datang dengan hadirnya sosok lelaki tersebut.


Lucia tidak memikirkan statusnya kini, terserah orang bakal menyebutnya apa, tak peduli jika ia sudah memiliki seorang suami.


Kini, Lucia hanya ingin Fabio seorang, tidak yang lain!


Cukup lama mereka berpelukan, keduanya pun mengurai dekapan itu.


"Jadi kita sekarang pacaran?" Seru sang lelaki.


"A-aku gak tau, apa aku boleh menyandang hubungan ini. Aku kan masih bersuami" sahutnya, Lucia paham Fabio juga butuh kepastian, tapi Lucia tak bisa menerima dengan begitu saja.


"Gapapa, mau status kamu apapun, yang penting sekarang kamu milik aku, mulai detik ini ataupun seterusnya. Kamu akan jadi Lucia Langit Biru"


Penuturan Fabio membuat Lucia ingin menjerit, Fabio benar-benar bisa mengobrak-abrik hatinya, kalau saja Lucia berada di dalam kamar mungkin ia bisa berguling-guling meski perutnya tidak lagi rata.


"Kakak jangan berlebihan"


"Siapa yang berlebihan? Aku gak lagi ngegombal"


"Aku belum benar-benar jadi milik kakak"


"Mungkin sekarang emang belum, tapi nanti kalau kita menikah"


Semakin merona lah wajah putih Lucia mendengar kata-kata Fabio barusan, tidakkah hati ini bisa di jeda dulu? Lucia khawatir ia tidak bisa mengontrol diri untuk meledak disini.

__ADS_1


__ADS_2