
Selesai jam pelajaran kelas pun dibubarkan, Lucia keluar dari gedung fakultas karena Ghani pasti sudah menunggunya diluar.
Namun ketika sudah berada di luar gedung Lucia tidak menemukan mobil Ghani.
"Kemana dia?" Gumamnya.
Lucia pun lantas mengambil ponsel untuk menghubungi pria itu, siapa tau Ghani memutuskan untuk pergi karena ada urusan.
"Hallo Tuan, Tuan dimana?" Tanya Lucia ketika telepon tersambung.
"Di area parkiran, kamu sudah keluar kelas?"
Sayang sekali, rupanya Ghani masih ada di sekitaran kampus.
"Iya, aku diluar"
"Tunggu disitu, aku akan segera kesana"
"Baik"
Telepon pun terputus, Lucia menghela nafas keputusan asaan, dia kira Ghani berhalangan untuk menunggunya, tapi ternyata pria itu hanya menyimpan mobilnya di area khusus kendaraan.
Dengan terpaksa Lucia harus menunggu lagi, andai supir Jihan tidak ada urusan pasti Ghani tidak akan pernah mengantar jemputnya.
"Lucia!"
__ADS_1
Suara yang sangat Lucia kenali terdengar dari arah belakang, dengan lembut menyebut namanya, desiran kuat membuat Lucia seketika berbalik dan menatap orang itu.
Tatapan teduh ditunjukkan untuknya, Lucia menengadah karena tinggi orang tersebut ditambah anak tangga yang mereka pijaki pun berbeda.
"Ka...Kak"
Lucia sudah mengira, Fabio datang menghampirinya. Pria itu tidak tau bertapa senangnya Lucia melihat sosoknya.
"Pulang sekarang?"
Lucia mengangguk, lidahnya kelu untuk sekedar menjawab iya.
"Sama suami kamu?"
Dimana canda yang biasanya mengelilingi mereka? Hilang seperti sebuah angin yang hanya sekedar lewat, kini keduanya dikuasai kecanggungan bak orang asing yang baru kenal.
"Dia ada diparkiran tadi" lanjut Fabio memberitahu.
Lucia mengerjap, Fabio melihat Ghani? Kenapa ia merasa tidak enak pada lelaki ini? Ia seperti seseorang yang sudah mengkhianati sesuatu.
"Iya, katanya mau kesini" cicit Lucia, tak tau harus menanggapi seperti apa lagi.
Fabio asik menatap lama wajah yang sedari kemarin tak lepas dari otaknya, kerinduan menyerang hatinya begitu Lucia melintas di kepala.
Lucia mendadak ingat sesuatu, ia teringat akan makanan yang tadi malam dipesan untuknya, pas sekali Fabio ada disini, sekalian saja Lucia bicarakan.
__ADS_1
"Emm... Kak, makasih buat martabaknya tadi malem" ucap Lucia.
Fabio mengerutkan keningnya, apa yang sedang dibicarakan oleh wanita ini? Fabio ingat betul ia tidak mengirimi apapun kepada Lucia atau siapapun itu tadi malam.
"Aku... Gak pesan apa-apa tadi malam" jawab Fabio jujur.
Sontak keduanya berperang dalam pikiran masing-masing, pengakuan Fabio membuat Lucia tercenung sesaat.
"B-bukan dari kakak?" Lucia mengulang, dalam sekejap kebahagiaan itu pudar, bersamaan dengan fakta yang didengar.
Bukan hanya Lucia, Fabio pun mengalami serangan keabsahan yang diterima oleh perempuan ini. Ada seseorang yang memberikan Lucia bukti perhatian, dan itu membuat Fabio amat merasa terganggu.
Suara mobil yang mendekat mengalihkan tatapan keduanya.
Ghani turun dari mobil, ia melihat jika Lucia sedang membincang dengan seorang lelaki muda disana, dan lelaki itu menatap datar kepadanya.
"Lucia, sudah waktunya pulang" tutur Ghani.
Spontan Lucia melirik ke arah Fabio, sangat haruskah peristiwa ini ditunjukkan di hadapan Fabio? Lucia sungguh berat hati.
"A-aku.... Pamit pulang kak" Lucia melangkah menjauh dari sisi Fabio, masuk kedalam kendaraan hitam disana.
Sesaat kedua pria itu saling adu tatap, seolah mengibarkan bendera permusuhan, ada sorot tak suka dari kedua laki-laki tersebut.
Sebelum akhirnya mobil Ghani menjauh dari sana.
__ADS_1