
Semenjak itu, jantungku seolah tertinggal di kamu.
Jauh darimu seperti tenggelam dalam lautan berjam-jam.
Tak ada yang lebih aku inginkan selain berdekatan dengan engkau.
Menciptakan kisah sederhana kita yang mungkin tak bisa aku lupakan.
Memiliki mu mungkin cuma sekedar angan, tapi waktu denganmu selalu ingin aku ulang.
"Makasih kak udah anterin aku" sambil sibuk melepas helm di kepala.
"Sama-sama, lain kali kita harus banyak-banyak healing kayak gini"
"Kakak mau ajak aku lagi?"
"Mau dong, tapi lain kali kamu yang nentuin tempatnya"
"Tapi aku gak tau tempat di sekitar Jaksel"
"Cari aja di internet, kan banyak" Fabio tak kehilangan akal.
Lucia tak menanggapi, tangannya sedari tadi sibuk melepas tali helm yang menyangkut.
"Napa sih?" Mulai menyadari keruwetan Lucia.
"Talinya gak mau lepas, kak"
"Coba sini, biar aku yang buka" menarik lengan Lucia supaya mendekat.
Fabio pun mulai melepaskan kaitan helm yang macet tersebut.
Jarak yang hanya sejengkal itu membuat Lucia menahan nafasnya kuat-kuat, debaran jantung pun ikut berdebar kencang. Tak pernah ia melihat Fabio dari jarak sedekat ini, ketampanannya makin tampak dengan jelas, dan itu menciptakan rona merah di sekitar pipi Lucia.
Tampan sekali!
Mata Lucia pun tak berkedip sama sekali, seolah tak ada yang lebih indah dipandangi selain lelaki sempurna ini.
Alis tebal, mata tajam, serta bibir dengan lengkungan yang pas ada dalam satu wajah seorang Fabio.
"Udah!"
Seruan Fabio menyadarkan ketakjuban perempuan itu, buru-buru Lucia menjauhkan tubuhnya.
Benda yang menempel di kepala pun sudah ia lepas, Lucia berikan pada si pemilik.
"K-kakak...... M-mau mampir dulu?"
__ADS_1
Hahhh.... Bicara apa sih dia?! Lucia mengumpat dirinya sendiri, kenapa malah menawari Fabio mampir segala sih? Mereka kan sudah berbarengan terus dari tadi? Masih saja menawarkan laki-laki ini masuk ke rumahnya.
"Emang boleh? Ini udah mau sore, lho"
Lucia gelagapan, kesannya ia mau mencuri waktu lelaki ini sebanyak mungkin.
"Y-ya terserah kakak, m-mungkin aja kakak capek nyetir motor dari tadi. Jadi ya.... Siapa tau kakak mau istirahat dulu"
"Sebenernya sih mau, tapi..... Lain kali aja deh" memutuskan untuk tidak singgah dulu.
Lucia manggut-manggut, untuk hari ini waktu kebersamaan mereka cukup sampai menjelang sore. Masih ada hari esok, tapi itu tak menjamin mereka bisa menghabiskan waktu bersama lagi.
"Aku pulang sekarang ya, hati-hati di rumah"
"Kakak juga, hati-hati dijalan"
Mesin motor sudah Fabio nyalakan, kini ia hanya perlu pergi dari halaman rumah Lucia.
"Besok kuliah jam berapa?"
"Jam sepuluh"
"Sama dong, aku jemput ya?"
"Eh, gak usah kak"
Lucia menunduk sambil merangkai kalimat, ia tak mau terkesan menyalahkan orang lain.
"Nyonya pasti curiga kalau aku keseringan diantar jemput sama kakak"
Kening Fabio menekuk, menimbulkan lipatan di area itu.
"Kenapa? Emang dia ngelarang kamu?"
"Emm... Gak juga sih. Cuma ngingetin aja supaya aku tau batasan, aku kan.... Masih berstatus istri orang"
Merasa ditampar kenyataan, Fabio memejamkan mata beberapa saat. Memang betul, tak ada yang salah dari ucapan si Nyonya tersebut. Hanya saja Fabio seakan belum bisa menerima.
"Beneran besok gak bisa bareng? Padahal cuma anterin doang, posesif amat sih dia. Suaminya aja gak ngelarang kok, bener gak?"
"Emm... Gimana kalau pulangnya aja kak?"
"Ya udah, aku usahain pulangnya udah standby di depan gedung fakultas. Biar kamu gak ngambek lagi kayak tadi" Fabio mengingatkan kejadian itu.
Lucia melotot, bisa-bisanya ngungkit masalah yang sebenarnya beda aliran ini.
"Apaan sih! Udah ah sana, cepet pulang!" Tak mau Fabio curiga, jika lelaki ini terus berada di dekatnya bisa-bisa Lucia keceplosan dan membuat Fabio tau penyebab Lucia kesal sewaktu di perpustakaan.
__ADS_1
"Idihhh gitu aja ngambek, sensi amat emang bumil satu ini"
Lucia makin memajukan bibirnya ke depan, meski salah paham namun Fabio selalu berusaha memperbaiki apa yang dia rasa salah.
"Ya udah sampai ketemu lagi besok, bye" ucap Fabio sebelum akhirnya ia benar-benar berlalu dari sana.
Seperginya Fabio Lucia langsung menampilkan senyum yang ia sembunyikan.
"Bye kak, tetap seperti ini. Jangan berubah"
***
Akulah bumantala sang pengagum cakrawala.
Bumantala yang selalu nestapa, karena tidak bisa berkecumbu dengan sang pujaan hati.
Bahkan asaku begitu ingin menggapai cakrawala yang jauh nan tinggi.
Tapi nyatanya kita terlalu nengkara untuk asmaraloka.
Karena kita adalah sebuah enigma dan tidak akan pernah menjadi amorfati.
(Bella Tiara)
Senja menyambut lagi, menampakkan keindahannya yang terasa hangat namun memilukan bagi seorang lelaki muda yang berdiri tepat di ujung jembatan panjang.
Memasukkan kedua lengan di saku celana sambil memandang lurus seolah mencari seseorang yang tidak mungkin akan kembali, hanya bisa ia kenang dalam memori lama di dalam otaknya.
Perasaan hampa menguasai pemuda itu, namun detik kemudian hatinya seakan tercabik-cabik ketika melihat sebatang kayu yang mengapung di atas air bergelombang tenang.
Fabio menapakkan kaki di atas jejeran kayu yang saling bergandengan, ia langsung pergi kesini, ke tempat yang selalu ia singgahi semenjak terakhir kali.
Awan kuning keemasan yang menandakan matahari akan segera terbenam.
Tidakkah dulu ia kemari seusai melewati hari-hari sulitnya? Tapi kini, berbeda lagi.
Fabio datang sesudah melewati hari yang dia nanti-nanti.
"Mentari, bolehkah sekarang aku membuka lembaran baru?"
Secuil perasaan bersalah masih tersangkut di ujung hatinya. Merasa mengkhianati seseorang yang telah mati, sebab perasaannya perlahan mulai berpaling.
Menemukan jati diri kembali pada wanita yang sebenarnya tak mungkin dia dapati. Tapi setidaknya, itu bisa menyembuhkan kegilaan ini.
Apa yang aku lakukan sudah benar? Apa sebenarnya mau Tuhan? Mendatangkan perasaan yang selalu terlarang.
"Aku bisa gila lagi" lirih Fabio bergumam.
__ADS_1