
Diantara hari-hari yang telah ku jalani, hari ini aku benci lagi.
Dihadapkan pada kenyataan dan statusku kini.
Bersembunyi di lubang semut pun tak bisa menghindari ku walau sedalam apapun itu.
Kini, aku bertapak kaki di lorong sepi.
Sang supir memberitahu Lucia dimana kamar inap Ghani berada, ruang VIP menjadi tujuan Lucia menyeret kakinya yang seakan di kalungi rantai besi.
Pintu lift terbuka di lantai tiga, Lucia keluar kemudian masuk ke sebuah ruangan khusus kamar inap VIP berada.
Pintu nomor 15 itu seakan menjadi neraka bagi Lucia, diketuknya pembatas tersebut.
Clekkk
"Akhirnya kamu datang juga Lucia" Jihan sumringah mendapati Lucia disana, orang yang ia tunggu akhirnya tiba.
"Masuk, Lucia. Mas Ghani lagi tidur di dalam"
Dan disinilah Lucia berada, kamar yang melebihi tempat uji nyali. Lucia bisa melihat sang pasien yang terbaring di atas brankar dengan selang infus yang menggerogoti tangannya.
"Nyonya janji cuma sebentar? Berapa menit?"
"Mungkin dua jam, kamu tau kantor ku cukup jauh kalau dari rumah sakit ini"
Dua jam??? Satu menit pun rasanya tersiksa apalagi saat Jihan tidak ada, Lucia seolah tak memiliki tameng.
"Kalau kamu bosan dan ingin cemilan tinggal ambil aja di atas meja itu, aku udah siapkan untuk makan siang kamu juga"
"Aku berangkat sekarang ya" Jihan mengambil tas luxury nya dan keluar dari ruangan itu.
Lucia merasa tubuhnya menegang, seakan ada pedang tajam yang membentang di belakang punggungnya.
Lucia mendudukkan diri di atas sofa, ruang senyap itu membuat deru nafas Ghani terdengar menggelegar.
Lima belas menit kamar tersebut dikuasai keheningan, sampai dimana Ghani perlahan membuka mata.
"Minum!"
Lucia mengangkat kepalanya, Ghani sudah bangun? Sepertinya perintah itu ditunjukkan padanya.
Lucia bangkit, menuangkan air putih dari botol besar ke dalam gelas.
Tangannya bergetar menyerahkan benda itu kepada Ghani.
Dengan sedikit tenaga yang tersisa Ghani mengangkat kepalanya dan meneguk air putih itu. Lalu membaringkan kembali tubuhnya seperti semula.
__ADS_1
Setelah menyimpan gelas, Lucia duduk lagi di atas sofa. Ia pikir Ghani tidur lagi, namun ternyata tidak.
"Bagaimana bayinya?" Seru Ghani.
Lucia menegang! Ghani bertanya seputar bayi ini? Tak pernah sebelumnya pria itu ingin tau tentang keadaan janin yang dikandung Lucia.
Apakah hanya sekedar basa-basi? Tapi Ghani bukan tipe yang seperti itu.
"Baik" lirih Lucia.
"Jaga bayi itu, Jihan sangat menginginkannya" lanjut Ghani.
Untuk pertama kalinya Lucia merasa sedikit perih mendengar perkataan itu, hatinya seperti tercubit sehingga menimbulkan nyeri. Mungkinkah Lucia sudah mulai memiliki rasa kasih sayang kepada bayinya sendiri?
"Ya, Tuan"
Tangan kecil Lucia membelai perutnya yang menonjol, ada makhluk di dalam sini... Yang sedari awal Lucia anggap sebagai suatu musibah yang menjerat dirinya dalam keterpurukan.
Tapi kenapa sekarang ada keinginan untuk melindungi calon bayi ini? Apakah jiwa keibuan Lucia mulai tumbuh?
Pintu terbuka, penampakan seorang perawat wanita yang membawa troli dengan makanan di atasnya.
"Dengan bapak Ghani, ini makan siangnya pak. Mohon dimakan sekarang ya mumpung masih hangat"
Setelah meletakkan makan siang perawat itu lantas kembali keluar untuk memberikan makan siang bagi pasien yang lain.
Huftttttttt.... Sepertinya memang aku harus membantunya, tak boleh ku biarkan pria itu mati, demi kelangsungan hidup si jabang bayi.
Lucia berdiri lagi, mengambil mangkuk berisikan bubur ala rumah sakit.
Kemudian menggeser kursi tunggal agar lebih dekat dengan ranjang pasien, Lucia duduk disana.
"Tuan.... H-harus makan"
Ghani menatap Lucia dengan ujung ekor matanya, inikah remaja yang sedang mengandung darah dagingnya? Pertemuan mereka bahkan bisa dihitung dengan jari, Ghani masih tidak percaya menanamkan benihnya pada perempuan yang tidak ia kenali.
"Tolong benarkan posisi ranjangnya dulu"
Lucia melakukan permintaan Ghani, ia menaruh lagi mangkuk tersebut dan menaikkan posisi ranjang agar kepala Ghani sedikit terangkat.
Setelah itu Lucia mulai menyuapi sang suami, sedikit demi sedikit, Ghani tak menolak suapan tangannya, meski suasana sangat amat canggung.
"Aku sudah kenyang"
Tangan Lucia yang terangkat di udara kembali ditariknya.
Ia pun tak bisa memaksa apalagi membujuk seorang Ghani, tak lupa Lucia menyodorkan air minum lagi.
__ADS_1
"Kau...."
Langkah Lucia terhenti ketika mendengar seruan Ghani.
Ghani memalingkan muka ketika kata-kata diujung lidahnya tertahan.
"Makanlah juga" sambungnya.
"Nanti aja, belum lapar" kata Lucia.
"Jangan menunda, bayi itu bisa kelaparan" sahut Ghani dengan cepat, dipandanginya punggung Lucia.
"B-baik" Lucia mengalah, ia tak ingin Ghani terpancing amarah akibat dirinya. Lebih baik menuruti kemauan pria satu ini.
Lucia membuka kotak nasi yang memang disediakan untuknya, makanan daerah yang tampak lezat, tapi sayangnya kurang menggugah selera Lucia karena perutnya belum keroncongan.
"Kau tak mau?"
"Bayi itu menginginkan makanan lain?" Tanya Ghani melihat ekspresi istri keduanya.
"A-aku mau kok"
Lucia membuka plastik berisikan garpu dan sendok, ia pun mulai memakannya sebisa mungkin.
Ghani menelisik dari jauh, bola matanya terfokus pada perut Lucia yang membesar.
Tidakkah dia keberatan membawa beban di perutnya? Apa yang dilakukan Lucia ketika perut itu kesakitan? Tak ada yang mengelus perutnya saat malam.
Pernahkan bayi itu meminta untuk bertemu dengan ayahnya?
Kenapa Tuhan tidak menitipkan anak itu di rahim Jihan saja? Kenapa harus pada anak remaja yang usianya terpaut 12 tahun dengannya?
"Apa kau pernah mengidam?"
Kunyahan Lucia tertahan di mulutnya, sejak kapan pria ini jadi suka bertanya? Apakah sakit membuat otaknya kembali berkerja?
"K-kayaknya.... Pernah"
"Sepertinya makan mu baik akhir-akhir ini" Ghani berpendapat, menilai bentuk tubuh Lucia yang tidak sekurus saat terakhir kali bertemu.
Lucia bertanya dalam hati, benarkah begitu? Apa dirinya terlihat gendut? Lucia akui jika nafsu makannya bertambah sebab Fabio sering menawarkan ini dan itu, apalagi tadi malam mereka menghabiskan dua box martabak spesial.
"Bayi itu tidak mengganggu kuliah mu?" Tanyanya lagi.
Lucia menggeleng, "Enggak, dia bayi yang pengertian"
Ghani mengangguk, tiba-tiba hatinya berkecamuk memikirkan bayi itu, apakah dia juga mulai tertarik pada bayinya meski bukan berasal dari rahim Jihan?
__ADS_1