Lucia, Pesona Maba Hamil

Lucia, Pesona Maba Hamil
Tokoh Ketiga


__ADS_3

Embun pagi itu masih terlihat, berterbangan bagaikan asap yang mengepul dengan lebat.


Dinginnya udara membuat pori-pori kian menutup rapat-rapat, bahkan kulit pun enggan berkeringat.


Pagar yang masih terkunci itu membuatnya menunggu cukup lama, sampai seorang penjaga datang dan membuka penghalang besi, kemudian mempersilahkan tamu tersebut masuk.


Langkah jenjang itu berjalan melewati nama-nama yang terkapar di atas tanah, aroma bunga yang dibawanya menyegarkan seisi halaman yang sepi.


Hingga kedua kaki itu menepi di depan sebuah batu nisan yang cantik.


"Mentari, aku datang lagi"


Dia berjongkok, memberikan buket bunga segar yang ia beli di toko tanaman. Bunga matahari sesuai dengan warna kesukaannya yaitu kuning, juga sangat cocok dengan nama yang tersemat...


...RIP...


...MENTARI MAHESWARI...


Bahkan ketika raganya sudah tak bernyawa, aura nya masih bersinar dengan terang, tak ada yang bisa memusnahkan pancaran itu, hidup atau mati sekalipun.


"Maaf, baru bisa datang lagi" lanjut lelaki muda itu, termenung sambil menatap gundukan tanah yang sudah mengering.


"Ada seseorang yang sudah merebut waktuku untuk kamu, dia butuh aku...."


Tak ada sahutan, tapi ia tetap berbicara mencurahkan semua cerita yang terkumpul di dalam jiwa.


"Aku tidak mau mengulang kesalahan yang kedua kali, sudah cukup kamu yang aku sia-siakan pergi"


Kejadian kemarin membuatnya banyak berpikir, jalan mana yang harus ia pilih, jalur mana yang harus ia tempuh supaya apapun hasilnya adalah yang terbaik.


"Dia sudah memiliki pasangan, tapi aku tau tidak ada cinta didalamnya"


"Dia ketakutan saat mendengar namanya, tak ada raut kebahagiaan yang dia tunjukkan. Tapi kemarin...."


Sekuat hati ia meyakinkan diri kalau itu cuma kebetulan, bukan kemauan.


Lelaki itu punya hak, dia masih berstatus suami juga ayah untuk si calon bayi. Pasti ada hal yang harus mereka lakukan terkait bayi itu.


"Maka dari itu aku ingin selalu ada disisinya, tapi mungkin tidak untuk kemarin"


Kenapa Tuhan menempatkan hati ini untuk seseorang yang sudah dimiliki orang lain? Untuknya ini sangat menyakitkan, tapi tentu tanpa ia ketahui Tuhan menjadikannya sebagai penyembuh untuk luka sang wanita.


Wanita yang penuh derai air mata, luka batin yang menganga, serta derita yang selalu menimpa.


"Apa tindakan ku sudah benar? Aku ingin membahagiakannya, disaat ia masih menjadi milik orang lain"


"Dan orang lain itu, kini mulai memperhatikannya"

__ADS_1


Pertanda apa ini? Padahal sudah banyak rencana yang ia susun untuk membuat cerita mereka berdua, tapi tiba-tiba saja kemunculan tokoh ketiga perlahan mengikis pelaksanaan itu.


"Tidakkah aku akan bahagia jika merebut milik orang? Tapi apakah bayi itu juga akan senang? Tentu dia juga ingin ibu dan ayahnya bersatu"


Bimbang, bingung, resah bercampur dalam detik yang sama.


Ia akan memberikan apa yang bisa Ia lakukan, tapi ia tak mau ada korban, calon bayi itu bisa lahir dari sebuah keegoisan cinta disekitarnya.


Kabut mulai memudar, diiringi terang yang semakin benderang. Hawa pun kian menghangat, sunyi perlahan hilang akibat keramaian.


Membuat ia membuka tutup botol minum dan menyirami tanah yang berbau melati, sudah waktunya ia pergi.


"Aku pamit, doakan aku Mentari"


***


Lucia menunggu jemputan di teras rumah, ia sengaja berdiri di luar supaya ketika Ghani datang mereka bisa langsung berangkat.


Lucia tidak mau jika pria itu masuk ke dalam rumahnya dulu untuk menunggunya bersiap.


Maka dari itu ia sudah stand by di depan.


Brum...


Deru mobil Ghani mendekat, berhenti tepat di depannya. Sang pemilik kendaraan pun turun dengan pakaian formal yang selalu melekat.


"Baru kok" jawab Lucia singkat.


"Sudah sarapan?"


Lucia mengangguk, "Udah"


"Masuklah, duduk di kursi depan" Ghani menitah, kali ini tidak membukakan pintu seperti kemarin.


Keduanya masuk bersamaan, mereka langsung melaju ke kampus pukul setengah sembilan, tak terlalu pagi seperti saat kemarin.


"Hari pulang jam berapa?" Tanya Ghani memecahkan keheningan.


"Jam sebelas, hari ini cuma ada satu kelas" balas Lucia.


"Kalau begitu gitu aku bakal menunggu saja di kampus sampai jam sebelas"


Sontak Lucia menoleh pada Ghani, diantar saja sudah sangat keberatan apalagi harus ditunggu sampai dua jam.


"Tapi Tuan harus kerja" berusaha menggagalkan rencana Ghani.


"Aku bawa laptop, nanti aku tunggu di dalam mobil saja. Dari pada harus bulak balik lagi"

__ADS_1


"Kalau gitu aku bisa pulang sendiri kok, atau... Bisa nebeng ke teman juga"


Ghani melirik sesaat pada Lucia, tersenyum miring seakan membaca isi pikiran wanita di sebelahnya ini.


"Jangan khawatir, dua jam tidak akan terasa lama. Aku akan tetap melakukannya"


"Tapi...."


"Jangan menghindar, aku sudah susah payah bersikap seperti ini" Ghani menyela.


Seketika Lucia tidak berani menyahut, ia pun memilih diam dan membiarkan Ghani melakukan apa yang dia mau.


Tiba di kampus sontak mereka jadi pusat perhatian lagi, khususnya mahasiswa-mahasiswi yang berada di sekitar gedung ekonomi. Semua orang menatap ke arah pasangan suami-isteri tersebut.


"Tuh tuh tuh! Apa gue bilang, suaminya cakep banget coyyyy" Dinsa dan para sohibnya mengosipkan Lucia.


"Masih gantengan Fabio menurut gue" Kean berkomentar.


"Tapi belum tentu Fabio udah seumuran itu masih tetep ganteng, iya gak Nad?" Menyikut Nada yang juga melihat momen tersebut.


"Kalau udah cakep dari lahir mau gimana pun bakalan tetep cakep, Din. Yakin deh gue" tak mengiyakan opini teman perempuannya, sebab dimatanya Fabio tetap lelaki tertampan yang ia kenal.


Dinsa memutar bola mata malas, salah memang bertanya pada mereka.


Sedangkan Fabio yang juga berada disana hanya diam membiarkan orang-orang di sampingnya berceloteh, ia hanya terfokus pada wanita yang baru saja keluar dari kendaraan beroda empat itu.


Untuk kedua kali Fabio disuguhkan lagi pemandangan itu, interaksi antara Lucia dan juga Ghani terjadi.


Wajah datar yang Fabio tampilkan berbanding terbalik dengan apa yang ia rasakan di dalam hatinya.


Apalagi ketika Ghani memberikan botol minum kepada Lucia, terlihat lelaki itu nampak sangat perhatian.


"A-apa ini, Tuan?"


"Air mineral, kamu harus banyak minum. Apalagi di dalam kelas otak kamu bekerja sangat keras, aku tidak mau bayi itu jadi tegang"


Lucia menatap benda tersebut, sebelum akhirnya ia mengambilnya.


"Makasih..." Cicit Lucia.


Ia pun berbalik untuk masuk ke gedung fakultas.


Disaat Lucia tengah menaiki tangga, tak sengaja ia melihat sosok Fabio yang sedang berkumpul bersama teman-temannya, mereka semua menatap ke arah Lucia tapi yang Lucia sadari cuma Fabio.


Kedua manusia itu saling bersitatap beberapa saat.


Ingin sekali Lucia menghampiri, tapi masih ada Ghani yang menunggunya serta teman-teman Fabio disana, membuat Lucia mengurungkan niat tersebut.

__ADS_1


Ia pun melanjutkan langkahnya dan masuk ke dalam kelas.


__ADS_2