Lucia, Pesona Maba Hamil

Lucia, Pesona Maba Hamil
Chef Ghani


__ADS_3

Ghani tetap duduk di sofa sampai Lucia selesai mengganti pakaian, waktu sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh, dan Ghani masih belum terlihat tanda-tanda akan pulang.


Clekkk


Lucia keluar dari kamar, dari wajahnya sangat menampakkan kebingungan, kikuk harus apa sekarang, dan karena itu Lucia masih berdiri di ambang pintu.


"Kemarilah" titah Ghani menepuk sofa disampingnya.


Sesaat Lucia ragu, tapi kakinya melangkah pelan-pelan ke situ, bukan di samping Ghani, melainkan Lucia memilih duduk di sofa tunggal yang agak berjarak.


Ghani menghela nafas ketika permintaannya tidak diidahkan, tetapi ia tak mau protes hanya karena hal itu.


"Mau makan malam sama apa? Biar aku beli lewat aplikasi" tanya Ghani.


Lucia berpikir keras, ia sebenarnya kurang suka makanan yang di jual online, menurutnya terlalu mengutamakan penampilan dibandingkan rasa.


"Aku mau beli makanan biasa dekat sini aja, aku biasa beli disitu"


"Jam segini memang masih buka?"


Ah, benar juga! Tempat makan saji itu sudah pasti tutup atau kalau tidak makanannya habis tak tersisa.


Tak kunjung menjawab, Ghani pun berseru kembali.


"Kamu sedang mau makanan rumahan?"


Dan Lucia mengangguk cepat.


"Mau makanan seperti apa? Biar aku buatkan yang simpel-simpel"


"Tapi gak ada stok bahan di kulkas, aku belum.."


"Sudah ada, aku udah beli tadi"


"Hah?" Lucia ternganga mendengar pernyataan Ghani, pria itu membeli stok dapurnya? Kapan dan kenapa dia tau isi kulkasnya kosong?


"Ken...."


"Stop! Jangan tanya kenapa" Potong Ghani mengacungkan jari telunjuk ke depan.


Pria itu mencondongkan badan dengan siku yang bertumpu pada paha, menatap intens Lucia dengan mata tegas tersebut.


"Dengar Lucia, mulai sekarang aku akan selalu ikut campur dalam urusan mu, apalagi saat masa-masa kau hamil tua begini, aku sadar ini adalah tanggung jawab ku terhadap mu dan calon anakku. Jadi semua yang bersangkutan dengan mu maka akulah penanggungnya, dari hal kecil sampai besar aku yang akan mengurus semua itu" ucap Ghani panjang lebar, terdengar sangat serius dan tak menerima bantahan, membuat Lucia tak berani menimpal.


Setiap Ghani berbicara dengan nada seperti ini Lucia masih menciut, bayangan kekejaman Ghani masih terngiang-ngiang dan membuat Lucia bersugesti kalau-kalau pria ini akan melakukan hal yang sama jika dirinya menolak.

__ADS_1


Maka dari itu Lucia memilih diam.


"Aku bisa buatkan nasi goreng, sup, atau... Semacam oseng-osengan. Kamu bilang saja mau dibuatkan apa"


Rupanya Ghani mempunyai keahlian dalam memasak, Lucia tidak menyangka orang sibuk seperti Ghani bisa melakukan pekerjaan tersebut, terlebih Ghani adalah laki-laki.


Tapi meski berbakat memasak, belum tentu juga rasanya enak kan?


"Aku bingung mau makan apa, yang ada aja di kulkas" kata Lucia memutuskan.


"Baiklah, aku siapkan dulu kalau begitu" Ghani bangkit dan berjalan menuju dapur.


Lucia hanya menatap punggung pria yang perlahan hilang dilahap tembok, masih tak percaya ia ada dalam satu ruangan lagi dengan lelaki yang berstatus suaminya.


Padahal Lucia sudah berusaha supaya Ghani tidak pernah menginjakkan kaki ke dalam rumah ini, tapi apalah daya, keadaan tak bisa mendukung Lucia.


Apalagi sekarang Ghani bertekad untuk selalu memperhatikannya, dan mungkin ke depannya ia akan sering bertemu dan berurusan dengan orang ini.


Dan juga, waktu yang ia habiskan bersama Fabio akan berkurang, itulah yang paling Lucia takutkan dari semua masalahnya.


***


Aroma harum dari dapur menyita perhatian Lucia, ia jadi penasaran seperti apa masakan yang dibuat oleh Ghani, benarkah pria itu bisa melakukannya?


Lucia mengintip aktivitas Ghani di dalam sana, pria itu benar-benar melakukan kegiatan sesuai ucapannya.


"Kemarilah, jangan cuma berdiri disitu" seru Ghani tetap membelakangi Lucia.


Lucia tersentak saat dirinya tertangkap basah sedang mengamati Ghani secara sembunyi-sembunyi, darimana pria itu tau dirinya disini? Jangan-jangan Ghani punya indera ke-enam.


"Aku bisa melihat mu, duduklah di meja makan, sebentar lagi masakannya jadi" titah Ghani.


Karena sudah terlanjur ketahuan Lucia pun masuk dan duduk di meja makan sesuai arahan suaminya, dengan sabar ia menunggu sambil sesekali melirik ke arah pria yang masih bergulat dengan alat dapur.


Ghani mengambil beberapa benda seolah dia sudah sangat mengenal ruangan ini, bahkan tanpa bertanya pada Lucia.


Lima menit kemudian makanan siap di hidangkan, dua menu berbeda untuk malam ini, dibuat langsung oleh keahlian tangan Ghani, tidak tau apakah cocok di lidah Lucia namun Ghani sudah melakukan yang terbaik.


"Silahkan dimakan, mumpung masih hangat"


Nampak sangat menggugah selera, meski masakan sederhana tapi mampu meneteskan air liur.


Lucia tak mau jaim-jaim kali ini, ia mengambil centong nasi begitu pula lauknya. Mulai melahap hasil masakan Ghani.


Ghani menunggu dengan gelisah, seolah masakannya akan dinilai oleh juri dalam ajang perlombaan.

__ADS_1


Namun melihat Lucia yang terus melahap tanpa berkomentar apa-apa membuat Ghani penasaran.


"Apa enak? Ada yang kurang dari makanan itu?"


Lucia menggeleng dengan mulut penuh, "Ini enak"


Senyum merekah di bibir Ghani, ia lega jika Lucia suka. Dan mungkin bayinya pun akan menikmati hidangan tersebut.


"Makanlah yang banyak, aku akan menunggu di luar" Ghani yang sudah bangkit terhenti ketika Lucia bertanya.


"Tuan Enggak makan?"


"Tidak, kamu habiskan saja"


"Mana bisa, tuan masak dengan porsi yang banyak. Aku gak mampu habiskan"


Ghani bergeming sejenak, mungkinkah itu kode supaya mereka bisa makan bersama? Sepertinya Lucia ingin makan malamnya ditemani seseorang.


"Baiklah, aku akan ikut makan" Ghani mengambil satu piring lagi untuknya, kemudian kembali duduk dan turut makan malam dengan Lucia.


Lucia tak mempermasalahkan itu, ia tidak enak hati pada Ghani karena sudah capek-capek membuatkannya masakan yang ia mau, lagipula sayang kalau makanan ini tidak dihabiskan, tidak bisa dihangatkan pula untuk besok pagi.


Dan ini adalah momen pertama keduanya makan bersama, sebelumnya mana pernah, apalagi di tempat tertutup, jika Jihan mengajak pun Lucia dan Ghani selalu menolak.


"Kamu bisa memasak?"


"Sedikit, tapi gak pandai"


"Biasanya masak apa?"


"Daging ayam, tahu, pokonya yang mudah-mudah. Yang aku pelajari dari resep masakan ibu" jawab Lucia.


Mendengar itu Ghani jadi teringat mertuanya, Lucia pasti rindu dengan sang ibu. Sudah lama Lucia tidak bertemu dengan wanita yang telah melahirkannya itu, bahkan ketika masih di rumah aslinya, Lucia jarang bertemu karena sang ibu bekerja di Bandung.


"Kamu yakin gak butuh teman disini? Aku bisa carikan kamu pembantu sekaligus untuk membantu kamu disini"


Tetapi Lucia menolak dengan cepat, "Aku gak mau, aku nyaman sendiri. Kalau urusan rumah aku bisa mengurusnya"


"Tapi kehamilan kamu semakin besar, harus ada yang memantau 24 jam"


"Gapapa, aku bakalan hati-hati kok" tetap bersikeras.


Ghani masih ragu dengan itu, meski Lucia menjaga diri sebaik mungkin bisa saja ada orang diluar sana yang berbuat jahat dan tidak kenal kasihan. Itu akan mengancam nyawa ibu dan bayinya, Ghani semakin gundah gulana.


"Haruskah sesekali aku menginap?"

__ADS_1


__ADS_2