Lucia, Pesona Maba Hamil

Lucia, Pesona Maba Hamil
Langit Malam Yang Berwarna Biru


__ADS_3

Kemana kamu? Disini aku menunggu.


Dalam sepi, diri mu hanya muncul dalam mimpi.


Tidakkah kamu merindu? Datanglah, ayo kita bertemu.


Nyatanya aku sendiri lagi, ketika orang itu telah pergi.


Kini kesempatan mu, tunjukkan bahwa kamu selalu ada untuk aku.


Langit biru, aku merindukanmu...


Malam Minggu kali sungguh terasa sunyi, tidak seperti malam Minggu kemarin yang indah diiringi penampakan kota yang ia lihat bersama dengan seseorang yang selalu mengajaknya pergi.


Mungkin malam ini, ia akan sendiri lagi.


Teman-teman kelas bercengkrama di grup WhatsApp, sebagian besar dari mereka tengah menentukan tempat nongkrong yang asyik untuk dikunjungi malam ini.


Beberapa teman merekomendasikan cafe yang sedang hits bulan ini, tempatnya InstagramAble dan cocok dijadikan tempat berkumpul anak-anak muda.


Enak sekali mereka, bisa bebas pergi tanpa takut dipandang aneh oleh orang-orang sekitar, menikmati masa muda yang tidak akan pernah terulang kembali.


"@Lucia mau ikut?"


"Emang boleh ya? Suami kamu ngizinin pergi malem-malem @Lucia?"


"Ya siapa tau bisa, kita kan gak pernah main sama dia"


Lucia membaca pesan yang diajukan kepadanya, bahkan mereka pun merasa aneh kalau dirinya ikut bergabung, wanita hamil sepertinya akan selalu berada di tempat berbeda.


Lucia pun mengetik untuk membalas pesan teman-temannya.


"Maaf aku gak bisa ikut, mungkin lain kali"


Sebuah pesan singkat yang Lucia kirim sebelum ia mematikan ponselnya, terlentang sambil menatap langit-langit kamar yang berwarna putih bersih.


Lucia menghela nafas panjang, tidak ada hal yang lebih membosankan daripada hidupnya. Lucia berani bertaruh.


Jam masih berada dalam angka tujuh, suara-suara kendaraan masih ramai melintasi jalanan, bahkan bunyi klakson itu membuat Lucia iri.


Drtttt.... Drtttt....


Getar ponsel menyala, menandakan ada panggilan masuk untuknya.


Dengan malas Lucia mengambil lagi gawai tersebut.


'Kak Fabio Calls'


Seketika Lucia melotot melihat siapa yang menelpon dirinya, Fabio? Benarkah lelaki itu menghubunginya? Aaaaa.... Tiba-tiba jantung Lucia terasa berdebar, ia ragu untuk mengangkat panggilan itu.


Lucia membiarkan telponnya berhenti sendiri, sampai panggilan kedua barulah Lucia menggeser tombol hijau di layar handphone nya.


"H-hallo....." Rasa gugup menyertai Lucia.

__ADS_1


Sesaat tidak ada jawaban, membuat Lucia kembali berseru.


"Kak?"


"Dimana?" Balas Fabio dari sebrang sana.


"Hah? A-apanya?" Lucia mendadak lemot, lagian pertanyaan Fabio tidak jelas.


"Kamu dimana?"


"Aku, di rumah"


Tutttt......


Dan panggilan pun terputus secara sepihak, Lucia melongo tidak percaya, apa maksudnya coba? Menelpon dan menanyakan keberadaannya lalu langsung mematikan tanpa berbicara apa-apa.


"Apa sih kak? Gak jelas banget" Lucia merutuki Fabio, padahal Lucia sudah berharap lebih tapi Fabio malah menggantungnya seperti ini.


"Kira-kira dia mau apa? Hufttt.... Aku kan jadi penasaran"


Akhirnya Lucia mencoba menanyakan maksud Fabio melalui pesan, sebab ia tidak bisa menahan rasa penasarannya.


Namun nomor Fabio langsung tidak aktif setelah telepon tadi berakhir.


Hal itu membuat Lucia jadi kepikiran, ia bergulang-guling di atas kasur dengan gelisah, memegang ponselnya sambil sesekali menatap layar untuk mengecek apakah pesannya sudah terkirim atau belum.


Begitu terus selama dua puluh menit, tapi tak ada yang berubah, membuat Lucia akhirnya pasrah.


Dan sepertinya, doa Lucia langsung di kabulkan oleh yang maha kuasa, sebuah motor berhenti di depan rumahnya. Sontak Lucia memandang tak percaya siapa orang yang datang itu.


"Kakak??"


Fabio membuka helm dan menghampiri si pemilik rumah yang entah sedang apa berdiri disana.


"K-kakak ngapain disini?"


"Ngapain? Ya mau malam mingguan lah" jawab Fabio sekenanya.


Jadi ini alasan Fabio menanyakan posisinya? Lelaki ini, mau mengajaknya malam mingguan? Lucia merona membayangkan hal itu.


Aaaaa.... Jangan GeEr dulu, Lucia! Jangan terlalu percaya diri, ingat!


"T-terus kalau mau malam Minggu kenapa kesini? Mau ngajakin aku?" Lucia bersungut.


"Hihhhh.... Siapa bilang? Orang mau ngajakin Dede bayinya jalan-jalan, GeEr banget deh" Fabio mengelak.


"Iya kan dek? Kita jalan-jalan yuk" Fabio membungkuk, mengusap pelan perut besar itu sambil mengajaknya berbicara.


Refleks Lucia mundur ketika tangan Fabio menggelitik bagian itu, rasanya seperti ada gelenyar aneh ketika jari-jari Fabio menyentuh perutnya.


"Kak! Jangan bercanda deh, mana ada bayi belum lahir bisa diajak jalan-jalan. Bilang ajak kakak mau ngajak aku kan?" Cebik Lucia.


Fabio kembali menegakkan tubuhnya, "Ya aku sebenernya agak keberatan ngajak kamu, tapi mau gimana lagi karena bayinya belum lahir jadi harus bawa pabriknya sekalian deh" pura-pura merasa direpotkan.

__ADS_1


Lucia memutar bola mata jengah, jadinya bagaimana? Kenapa harus pakai bahasa yang ribet segala sih, tapi Lucia pun enggan menerima ajakan Fabio sebelum lelaki ini mengajaknya dengan sungguh-sungguh.


"Ya udah mending kakak pulang aja, soalnya bayinya belum lahir" ketus Lucia mengusir secara terang-terangan.


"Kan aku bilang mau bawa pabriknya juga"


"Pabrik apaan, dikira aku tempat kerja kali"


Fabio mengacak-acak rambutnya frustasi, masa begitu saja Lucia tidak peka? Tapi ia harus ekstra sabar menghadapinya, jangan sampai ia gagal lagi menghabiskan waktu dengan wanita ini.


"Ya, maksudnya aku mau ngajak kamu malam mingguan. Mau gak nih???"


"Tuh kan, lagian kakak gak jelas banget ngomongnya" tunjuk Lucia kesal.


"Masa gitu aja gak ngerti? Gak peka banget sih kamu"


"Kok jadi nyalahin aku?!" Setelah dipikir-pikir sepertinya tidak bertemu Fabio lebih baik, karena kehadiran lelaki ini malah membuatnya makin pusing.


"Iya iya enggak kok, ibu hamil marah-marah mulu. Biasanya minta cium nih, sini aku cium" sudah menangkup wajah Lucia sambil memajukan bibirnya seperti orang yang hendak berciuman.


"Ihh kakak! Jauh-jauh...." Lucia panik, khawatir Fabio nekat menciuminya.


"Makanya cepet siap-siap, mumpung masih siangan, biar nanti pulangnya gak terlalu larut"


Meski sempat kesal, tapi Lucia menurut saja dan masuk ke dalam rumahnya untuk mengganti pakaian.


"Jangan lupa pake jaket"


"Iya" teriak Lucia dari dalam.


Tak berselang lama Lucia keluar dengan pakaian yang sudah rapi, tak lupa ia mengunci rumahnya supaya tidak dihinggapi maling, itupun kalau maling tersebut bisa menemukan barang berharga di dalam sini.


"Nah, kalau gini kan cantik"


"Jadi aku gak cantik gitu sebelum ini?"


"Eitss.... Salah lagi, ya cantik lah. Lucia ini mana pernah jelek"


Tapi pujian itu terdengar tidak serius di telinga Lucia.


"Udah ah ayo kita naik"


"Kita mau kemana?"


"Kemana-mana hatiku senang, ya pokoknya jalan-jalan aja dulu kalau ada tempat yang bagus baru kita datengin"


Tak lupa Lucia memakai helm yang disediakan oleh Fabio, setelah itu ia naik ke atas motor tersebut.


"Pegangan"


Lucia pun melingkarkan kedua lengannya di pinggang Fabio, motor pun melaju tanpa tujuan yang pasti.


Rupanya malam ini Lucia tidak sendiri, ada langit biru yang menemaninya menikmati langit hitam di malam Minggu.

__ADS_1


__ADS_2