Lucia, Pesona Maba Hamil

Lucia, Pesona Maba Hamil
Seperti Mengantarkan Anak Sekolah


__ADS_3

"Ayo semuanya kita masuk ke mobil"


Akhirnya pagi hari datang juga, kini mereka semua tengah bersiap-siap mengantar Lucia ke universitas, Jihan yang sudah paling siap, hanya tinggal menunggu dua orang lainnya.


Lucia keluar dari kamar, gadis itu pun telah rapi dengan semua perlengkapan kampus.


"Udah, Nyonya"


"Mas, kamu masih lama? Nanti Lucia bisa telat ke kampus" teriak Jihan memanggil sang suami yang masih berada di dalam toilet.


Ghani buru-buru keluar sambil mengikat ikat pinggang yang belum terpasang sempurna.


"Ayo, aku sudah siap" ajak Ghani.


"Nyonya dan Tuan masuk duluan aja ke mobil, aku mau kunci pintu rumah dulu"


"Oke, cepet mas"


Keduanya pun masuk ke dalam, Ghani yang menyetir sedangkan Jihan duduk di kursi tengah menemani Lucia.


Lucia pun masuk seusai mengunci pintu, selanjutnya mobil melaju menuju tempat Lucia menuntut ilmu.

__ADS_1


"Kayaknya ini baru pertama kali aku dan mas Ghani nganterin kamu ke kampus, ya?" Jihan memecahkan keheningan, ditengah perjalanan yang dihiasi kemacetan wanita dewasa itu yang selalu mencairkan suasana.


"Emm... Mungkin iya" lirih Lucia membalas.


"Kita udah kayak orang tua Lucia aja ya, mas? Aku jadi berasa nganterin anak ke sekolah" Jihan cekikikan, mengantar anak sekolah juga menjadi salah satu list yang belum tercapai baginya. Tapi Jihan bisa merasakan hal itu hari ini, meski yang diantar bukanlah anak-anak.


"Mana ada, mungkin lebih tepatnya seorang kakak yang mengantar adiknya bersekolah" Ghani mengoreksi, terlalu menggelikan karena mereka tidak setua itu untuk disebut orang tua yang anaknya seusia Lucia.


"Hahaha.... Bisa jadi"


Lucia cuma tersenyum masam mendengar interaksi pasangan tersebut, mana ada seorang kakak yang menghamili adiknya? Lebih terdengar menjijikan di telinga Lucia.


"Mas, nanti pulangnya jemput Lucia?"


"Iya, supir kamu juga belum kembali kan?"


"Heem... Dua hari lagi"


Lucia baru ingat jika hari ini ada tugas kelompok, ia tidak akan langsung pulang sehabis jam pelajaran, belum tau juga pukul berapa akan selesai.


"Tapi hari ini aku ada kerja kelompok, belum tau juga jam berapa beresnya. Aku mau minta temen anterin aja, dia bawa mobil juga kok" Lucia menyahut.

__ADS_1


"Tidak masalah, kamu cukup telpon aku kalau sudah selesai. Secepatnya aku akan datang" Ghani tak langsung membiarkan Lucia pulang bersama temannya.


"Kita searah juga kok, cuma dia agak jauhan lagi tempat tinggalnya. T-tuan gak usah repot-repot jemput"


Bisa tidak sih Ghani bilang iya saja?! Toh itu juga akan mempermudah aktivitas Ghani di kantor, kenapa manusia satu ini jadi keras kepala? Merepotkan Lucia saja, bisakah Ghani kembali ke setelan awal?


"Benar juga, mas. Kali-kali biarkan Lucia berinteraksi dengan teman-temannya, kalau kamu enggak mengizinkan yang ada Lucia jadi tidak fokus belajar karena merasa waktunya terdesak oleh kamu, lagipula tempatnya tidak terlalu jauh dari rumah kan?"


Lucia mengangguk cepat, untunglah Jihan selalu berada di pihaknya, karena Ghani akan langsung menurut apa yang dikatakan wanita satu ini.


Ghani mendengus, memang sih kebersamaan dengan teman-teman adalah sesuatu yang sangat menyenangkan bagi remaja belasan tahun. Lucia termasuk orang yang jarang berkumpul, sekalinya kumpul hanya untuk mengerjakan tugas.


"Baiklah, kamu boleh diantar teman mu"


Yessssss!


Lucia bersorak dalam hati, setelah memastikan Ghani tidak akan bertemu dengannya, Lucia bisa bertatap muka dengan Fabio, ia akan mencuri-curi waktu di sela pengerjaan tugas.


Lucia tersenyum cerah sambil menatap ke arah luar jendela, memandang langit berwarna biru yang senantiasa indah.


"Aku gak sabar ketemu kamu, kak"

__ADS_1


__ADS_2