
Pekan ini merupakan hari yang Lucia nanti-nanti, tadi malam ia mendapat telpon jika Ibunya akan datang hari ini.
Lebih cepat dari yang Lucia kira, tapi ia sangat senang dan bahkan terus menanti di ruang tamu dengan pintu yang dibiarkan terbuka.
Di atas meja sudah Lucia siapkan beberapa makanan yang ia beli untuk menjamu sang Ibu yang sedang dalam perjalanan menuju kemari.
Di siang yang terik ini Lucia sudah rapi untuk menyambut seseorang yang paling spesial dalam hidupnya.
Wanita berbaju merah yang membawa dua buah tas di tangannya berhenti tepat di depan rumah sewa Lucia, menengok ke kanan dan kiri seperti mencari sesuatu.
Lucia membolakan mata tatkala melihat wanita yang sangat ia kenal, menatap ragu pada bangunan didepannya.
Lucia berdiri dan bergegas menuju teras, mulutnya terbuka saat benar-benar melihat sosok Ibu disana.
"Ibu!!!"
Suara Lucia mengalihkan perhatian perempuan tersebut, sama seperti Lucia, wanita yang dipanggil Ibu itu terperangah dan menjatuhkan dua barang ke atas tanah, kemudian berlari untuk memeluk sang putri.
"Cia, Ibu kangennnnn......"
"Cia juga kangen Ibu"
Kedua perempuan itu saling berpelukan penuh tangis haru, menumpahkan segala kerinduan yang membangkitkan jiwa emosional yang begitu menggebu-gebu.
"Hiksss.... Maafin Ibu baru bisa jenguk kamu"
Lucia menggeleng di dalam dekapan Ibunya "Gak apa-apa Bu, yang penting Ibu sehat terus. Cia seneng Ibu disini.... Hiksss.... Cia kangen Ibu"
Untuk waktu yang cukup lama mereka terus merangkul satu sama lain, mengeluarkan air mata sampai tetesan terakhir, pertemuan Ibu dan anak yang sangat mengharukan bagi siapapun yang melihat.
Setelah dirasa cukup, mereka mulai mengurai pelukan.
"Perut kamu udah makin besar, bayinya benar-benar tumbuh dengan cepat" ujar sang Ibu mengelus perut buncit Lucia.
"Udah mau tujuh bulan, bu"
"Gak kerasa udah mau trimester akhir aja, kamu sama bayinya sehat kan?"
"Iya Bu, kami baik-baik aja"
Sang Ibu tersenyum haru sembari menangkup wajah Lucia dengan lembut.
"Putri Ibu juga makin cantik aja, wajahnya keliatan cerah gak murung seperti waktu itu" ucapnya menyadari perbedaan Lucia yang nampak ceria dan tatapannya yang tidak sendu lagi.
__ADS_1
Lucia tersenyum mendengar itu, ia sendiri tidak tau sebenarnya apa yang dimaksud cerah oleh Ibunya.
"Kan hari ini Ibu datang, makanya aku keliatan bahagia" ungkap Lucia menyimpulkan.
"Masa sih? Tapi ya udah kalau emang begitu, Ibu juga bahagia sekali hari ini bisa datang menjenguk kamu"
"Ibu pasti capek, kita masuk sekarang yuk Bu. Sini biar Cia bantu Ibu bawa barang-barang nya"
"Gak usah, kamu jangan bawa yang berat-berat" cegah niat Lucia.
"Gapapa Bu"
"Jangan jangan, Ibu gak tenang liatnya" wanita setengah baya itu buru-buru mengambil kembali kedua tas nya sebelum Lucia yang mengambil alih.
Keduanya masuk ke dalam rumah yang Lucia tempati selama sebulan ini, Yuni terpana melihat isi di dalamnya, bahkan rumah ini lebih bagus dibandingkan rumah asli mereka.
"Rumahnya bagus, nak" meski barang-barang masih terbilang sedikit tetapi interior serta lampu-lampu gantung yang terpajang menambah kesan estetika yang menenangkan.
"Iya Bu, rumah-rumah di Jaksel emang kebanyakan bagus-bagus. Tempatnya juga nyaman, gak terlalu jauh kalau ke kampus"
"Ibu makin tenang liatnya, kamu diberi fasilitas yang baik disini"
"Iya Bu, kebutuhan Lucia selalu dipenuhi kok. Ibu tenang aja"
"Oh iya, Ibu bawa pesenan kamu"
Sebuah kue bolu Yuni keluarkan dari dalam tas.
"Nih Ibu bolu susu Lembang nya, Ibu beli tiga rasa sekaligus"
"Wah banyak banget, Ibu pasti berat bawanya"
"Enggak kok, Ibu justru malah pingin beli lima tadinya tapi keburu kehabisan, soalnya Ibu beli kemarin sore sebelum berangkat ke rumah, jadinya yang tersisa cuma tiga rasa ini doang" jelas Yuni panjang lebar, meski begitu ia cukup puas bisa membawakan pesanan yang diminta Lucia.
"Aku coba ya Bu" Lucia berjalan ke dapur untuk mengambil pisau dan juga piring.
Sekembalinya Lucia gadis itu langsung memotong kue tersebut dan melahapnya dengan penuh.
"Emmm.... Enak banget! Makasih Bu"
"Sama-sama, masih enak gak?"
"Masih Bu, mau nyoba yang vanila ah"
__ADS_1
Yuni membiarkan putrinya mencicipi semua varian rasa kue tersebut, melihat Lucia yang lahap ia jadi semakin bahagia, sepertinya Lucia betah tinggal disini.
"Nak, Nyonya Jihan masih suka mengunjungi kamu kesini?"
"Suka kok, Bu. Kalau habis pulang kerja Nyonya pasti datang"
"Syukurlah kalau ada yang mengawasi kamu" Yuni bernafas lega.
Detik kemudian ia teringat sosok pria yang tak lain dan tak bukan adalah Ghani, bagaimana dengan lelaki itu? Masihkah sama seperti dulu? Ketus, cuek, dan menakutkan.
"Kalau suami kamu? Kalian..... Suka bertemu?" Tanya Yuni penuh kehati-hatian.
Kunyahan Lucia memelan, tapi Lucia tetap menjawab dengan jujur.
"Akhir-akhir ini sering Bu, soalnya Tuan yang suka anter jemput aku ke kampus. Waktu malam senin malam juga Tuan dan Nyonya nginep disini, mereka khawatir sama aku soalnya waktu itu hujan petir gede banget"
"Oh ya? Jadi waktu Ibu habis nelpon kamu mereka datang?"
"Iya, pas banget waktu kita udah selesai telponan"
"Dia udah gak menghindari kamu lagi?"
Lucia diam kembali, boro-boro menghindari, kini Ghani jadi lebih protektif kepadanya, harus ini lah harus itulah, bahkan pria itu meminta jika Lucia menghubunginya jika ingin sesuatu.
"Udah enggak, tapi malah kadang suka bikin kesel" kata Lucia, yang mana membuat Yuni kembali cemas.
"Kenapa? Dia masih jahat sama kamu?"
"Bukan itu Bu, sekarang Tuan banyak ngelarang ini itu, katanya demi kebaikan calon bayinya, padahal biasanya juga diem aja, Cia makin pusing denger celotehan dia"
"Ya... Selagi itu memang baik untuk kamu dan bayi kenapa enggak? Mungkin sekarang dia sudah mulai membuka mata, itu juga mungkin insting seorang ayah kepada anaknya, toh bagus kan kalau ada yang memperhatikan kamu" tutur Yuni, rupanya Ghani sudah mulai peduli.
Lucia cemberut, ternyata sang Ibu malah ada di pihak Ghani.
"Iya deh, mereka juga bilang mau ketemu ibu kalau udah dateng"
"Siapa?"
"Nyonya sama Tuan"
Yuni agak melebarkan kelopak mata, setelah mendengar perbedaan sikap Ghani terhadap putrinya, kini pria itu juga ingin bertemu dengannya?
Padahal dulu Ghani tidak pernah menyapanya meski pria itu telah resmi menjadi suami sah dari Lucia, putrinya.
__ADS_1
Apakah Ghani betul-betul sudah berubah? Atau mungkin saja Ghani hanya dipaksa oleh Jihan untuk datang kemari?