Lucia, Pesona Maba Hamil

Lucia, Pesona Maba Hamil
Yang Terbaik Untuk Si Kecil


__ADS_3

"Makasih lho nak Fabio, sampe dibayarin segala. Jadi ngerepotin"


"Enggak sama sekali kok Bu, justru saya yang berterima kasih karena kalian udah mau ngajak makan bersama"


Ketiga orang itu sudah menyelesaikan ritual makan siang, banyak obrolan yang mereka bicarakan tentang apapun itu, Lucia yang tadinya hanya diam mendadak ikut menimbrung pembicaraan ibu dan lelaki yang dicintainya ini.


Sampe hampir satu jam lebih akhirnya mereka pun menyudahi kegiatan tersebut.


Tak lupa, Fabio mentraktir Lucia beserta ibunya, mumpung bertemu Fabio ingin sekalian cari muka.


Istilahnya menyelam sambil minum air.


Mereka sama-sama keluar dari tempat itu, seketika udara segar pun menghampiri.


"Rumah kamu dimana memang?"


"Kebetulan lagi ngekos Bu, di apartemen gak jauh dari sini kok"


"Oh gak sama orang tua?"


"Orang tua saya tinggal di Jakpus, Bu"


Yuni manggut-manggut mengerti, kebanyakan mahasiswa memang tidak tinggal dengan orang tua dikarenakan jarak rumah dan universitas yang jauh.


"Kalian juga mau langsung pulang?" Kini giliran Fabio yang bertanya.


"Iya, rumah sewa Lucia deket dari sini, cuma jalan kaki" jawab Yuni mengira jika Fabio belum mengetahui dimana tempat tinggal Lucia berada.


Fabio pun menanggapi seolah memang dirinya tidak tau.


"Kalau gitu saya pamit pulang sekarang, sekali lagi makasih"


Fabio pamit dan tak lupa salam kepada ibunda Lucia, kemudian menaiki motor Harley nya yang besar.


"Lucia, aku pulang. Sampe ketemu di kampus besok" seru Fabio pada perempuan yang sedari tadi bungkam menatap Fabio dengan sorot sendu ketika lelaki itu hendak pulang.


"Iya kak, hati-hati" sahut Lucia pelan.


Sampai kendaraan beroda dua itu pergi, barulah Lucia dan Yuni melangkah menjauh dari sana.


Hati kecil Lucia dalam sekejap menjadi melow, kepergian Fabio memberi setitik kesedihan yang menyebar, setiap kali melihat pria itu menjauh dari hadapannya Lucia tak mampu membendung keresahan di jiwanya.


Bahkan kehadiran sang ibu masih membuat Lucia hampa ketika dihadapkan oleh sosok Fabio.


Hening.

__ADS_1


Hening.


Hening.


Disetiap langkah melaju, sepasang anak dan ibu itu saling diam tak bersuara. Sampai Yuni berceletuk.


"Fabio memang tampan, baik, dan ramah juga" cetus Yuni entah ada angin apa membicarakan Fabio lagi.


Lucia menengok sejenak, kemudian kembali menatap lurus ke depan.


"Siapa sih perempuan yang enggak suka sama dia? Pasti semua suka, Fabio memang paket lengkap" lanjut Yuni memuji.


"Karena itulah, wanita yang bersanding dengan dia pun pasti adalah wanita yang sesempurna dirinya"


Entah apa maksud perkataan sang ibu, tapi jelas membuat Lucia risau akan hal itu. Walaupun Fabio sudah jujur tentang perasaannya, namun mereka belum mengetahui siapa pasangan yang akan bersanding di samping Fabio nanti.


"Kamu menyukai dia?"


Deg!


Lucia tersentak, pertanyaan yang muncul sangat tidak tertebak akan keluar dari mulut sang ibu.


Lucia ingin mengelak, tapi mendadak lidahnya kelu untuk menepis fakta yang satu ini.


"Tatapan kamu enggak bisa dibohongi" kata Yuni memperjelas.


"Seberapa kuat kamu menyembunyikannya, hal itu akan tetap tampak dengan jelas"


Lucia memalingkan muka ke sembarang arah, ia tak bisa membalas perkataan ibunya, memang benar... Sekuat apapun ia menutupinya rasa cinta ini akan selalu timbul dan terlihat.


Ia ingin Fabio!


Cuma Fabio!


Tak ada yang lain, meski dirinya bukan wanita yang sesempurna itu.


Ia tak bisa mencintai yang lain.


Ia hanya ingin langit birunya!


Ya, langit birunya!


"Tapi kita juga harus tau satu hal, bahwa kenyataan yang kita inginkan mungkin belum tentu yang terbaik untuk kita. Jadi sebaiknya jangan terlalu berharap untuk hal yang belum pasti"


"Ibu bicara begini, agar hatimu kamu tidak semakin terluka Lucia"

__ADS_1


"Kamu berharga untuk ibu"


***


Suasana hati Lucia masih terus hampa sampai malam menjelang tiba, tapi sebisa mungkin ia terlihat tegar untuk menutupi perasaannya supaya sang ibu tidak curiga dan memperpanjang pembicaraan soal Fabio.


"Katanya besok kamu mau periksa kandungan ya?"


Yuni menghampiri sambil membawa makan malam yang telah ia siapkan, kemudian duduk di meja makan bersama putrinya.


"Ibu tau?" Lucia balik bertanya, sebab ia belum memberitahu kabar ini kepada Yuni.


"Sore tadi Jihan telpon ibu, dia minta izin untuk besok membawa kamu ke dokter kandungan" jelasnya.


Lucia hanya ber-oh ria tanpa tau harus bilang apa, usia kandungannya kini menginjak tujuh bulan, sangat tak terasa, padahal Lucia merasa baru kemarin memeriksakan kandungan yang ke enam bulan.


"Ibu ikut?"


"Tadinya sih mau, tapi Jihan bilang mereka akan menjemput kamu langsung dari kampus. Ibu takut merepotkan dia kalau harus menjemput dulu ke rumah, tapi gak masalah ibu bisa liat hasil USG nya nanti"


Suasana hening kembali, Lucia terdiam lagi sambil melihat ibunya yang sedang menghidangkan nasi serta lauk pauk ke atas piring.


"Kamu udah beli peralatan bayi?"


"Belum Bu, nunggu tujuh bulan dulu kan pamali kata orang tua dulu. Lagian Nyonya yang mau belinya"


"Ibu juga jadi pingin beli peralatan-peralatan bayi deh, suka aja gitu liat barang-barang buat bayi apalagi baju-bajunya, lucu! Ibu jadi inget waktu lagi hamil kamu" Yuni bernostalgia, saat dulu dirinya menahan diri untuk membeli peralatan bayi ketika usia kandungannya masih di atas tujuh bulan.


Mendengar itu Lucia refleks mengusap perut bulatnya yang sudah sangat mengencang, dirinya dilema! dia pun punya keinginan untuk melakukan hal tersebut, tetapi Lucia seakan terkekang oleh janjinya pada Jihan.


Jihan memang tidak pernah memaksa Lucia untuk ikut campur dengan urusan bayi di dalam kandungannya, tapi Lucia sendiri yang merasa berat untuk turun tangan sekarang, disaat dulu ia menyerahkan semua tentang bayi ini kepada wanita dewasa itu.


Kini Lucia seperti memiliki keinginan yang sebelumnya tak pernah ia rasakan, keinginan untuk melihat bayi ini lebih lama, insting keibuannya mulai menguasai, ditambah tawaran Fabio yang mengajak Lucia untuk memiliki hak asuh anaknya setelah melahirkan.


Mana yang lebih baik?


Haruskah ia menerima tawaran Fabio? Sebab perlahan ia pun mulai menyayangi darah dagingnya ini.


Tapi bagaimana dengan Jihan? Wanita itu sudah terlampau baik untuk Lucia khianati janji mereka.


Jika bayi ini disuruh memilih, dia pasti menginginkan kedua orang tuanya. Tapi Lucia tak bisa terus terikat hubungan dengan Ghani.


Sebab ia mencintai laki-laki lain.


Kedua tangan Lucia memeluk perutnya yang bergerak, bayi itu merasakan guncangan kesedihan yang dialami ibunya.

__ADS_1


"Kecil, Aku menyayangimu... Aku pastikan akan memilih yang terbaik untukmu"


__ADS_2