
Mau bagaimana lagi, kini aku masih jauh dari garis finish.
Tak jarang jarak yang ku tempuh hampir membuatku jatuh.
Memperjuangkan mu sama sulit dengan berperang di zaman Majapahit.
Namun, kobaran api di dalam jiwa tak pernah surut demi bisa hidup bersama di masa tua.
Akhir pekan kini terasa berbeda, ada hati yang terlampau hampa, sebab tak bisa saling berjumpa.
Waktu yang digunakan untuk menjauhi hiruk-pikuk justru malah membuatnya suntuk.
Tak ada yang ingin ia lakukan selain menemui perempuan itu, rindu senyuman yang terasa bagai madu, membuat siapa saja yang melihatnya candu.
Waktu masih menunjukkan pukul tujuh pagi, biasanya Fabio akan berkeliling untuk lari, meningkatkan kebugaran melalui aktivitas jasmani.
Tapi perlu diingatkan lagi, hari ini ada hal yang membuatnya menunda kegiatan tersebut. Fabio ingin berkunjung ke kediaman Lucia, memang sih masih terlalu pagi untuknya bertamu, tapi siapa tau Lucia juga ingin bertemu.
Setelah bersiap-siap Fabio bergegas menaiki motornya, di tengah-tengah jalan ia menepikan kendaraan itu untuk membeli bubur ayam.
Sengaja Fabio membeli bubur ayam di tempat langganannya, walaupun harus mengantri tapi ia bisa mendapatkan makanan yang lebih lezat dibanding di tempat lain.
"Bang bubur ayamnya dua, di bungkus"
"Siap, pake pedes?"
"Dipisah aja"
Fabio berniat sarapan di rumah Lucia, tak lupa membeli bubur untuk sang tuan rumah. Semoga saja Lucia juga belum sarapan sehingga mereka bisa makan pagi bersama.
Sekitar lima menit pesanan Fabio selesai, ia pun kembali menaiki motornya menuju tempat tinggal Lucia.
Dengan kecepatan diatas rata-rata Fabio melajukan kendaraan agar lebih cepat sampai.
Dari luar tampak terlihat sepi, pintu pun masih ditutup dengan rapat, Fabio mencoba turun dari motor.
Tok! Tok Tok!
__ADS_1
"Luciaaaa......"
Tok Tok!
"Lucia ini aku, Fabio....."
Fabio mengetuk sambil berteriak untuk memanggil penghuni rumah, ia juga mengintip lewat jendela tapi tak nampak apa-apa sebab tertutup tirai dari dalam.
"Haloooo..... Ada orang di dalam?"
"Luciaaaa....."
Merasa tak ada siapapun di dalam Fabio pun memutuskan menelpon nomor Lucia, tak biasanya wanita itu pergi.
"Mohon maaf nomor yang anda tuju sedang tidak aktif, coba beberapa saat lagi"
"Enggak aktif?"
Tak menyerah, Fabio menghubungi untuk kedua kali.
"Mohon maaf nomor yang anda tuju sedang tidak...."
Fabio kembali mengetuk pintu lagi.
Tok Tok Tok!
"Luciaaaa.... Kamu ada didalam?"
Percuma, tak ada sahutan apapun.
"Gak mungkin dia masih tidur, kan?"
Fabio menatap sekeliling, mungkin ia harus mencoba bertanya. Seorang penjual gorengan di depan menjadi pusat perhatian Fabio.
"Permisi pak, mau tanya. Bapak liat pemilik rumah itu keluar gak?"
"Waduh kurang tau mas, baru dateng juga saya"
__ADS_1
Tak ada yang tau, Fabio tak mendapat hasil apapun terkait keberadaan Lucia.
"Gitu ya pak, ya udah makasih pak"
"Iya, sama-sama"
Fabio kembali menuju halaman rumah Lucia, ia memilih menunggu saja sampai pemilik rumah datang. Tidak peduli kapan Lucia tiba, yang penting ia harus memastikan perempuan itu baik-baik saja.
***
Sedangkan ditempat lain seorang perempuan tengah asik memandangi indahnya pesona langit, melewati berbagai proses perubahan warna itu sejak awal.
Duduk di ujung jembatan panjang sambil ditemani dinginnya suhu luar, air yang bergelombang pelan seakan menemani sang perempuan.
Akhir pekan dimanfaatkannya untuk datang ke tempat ini, sepi tak ada seorang pun yang datang selain dirinya.
Itulah yang dilakukan guna menenangkan hati yang tertusuk belati, dari luar nampak tentram namun di dalam amatlah berantakan.
Sebuah perahu bergerak akibat desiran ombak, membuatnya seolah menari-nari diatas air yang tengah surut.
Sebuah tali yang mengikat tak bisa membuat perahu itu terbebas, namun ada saja yang membuatnya riang.
Kerinduan akan kehidupan di masa lalu yang masih membuatnya tak percaya kini dia ada dalam jeruji tak kasat mata.
Kemana kebahagiaan itu pergi? Tak sempatkah pamit, setidaknya untuk membuat ia bersiap menghadapi dunia penuh siksaan.
Diujung jembatan ini rasa ingin menceburkan diri amatlah besar, melompat kuat seolah di dalam laut sana ada tempat untuknya bersenandung ria.
Melepas diri dari kejamnya kehidupan duniawi.
"Bawa aku Ayah.... Lucia lelah"
Rupanya ada titik lemah dari orang yang menyebut dirinya sendiri wanita tangguh, sanubari yang membengkak ini tak ada yang bisa menyembuhi, kesenangan yang muncul akhir-akhir ini ia sadari hanya berlangsung sementara.
"Dia bukan milikku, dia bisa pergi kapanpun dia mau"
Sekelebat bayangan seorang lelaki terlintas di kepalanya, senyum tulus itu tak pernah ia dapatkan lagi semenjak kepergian sang Ayah.
__ADS_1
Hangat menusuk ke dalam relung jiwa, tiada tanding meski diganti jutaan purnama. Takkan lagi ia menemukan sosok seperti itu.
"Di dalam hidup ku yang hanya satu kali ini, kenapa bukan dia saja yang Tuhan pilih"