Lucia, Pesona Maba Hamil

Lucia, Pesona Maba Hamil
Apa Mau Mu?!


__ADS_3

Dari ribuan teluk yang ada, tempat ku menepi adalah pada kamu.


Dari ratusan gedung yang di bangun, rumah paling nyaman bagiku ialah kamu.


Dari jutaan hari yang terlewati, waktu yang ku mau yaitu berada di sisimu.


Kamu, kamu, dan kamu.


Bahkan kapasitas otakku pun tidak mencukupi untuk memikirkan hal yang lain, kamu seakan sudah menguasai hampir sepenuhnya raga ini.


Tapi tidak tau, bagaimana aku di mata mu.


Fabio mengantarkan Lucia sekitar pukul delapan malam, keduanya diam tak seperti biasanya. Mereka membiarkan jalanan ramai menutupi keheningan itu.


Pertanyaan yang Fabio ajukan belum mendapat jawaban pasti dari Lucia, wanita itu tidak bisa menanggapinya sekarang.


Mana mungkin Lucia bisa mengambil keputusan sedini ini, dengan lelaki yang belum sebulan ia kenali, dan dengan mudahnya ia menyerahkan masa depan pada sosok ini? Tidak mungkin.

__ADS_1


Motor berhenti di halaman depan, mereka sudah sampai setelah menempuh perjalanan lima belas menit.


Lucia turun, tak lupa menyerahkan helm yang ia pakai.


Kecanggungan menguasai keduanya.


"Makasih kak buat hari ini, hati-hati dijalan" ucap Lucia sebelum ia berbalik hendak masuk.


"Lucia.." seru Fabio memanggil.


Sikap dingin Lucia seakan membuat Fabio peka, setelah keluar dari balkon tadi mereka jadi jarang bercakap, sepertinya Lucia segan dengan pertanyaan yang ia ajukan. Mungkin tidak sepantasnya ia berbicara begitu, Fabio sadar ia terlalu terburu-buru untuk masuk ke dalam kehidupan seorang wanita yang masih mempunyai luka menganga, tanpa memikirkan cara menyembuhkan luka lama si wanita.


Lucia mendengarkan dengan cermat, kemudian ia tersenyum getir. Apa Fabio menyesal telah bertanya hal tersebut? Atau mungkin.... Hanya bercanda seperti kebiasaannya.


"Iya, kak. Tenang aja, gak mungkin juga kakak serius sama ucapan itu kan? Aku ngerti, selamat malam kak" Lucia memilih menghindar, ia segera menghilang dari pandangan Fabio yang masih mematung di atas motor.


Fabio menatap lama pintu yang sudah tertutup rapat, apakah pertanyaannya benar-benar terdengar percobaan saja?

__ADS_1


"Padahal aku serius, tapi kamu yang meragu" lirihnya, sebelum ia berlalu menuju apartemen.


Dari dalam rumah, Lucia memandang lewat jendela, lelaki yang baru saja pergi itu.


Kini ia berkecamuk lagi, sebaik apapun Fabio padanya sampai saat ini Lucia belum bisa mengerti tentang sifat lelaki itu. Ia yang bodoh untuk bisa peka terhadap Fabio.


Hingga mengambil keputusan untuk bersama lelaki itu masih termasuk hal yang sulit, lagian apa tujuan Fabio mau bersama dengannya? Apa dia jatuh cinta? Atau hanya nyaman semata? Atau hanya main-main dan bercanda?


"Jangan buat aku makin terbawa perasaan, kak.."


"Aku cuma upik abu yang bisa di injak kalau sudah di bakar"


Perasaan terlarang yang timbul karena ketidaksengajaan, lebih baik tidak mengenal kamu sejak awal kalau ujungnya hanya menjadi cadangan.


Kamu sendiri tak pernah mau jujur tentang kehidupan mu pada ku, bagaimana aku mau mengenal kamu lebih dalam? memahami sifatmu saja aku tak pandai.


Dan sekarang, pertanyaan itu kamu ajukan di saat kita baru berada dalam tahap mengenal. Setelah itu kamu tarik kembali pertanyaan tersebut seakan tak puas dengan keputusan ku yang berikan.

__ADS_1


Kalau kamu serius seharusnya kamu menunggu, bukan malah memberi harapan palsu.


__ADS_2