Lucia, Pesona Maba Hamil

Lucia, Pesona Maba Hamil
Ketahuan


__ADS_3

Aku bahagia meski hanya secuil kisah yang kami buat, bersamanya seperti masuk ke dalam rumah yang aku tempati.


Tak ada yang bisa ku sebut selain rasa nyaman, hangatnya memasuki relung jiwa yang damai.


Langit itu membuat ku selalu ingin menatapnya, indah nan asri kala di pandang.


Awan cerah di atas kepala pun tak mampu menyaingi keelokan yang dia punya.


Sesempurna itu dia bagiku, ingin selalu ku genggam bagai pasir yang terus berjatuhan. Entah sampai kapan butiran terakhir habis, namun yang pasti akan ku ambil kembali, takkan ku biarkan dia pergi.


Sore menyambut di penghujung hari, waktu untuk para makhluk bumi pulang seusai menghabiskan waktu di akhir pekan.


Sepasang manusia yang menikmati suasana senja menaiki kendaraan beroda dua itu nampak membawa senyuman sebagai buah tangan dari berliburan.


Angin terakhir sebelum matahari terbenam membawa mereka tiba di kediaman Lucia bersamaan dengan deru motor yang berhenti.


"Makasih, kak. Emm.... Mau masuk dulu?" Begitu turun dari motor.


Fabio berpikir apakah ia harus singgah dulu atau tidak, namun kedua orangtuanya menunggu sejak kemarin, membuat Fabio akhirnya menolak.


"Kayaknya enggak dulu, Mama Papa aku udah nunggu di apartemen. Nanti kalau mereka udah pulang baru deh aku bisa lama-lama sama kamu" ujarnya cengengesan.


Lucia agak sedih ketika Fabio harus cepat pulang, tapi ia juga tidak boleh memaksa lelaki itu untuk tetap disini. Apalagi ada ayah dan ibunya yang sudah menunggu sejak semalam.

__ADS_1


"Ya udah, hati-hati dijalan. Kabarin kalau udah nyampe"


"Cieee.... Sekarang jadi khawatiran banget sama aku, jadi gemes deh" mencubit pipi Lucia dengan satu tangannya.


Lucia tak menepis, hanya mengusap bagian yang ditarik oleh Fabio.


"Jangan sedih, kan besok ketemu lagi di kampus" Fabio seolah mengerti apa yang sedang dirasakan Lucia, raut wajahnya sedikit masam tak seperti sebelumnya.


"Enggak sedih, kok" elak Lucia.


"Bohong, tuh mukanya kusut banget kayak jemuran kering"


"Mungkin cuma capek aja" Lucia meluruskan, menutupi fakta yang sudah bisa dibaca oleh lawan bicara.


Fabio tak menanggapi lagi topik tersebut, biarlah Lucia berpura-pura, toh ia juga sudah menduga yang sebenarnya.


Tuk!


"Eh, nendang!" Fabio kembali merasakan serangan itu.


"Tumben banget, biasanya kalau ada maunya doang dia gerak" kata Lucia terheran.


"Oh ya? Berarti artinya dia suka sama aku"

__ADS_1


"Pede banget" cibir Lucia.


"Eh gak percayaan jadi orang, buktinya dia ngerespon aku terus"


Lucia tak mampu menjawab, mungkinkah begitu? Karena ia sendiri memang nyaman bersama pria satu ini. Apakah itu juga yang dirasa oleh bayinya?


Setelah puas berinteraksi dengan si kecil Fabio pun lantas pamit.


"Ya udah aku pulang sekarang, jaga diri di rumah, jagain juga anak aku" tunjuknya pada bagian perut Lucia.


Lucia tak mampu menahan senyuman, dikatai anak mereka ia benar-benar dibuat terbang, seolah bayi ini memang buah hati keduanya. Semoga saja memang bisa terwujudkan.


"Ya udah sana"


"Hidihhh.... Ngusir, padahal di kamar nangis-nangis karena kangen sama aku"


"Gak kok! Siapa bilang"


"Aku yang bilang, aku pergi dulu. Bye....." Fabio menyalakan kendaraan dan melaju menjauh dari sana meninggalkan perempuan yang sudah dibuat rindu melihat kepergiannya.


Ditengah-tengah lamunan Lucia, seseorang datang tanpa diundang, tiba menggunakan mobil yang sangat Lucia kenali.


Pertanyaan penuh timbul tentang maksud kedatangan orang ini, apalagi ketika si pemilik mobil keluar dengan memasang wajah dingin.

__ADS_1


"Tu.... an?"


"Untunglah lelaki itu cepat pergi, karena aku sudah dibuat menunggu lama di seberang sana. Sepertinya kalian dekat sekali, sampai bocah ingusan itu menyentuh perut mu yang buncit"


__ADS_2