
Surya berdiri menyambut pagi, sinarnya menghangatkan seisi bumi yang diguyur hujan tiada henti.
Namun tidak membuat dua insan yang masih terpejam disana membuka matanya, mereka saling memeluk untuk menciptakan kehangatan melalui dekapan nyaman yang panjang.
Apalagi akhir pekan membuat keduanya tidak didesak waktu untuk cepat-cepat bersiap melanjutkan aktivitas.
Saling berhadap-hadapan tanpa sadar, melingkarkan kedua tangan pada masing-masing lawan.
Posisi yang tak biasa, menciptakan rasa damai yang belum pernah dirasa.
Ingin mereka berlama-lama, sebab mimpi yang sempurna datang tanpa diminta.
Namun, makhluk kecil yang berada di tengah-tengah mereka memberontak karena terlalu lama menjelajah alam bawah sadar.
Tendangan lembut membuat ibu si bayi terusik, gerakan di dalam perutnya, menganggu istirahat yang sedang berlangsung.
Lucia sedikit demi sedikit membuka mata sambil merenggangkan tubuhnya yang kaku, ketika kelopak mata itu terbuka sepenuhnya, pemandangan pertama yang ia lihat adalah sebuah dada bidang yang menghadap ke arahnya.
Hal itu membuat Lucia menengadah menatap si pemilik tubuh yang melingkari tangannya di pinggang Lucia.
__ADS_1
Sangat indah dan tenang.
Ketampanan itu membuat siapa saja yang melihatnya betah untuk tidak mengalihkan pandangan.
Kesadaran yang masih belum terkumpul membuat Lucia terus menikmati ciptaan Tuhan yang disuguhkan di depannya.
Alis tebal, hidung mancung, garis rahang yang tegas, serta bibir dengan bentuk nan indah hampir membuat lelaki ini tak ada kurangnya.
Apalagi sorot mata ketika dia terbangun semakin memperjelas letak ketampanan itu.
Lucia belum sadar jika kini orang yang ditatapnya tengah menatap balik padanya, tanpa bersuara sehingga Lucia tidak menyadari kalau Fabio sudah terjaga akibat gerakannya.
Apa yang sedang ia dengar ini? Lucia merasa masih bermimpi indah sekarang, sangking indahnya sampai bayangan itu nampak seperti nyata.
Dan ketika elusan sebuah tangan mendarat di pipinya, Lucia menyadari satu hal, bahwa ia sudah terbangun dari tidurnya yang pulas.
Itu artinya, ungkapan Fabio tadi bukan hanya sekedar angan.
"Jangan pernah pergi, tetaplah berada disamping aku. Apapun keadaannya..." Tukas Fabio memotong.
__ADS_1
Tatapan itu mengisyaratkan sebuah kesedihan, ketakutan, juga keputusasaan dalam sorot mata yang sama.
Lucia bisa membaca itu, tapi kenapa ditunjukkan kepadanya? Kenapa Fabio seperti dilanda kecemasan bak seseorang yang akan di tinggalkan oleh orang tercinta.
Dan ungkapan sayang tersebut begitu amat menyentuh relung hati Lucia, ia bisa menangkap ketulusan yang mengalir dari setiap kata yang dilafalkan.
"Jangan pernah lepas dari pandangan ku, Lucia"
Lucia seperti terhipnotis dengan kata-kata itu, ia pun mengangguk sebagai jawaban dari seluruh pernyataan yang terlontar.
"Kakak juga, jangan pernah pergi dari aku" balasnya sebelum Lucia membenamkan kembali kepalanya di dada bidang tersebut.
"Aku sayang kakak"
Pelukan pun semakin erat dari sebelumnya, entah angin apa yang membuat keduanya tiba-tiba mengungkapkan perasaan satu sama lain.
Seolah hal itu tidak bisa dicegah dalam waktu yang lama, ketakutan yang setiap hari kian mendekat membuat mereka dipaksa untuk mengeluarkan isi hati secara singkat.
Tidak peduli kalau sikap mereka termasuk sebuah larangan ketat, karena bunga-bunga yang bermekaran di sekeliling mereka mendorong jauh semua pembatas diantara keduanya.
__ADS_1
Mereka ingin selalu bersama, dalam suka maupun duka, tua maupun muda, hidup ataupun mati, mereka akan sabar menunggu sampai dunia merestui.