Lucia, Pesona Maba Hamil

Lucia, Pesona Maba Hamil
Runtuhnya Kepercayaan


__ADS_3

Mana ada cinta yang ingin dibagi dua? Satu saja sudah cukup membuatku tak percaya. Semua tak ada habisnya jika soal asmara, meski begitu aku tetap jatuh cinta.


Bersama mu sakit, tapi kalau tanpa kamu aku jauh lebih sakit.


Perumpamaan yang pas untuk seorang wanita yang duduk sambil memandang senja, dengan membaca majalah lama yang belum sempat ia baca.


Sepulang kerja Jihan menikmati waktunya di halaman belakang, secangkir kopi menemani perempuan berusia 28 tersebut.


Kicauan burung menjadi alunan lagu yang alami, indah didengar saling bersahutan.


Halaman terakhir membuat Jihan menyeruput kopi hingga tandas, berdiri lalu kembali masuk ke dalam rumah.


Bersamaan dengan pulangnya seseorang dari pintu depan.


"Mas?" Jihan menghampiri, memeluk sang suami dengan seutas senyum manis.


"Tumben pulangnya sore? Biasanya malem terus"


"Heem... Hari ini aku kurang enak badan" sambil terus menaiki anak tangga menuju kamar.


"Kamu sakit, mas?! Udah minum obat?" Jihan cemas, terus mengekori dari belakang.


"Belum, nanti aja kalau mau tidur"


"Jangan dinanti-nanti, mas. Biar aku ambilin obatnya ya" berjalan ke arah kotak obat di dalam kamarnya, mencari Paracetamol untuk meredakan sakit yang tengah dirasa Ghani.


Jihan menuangkan ke dalam sendok takaran, lalu menghampiri lagi suaminya dengan langkah pelan supaya cairan itu tidak tumpah ke lantai.


"Minum dulu mas"


"Nanti aja biar sekalian" ujar Ghani sambil membuka jas beserta sepatunya.


"Mas mumpung belum terlalu parah sakitnya, diminum ya. Buka mulutnya, Aaaaa....."


"AKU BILANG NANTI..!!!"


Brukk!


Ghani menepis kasar sendok obat itu, membuatnya tergeletak di atas lantai dengan cairan yang berceceran.

__ADS_1


Jihan terlonjak kaget, sambil memegangi dadanya ia menatap ke arah benda yang terjatuh itu.


Apa yang salah? Apa karena dia terlalu memaksa? Bukankah yang ia lakukan semata-mata hanya ingin kesembuhan suaminya??


Jihan mengangkat dagu untuk melihat wajah sang suami, pria itu tengah menjambak rambutnya sendiri. Pasti ada yang membuat mood Ghani memburuk, sehingga masalah itu dia bawa sampai ke rumah.


Jihan mencoba untuk tetap tenang.


"Maaf, aku cuma khawatir sama keadaan mas. Aku.... Aku gak akan memaksa mas lagi" cicitnya memilih mengalah.


Ghani menatap Jihan penuh amarah, ada rasa sesal telah berlaku kasar, tapi rasa kecewa yang tengah mengerubunginya jauh lebih besar.


"Aku bertemu Vino" serunya.


Kali ini Jihan paham, apa yang membuat Ghani begitu diselimuti emosi. Satu nama seseorang sudah menjawab semua pertanyaan yang belum sempat Jihan ajukan.


"Kamu tau apa yang dia katakan?"


Jihan membungkam, tak mau salah dalam mengeluarkan kata.


"Dia masih ingin membuktikan kalau kalian memang pernah saling berhubungan, disaat kamu sudah menikah dengan aku"


"Aku bersumpah mas, demi Tuhan! Aku gak pernah sekalipun mengkhianati kamu. Sama sekali gak ada dalam benakku"


"Lantas kenapa dia begitu yakin, hah?! Dia sama sekali gak menyerah meski kamu udah pernah mengancam untuk melaporkan dia"


"Mana aku tau, mas! Udah aku bilang diamkan aja, dia pasti capek sendiri nantinya"


Percekcokan yang sudah lama tak terdengar akhirnya kembali terlontar, dengan bahasan yang sama dan tak pernah ada ujungnya.


Kemana lagi harus dicari kebenaran ini? Siapa yang harus dipercayai? Bahkan nama Tuhan pun tak bisa mengembalikan kepercayaan seorang Ghani.


"Gimana lagi harus aku jelasin, mas? Kamu seharusnya lebih percaya sama aku, buktinya dia gak pernah dapat bukti apa-apa kan?"


Jihan mulai terbawa suasana, dadanya mengembang-kempis dengan cepat, matanya berlinang bak berlian, tangannya mengepal sampai kuku tajamnya menembus telapak tangan.


"Aku udah gak ada waktu lagi untuk melakukan hal begituan mas, sejak awal apalagi sekarang! Aku sibuk mengurus pekerjaan dan juga Lucia. Aku bahkan melakukan tugas yang seharusnya kamu lakukan!" Menekan dada kiri Ghani dengan jari telunjuknya.


Ghani bungkam, perdebatan ini menjadi Boomerang baginya. Manakala permasalahan diantara mereka berujung pada kesalahan yang Ghani perbuat, kesalahan fatal yang ia lakukan tanpa pikir panjang.

__ADS_1


"Kamu seharusnya mikirin Lucia, mas. Dia lagi hamil anak kamu, bukannya malah mikirin hal yang sampai sekarang gak ada pastinya"


"Tiga bulan lagi dia melahirkan, melahirkan anak diusia belia! Kenapa gak ada sedikitpun hati kamu tergerak buat memperbaiki kesalahan kamu?? Kenapa mas? Kenapa?!!" Mendorong dada bidang Ghani sekuat tenaga, mengeluarkan rasa kesal yang bersarang di dalam jiwa.


Bagaimana rasa dendam itu menghancurkan pondasi rumah tangga mereka, hingga harus mengorbankan masa depan ketiga nyawa.


"Sudah ku bilang kalau kamu gak mau mengurus dia jangan diurus!! Aku gak pernah menyuruh kamu untuk melakukan hal itu"


"Terus gimana kalau dia gak bisa mempertahankan bayi itu?? Kamu akan diam aja, begitu?!"


"Dari dulu aku gak pernah menginginkan bayi dalam rahimnya!"


"LANTAS KENAPA KAMU MEMPERKOSANYA MAS!! KENAPA???"


Deg!


"Apa motif balas dendam ini untuk menyakiti aku? Iya?!!"


"Kamu berhasil, mas! Kamu berhasil menyakiti aku, tapi aku gagal membenci kamu!!"


Jihan terisak, air matanya berurai dengan amat deras, pertahanannya sudah bisa ditebas. Jihan amat terpukul dengan ujian ini, entah apa yang membuatnya bisa bertahan sampai sekuat ini.


Ia mendekat, menyandarkan kepalanya di dada Ghani yang bidang. Menangis tersedu-sedu sambil memeluk pria yang sangat Jihan rindu.


"Aku memang gak bisa memberikan kamu keterunan, mas. Tapi bukan berarti aku mencari laki-laki lain untuk sekedar membuktikan siapa sebenarnya yang bermasalah diantara kita"


"Aku ingin mempertahankan bayi itu, mas...."


"Biarkan aku yang menjaganya kalau kamu emang gak mau, aku juga udah berjanji pada Lucia kalau masa depannya gak akan terputus karena janin itu"


Ghani mulai merasakan tusukan anak panah yang begitu tajam, bagaimana setiap isakan tangis itu menjadi semburan yang menikam.


Kemeja putih yang Ghani pakai basah oleh lelehan yang langsung membasahi area dada.


"Dia anak yang tak berdosa, mas. Andaikan aku bisa hamil, mungkin kamu gak akan pernah berpikir untuk membuktikan kemampuan kamu pada perempuan lain"


"Dan sekarang semua itu terbukti, disini akulah yang bermasalah. Rahim ku tak bisa menerima ribuan darah daging kamu"


Ghani bertarung dalam pikiran, apa yang telah ia lakukan? Lagi-lagi dia menyakiti wanitanya, Ghani membuat wanita ini kembali mengeluarkan serpihan air mata.

__ADS_1


Semua kecemburuan yang dirasakan menjadikan pedang yang bisa membunuh cinta diantara mereka, lagi-lagi dia gagal memegang teguh sebuah kepercayaan.


__ADS_2