Lucia, Pesona Maba Hamil

Lucia, Pesona Maba Hamil
Satu lelaki, Dua wanita


__ADS_3

Tolong jangan terus mematahkan, aku anak perempuan yang memeluk erat lukaku sendirian, tanpa harus bercerita pada siapapun, termasuk kepada insan.


Mau marah? Tapi marah dengan siapa? Mau menangis, tapi rasanya sudah lelah. Mau teriak, tapi takut disangka gila. Akhirnya memilih diam saja.


Lucia duduk diantara kursi tunggu rumah sakit, menanti namanya dipanggil, duduk dengan tenang dalam balutan wajah murung yang melekat.


Sedangkan wanita yang menemaninya sibuk mondar-mandir dengan raut kegelisahan, beberapa kali mengecek ponselnya sendiri.


"Kenapa mas Ghani belum datang juga ya? Padahal tadi pagi dia bilang bakalan menyusul kita kesini"


Lucia tak mampu berkomentar, sebab dirinya berharap pria itu tak muncul dihadapannya.


"Ck, sesudah ini giliran kamu yang masuk. Tapi mas Ghani masih belum ada!" Tuturnya gusar.


Ia mencoba menelpon lagi, tapi untuk yang kesekian kali tetap tak diangkat.


Sepuluh menit berlalu, dokter menyebut nama Lucia. Kedua wanita itu saling beradu pandangan, mungkinkah pemeriksaan ini hanya akan di hadiri mereka lagi.


"Nyonya, ayo kita masuk" ajak Lucia pada perempuan yang tengah bersedih itu.


"Tapi mas Ghani...."


"Jihan!"


Keduanya sontak menoleh bersamaan, seketika terpancar reaksi yang berbeda. Yang satu nampak raut kebahagiaan, dan satunya lagi terlihat tegang dan bergetar.


"Mas Ghani? Akhirnya kamu datang juga" memeluk lelaki tegap disana, ia begitu gembira kala pria ini menepati janjinya.


Ghani memasang wajah datar, tak sedikitpun dia melirik pada Lucia. Dia maupun Lucia sama-sama menjaga jarak atas keinginan masing-masing.


Saling bertemu setelah sekian purnama berlalu, tak membuat dua insan itu saling merindu, tak ada kata yang lebih tepat selain kata tidak perlu.


"Pas banget mas, Lucia baru aja dipanggil. Ayo sekarang kita masuk, dokter udah nunggu didalam"


Lucia memilih masuk duluan, membiarkan dua orang itu menyelesaikan percakapan.


"Kalian saja yang masuk, aku tunggu di luar"


"Lho, percuma dong mas datang kesini kalau cuma menunggu di luar. Mas harus masuk, mas belum pernah liat Lucia diperiksa kan? Ayo mas... Mas udah janji sama aku" mohon nya memelas.


Dengan paksaan akhirnya Jihan berhasil membujuk Ghani untuk masuk ke dalam ruangan.

__ADS_1


Disana, Lucia sudah berbaring di atas brankar.


"Ini suaminya?" Ujar dokter begitu melihat seorang pria yang dibawa mereka, sebab selama pemeriksaan di bulan sebelumnya, tak pernah sosok lelaki ini datang.


"Iya, dok" bukan Ghani, melainkan Jihan yang menjawab.


Dokter mengangguk, tak bertanya lagi. Sebab ia sedikit banyak tau tentang keterkaitan tiga orang tersebut.


Dokter berdiri, menghampiri Lucia untuk memulai pemeriksaan.


"Rileks ya, jangan tegang"


Dokter terlebih dahulu mengecek tekanan darah Lucia.


"Tekanan darahnya rendah 90/60, harusnya 120/80 itu baru normal" kata dokter seusai mengetes.


"Kira-kira apa penyebabnya dok?" Jihan menimpal, dia duduk tegak begitu mendengar pernyataan dokter.


"Biasanya karena kurang asupan, ibu hamil mungkin tidak berselera ketika makan. Atau bisa juga karena stress dan dehidrasi" jelas dokter.


"Kebetulan minggu ini dia sedang mengikuti ospek dok, apa itu juga termasuk pemicu?"


Dokter menyikap baju Lucia hingga dibawah dada, kemudian mengoleskan gel untuk melakukan USG.


Layar monitor memperlihatkan bagaimana rupanya makhluk kecil di dalam sana.


Jihan yang paling antusias, sedangkan orang yang duduk disebelahnya justru memandang kosong ke depan.


"Mas, liat. Bayi kamu...." Menggoyang-goyangkan lengan Ghani supaya pria itu juga menatap ke arah monitor.


Dan untuk pertama kalinya, lelaki berusia 30 tahun itu melihat bagaimana rupa calon sang anak.


Sebuah benda yang belum terbentuk sempurna ditampilkan melalui sebuah layar. Itu anaknya, darah dagingnya! Tapi tak membuat hatinya terguncang sedikit saja.


"Liat mas, udah mulai besar" Jihan tak berhenti berceloteh ria. Bibirnya tersenyum, tapi matanya juga berkaca-kaca. Akhirnya setelah sekian lama, Ghani akan segera memiliki keturunan, meski bukan dari rahim dirinya.


Tak apa, calon bayi itu juga anaknya. Anak dari suaminya, Jihan yakin ia bisa berlapang dada, jika anak itu lahir dia juga yang akan membesarkannya. Lucia akan kembali menjadi anak remaja lagi yang disibukkan dengan rutinitas sekolahnya.


"Bobot janin bagus, panjangnya juga normal. Kalau kalian bisa lihat posisinya sedang meringkuk dengan tangan didepan dagu dan kaki di depan dada" dokter menunjukkan gambaran.


Selesai USG, Lucia turun dari ranjang. Jihan membantu dan menggiring Lucia agar duduk di kursi yang tadi ia tempati, bersebelahan dengan Ghani.

__ADS_1


"Nyonya saja yang duduk"


"Sudah, aku bisa berdiri. Kalian duduklah, simak apa penjelasan dokter"


Lucia pasrah, ia fokus mendengarkan saran yang disampaikan dokter Obgyn tersebut.


"Jaga pola makan, minum yang banyak apalagi jika sedang beraktivitas. Istirahat yang cukup, dan yang terpenting harus selalu didampingi. Saya akan beri vitamin dan harus dikonsumsi sampai habis"


Setelah menerima resep dokter, ketiganya keluar untuk menebus obat.


Jihan berdiri diantara Lucia dan Ghani, foto USG nya berada ditangan wanita itu, senyum tak pernah luntur semenjak keluar dari ruangan dokter.


"Mulai sekarang kamu harus jaga pola makan, biar nanti aku suruh seseorang buat mengantarkan kamu sarapan, makan siang, dan makan malam. Kamu cukup katakan mau makan apa, nanti aku pesankan" Jihan terdengar lebih protektif.


"Enggak perlu Nyonya, aku lebih suka beli sendiri" tak ingin makin merepotkan.


"Ya udah, yang penting kamu makan sehari tiga kali. Kalau sulit dapat makanan yang kamu inginkan. Beritahu aku aja oke?"


Lucia mengangguk paham.


"Oh iya, kamu juga ngidam gak mas? Biasanya laki-laki juga mengalami ngidam lho, bukan perempuan aja" Jihan beralih pada suaminya.


Pertanyaan yang entah kenapa menusuk ke dalam relung jiwa, rasa nyeri yang teramat besar ketika kalimat itu terlontar dari bibir wanita yang telah menemani selama satu windu lamanya.


"Mas?"


"Aku mau langsung kembali ke perusahaan, aku gak bisa berlama-lama. Aku pergi sekarang" ujar Ghani beralasan, memilih menghindar dan menghilang sebelum mendapat pertanyaan maut yang lain.


"Sekarang? Seenggaknya mas antar Lucia sampai pulang"


"Nyonya" Lucia menyela, tak ingin lebih lama berada di samping pria itu.


"Ada meeting sebentar lagi, aku gak bisa membuat mereka menunggu"


"Ah, gitu ya. Hati-hati di jalan mas"


Ghani mengiyakan lalu pergi dari sana, meninggalkan dua orang wanita yang berstatus sama.


Melangkah keluar seperti tak ada tujuan, semua mimpinya hancur berantakan, kejadian miris yang ia lakukan, membawa masa depan yang menyakitkan.


Hatinya sakit melihat senyum wanita yang menyimpan seribu luka.

__ADS_1


__ADS_2