Lucia, Pesona Maba Hamil

Lucia, Pesona Maba Hamil
Sebatas Pengagum Rahasia


__ADS_3

"Aneh kan namaku"


"Aku baru denger, pasti maknanya dalem banget" Lucia mengartikan, nama kepanjangan yang sangat jarang atau bahkan hanya ada satu di dunia.


"Ah gak juga, kata orang tua ku sih supaya siapa pun yang melihat aku suasana hatinya bisa secerah langit biru. Padahal aku orangnya murungan" tutur Fabio, merasa nama yang tersemat tidak sejalan dengan jati dirinya.


Langit biru, pemandangan yang sangat Lucia sukai sejak ia kehilangan sosok Ayah. Memang benar, langit indah bisa sedikit memberi semangat dalam setiap langkah yang ia jalani.


Dan kini, langit biru itu ada berwujudkan manusia. Dipandangnya pun indah juga, tampan nan rupawan, tapi ia tak melihat sedikit pun letak kemurungan.


Lucia menghabiskan semangkuk makan siangnya itu sampai tandas, tak lupa meminum air mineral supaya kerongkongannya tidak kering, Lucia minum sampai setengah botol, ia juga harus melaksanakan perintah dokter.


"Kamu tinggal dimana? Ngekos?"


"Tinggal di rumah sewa, Kakak?"


"Apartemen, deket kok kalau naik motor"


"Aku juga harus naik kendaraan dulu kalau pulang pergi"


"Naik apa?"


"Biasanya dijemput pakai mobil, tapi kadang juga pesen ojol kalau harus nunggu lama"


"Dijemput orang tua?" Menebak apa yang melintas dipikirkannya.


"Bukan"


"Terus?"


"Dijemput supir Nyonya"


Fabio termangu beberapa saat, belum mengerti siapa orang yang dimaksud Lucia, namun terdengar sedikit memilukan.


Fabio manggut-manggut saja mendengarnya, tak mau terlalu menelisik kehidupan seseorang, khawatir akan membuat tak nyaman.


"Aduhh!" Pekik Lucia sambil memegangi permukaan perut.


"K-kenapa kenapa?? Perut kamu sakit?" Fabio sontak dibuat panik.


"Perutku mules" rintih Lucia.


"Hah?? Kamu mau melahirkan disini?!! Jangan dulu, t-tahan sebentar" Fabio kalang-kabut, belum pernah ia menangani kasus ibu hamil yang kontraksi.


"Bukan kak!" Bantah Lucia cepat.


"Apa? Terus kenapa???"


"Aku mau ke toilet, aku sakit perut kayaknya gara-gara makan mie ayam pakai pedes kebanyakan" tak ingin membuat Fabio salah paham.


Seketika Fabio menghembuskan nafas lega, pikiran tiba-tiba kalut ketika Lucia merintih bagian perut, dia kira bayi itu akan lahir hari ini juga.


"Ya ampun aku udah ngira yang enggak-enggak, ya udah aku anterin ke toilet sekarang"


"Gak usah kak, aku sendiri aja. Malu"


"Gak usah malu-malu an kalau sama aku, siapa tau emang bener kamu mau melahirkan sekarang!"


"Mana ada, orang masih enam bulan" kata Lucia.


"Mau enam bulan atau satu hari sekalipun terserah! Buruan, nanti kamu kelepasan disini, lho" sudah menarik lengan kiri Lucia.


Perdebatan mereka yang cukup keras tak sedikit mengundang perhatian para siswa, mereka memandang penuh tanya tentang percakapan dua insan disana.

__ADS_1


Lucia berdiri dan mengikuti kemana Fabio membawanya.


"Kak lepasin tanganku!"


"Nanti kalau kamu jatuh gimana?"


"Enggak, mataku kan gak buta"


"Ya udah iya" genggaman tangan Fabio terlepas dari pergelangan tangan Lucia.


Mereka berjalan beriringan, Fabio mengikuti kecepatan langkah ibu hamil di sampingnya. Mengawasi kalau-kalau ada batu yang menghalangi jalan Lucia.


"Masih bisa nahan kan?"


"Ish apa sih kak, malu tau bahasnya"


"Lebih malu mana kalau beneran kamu kelepasan?"


Lucia berhenti sesaat, mencari sebuah batu yang tergeletak di atas tanah. Sebuah benda keras berukuran kecil itu diambilnya satu.


"Eh eh mau apa? Jangan pukul aku, iya aku gak bakalan bahas itu lagi. Sumpah!!" Mengacungkan dua jemari ke atas.


"Siapa yang mukul? Ini aku pegang supaya bisa nahan rasa mulesnya"


"Emang iya? Kata siapa? Palingan juga mitos" tak percaya dengan cara kerja sebuah batu kecil tersebut.


"Ya kata orang-orang jaman dulu, percaya gak percaya tapi aku udah lakuin ini dari lama"


Mereka kembali melanjutkan langkah, hingga keduanya sampai di depan pintu toilet wanita.


"Penuh ya?"


"Banget, aku nunggu diluar aja" sebenarnya sudah tak tahan lagi, keringat dingin pun mulai bercucuran di sekitar pelipis, wajah pucat makin mewarnai area kulit Lucia.


Terdapat dua pintu yang terisi, sedangkan dua lagi kosong. Fabio lantas kembali keluar.


"Kamu pakai toilet laki-laki aja, biar aku yang jaga"


"Gak ah kak, nanti kalau ada yang tau gimana?"


"Enggak akan, aku jamin! Ibu hamil gak boleh nunda pup lho"


"Malu kak....."


"Dari pada keluar sama bayinya? Mending mana?" Ujar Fabio tanpa disaring lebih dulu.


Setelah dipikirkan akhirnya Lucia mau menggunakan toilet pria, dia masuk secara sembunyi-sembunyi.


"Kakak tunggu dimana?"


"Di depan pintu ini"


"Jangan, nanti bau!"


"Udah gak usah dipikirin"


Lucia menutup pintu toilet yang dia gunakan, mulai melakukan ritual panggilan alam.


Fabio berdiri sambil memainkan ponsel miliknya, pura-pura menunggu giliran untuk masuk ke dalam juga.


Seseorang keluar dari toilet satunya, membuat dia bisa melihat Fabio disana.


"Mau ke toilet bro? Tuh bekas gue"

__ADS_1


"Thanks bro, gue nunggu yang ini aja"


"Sama aja kali mau pintu yang mana juga, aneh lu!" Katanya sembari mencuci tangan di wastafel.


"Beda lah, yang ini lebih nyaman"


"Kayak mau tidur aja lu, nyari tempat nyaman"


Seusai itu pria tersebut pun keluar dari sana.


"Gue duluan"


"Yo!"


Sepuluh menit berlalu, Fabio tak henti-hentinya mengatakan hal yang sama pada orang-orang yang keluar-masuk toilet kampus.


Pintu yang Lucia pakai dibuka sedikit dari dalam.


"Kak aku udah selesai" bisiknya menyembulkan kepala.


"Udah? Keluar aja, mumpung gak ada siapa-siapa"


Setelah berhasil pergi dari sana Lucia akhirnya bisa jauh merasa lega, perutnya sudah tak begah seperti tadi, sudah bisa bernafas tanpa rasa sesak.


"Makasih banyak kak, udah anterin sekaligus jagain aku tadi"


"Masama, batu yang tadi masih kamu pegang?"


"Udah enggak, aku buang waktu di depan pohon besar itu"


"Ohhh"


"Kak aku balik lagi ke lapangan ya, makasih banyak buat semuanya" Lucia pamit.


Ucapan itu seperti sebuah perpisahan di telinga Fabio, ekspresinya berubah tak seperti sebelumnya. Langkahnya pun terhenti secara mendadak.


"Nanti kita ketemu lagi kan?"


"Di kantin?" Lucia berbalik tanya.


"Kalau bisa jangan cuma di kantin, kalau ketemu dimana pun sebisa mungkin saling sapa"


"Ya, kak"


"Besok kamu ke kampus lagi kan?"


"Iya, besok masih tetap ospek"


"Kemarin aku gak liat kamu, kemana?"


"Kemarin..... Periksa kandungan"


"Sama suami kamu?"


Tadinya Lucia enggan menjawab, tapi kepalanya terlanjur mengangguk.


"Iya" lirihnya.


Fabio membisu, bukankah yang ia dengar ini membuka kedua matanya, kalau wanita di depannya tersebut tak sepantasnya ia kagumi. Sudah jadi milik lelaki lain, haruskah ia menghindari?


Suami, bukan hanya kekasih belaka. Ada bukti cinta juga diantara mereka. Jangan jadi egois hanya karena motivasi semata.


Sudah ada fakta di depan mata, mungkin memang sampai disini, sebatas pengagum rahasia.

__ADS_1


__ADS_2