Lucia, Pesona Maba Hamil

Lucia, Pesona Maba Hamil
Aku Percaya Padamu


__ADS_3

Jangan berulah, kalau ujungnya buat patah.


Sudah banyak cedera yang ku rasa, sebab aku tak berjanji bisa lupa.


Kata-kata yang kau lafal kan, buat hati ini hilang arah.


Tak sedikit pun Lucia menemukan kelebihan dirinya, bisakah ia percaya dengan kalimat yang Fabio tuturkan? Lelaki itu pun bingung manakala ditanya demikian.


Tanpa alasan, mungkinkah cuma akal-akalan?


"Kok gak tau sih"


"Kayaknya karena waktu itu aku dengar motivasi kamu deh"


"Apa hubungannya emang?" Mengernyit heran.


"Dari situ aku mulai menilai karakteristik kamu, terus tiba-tiba kepingin temenan deh" terdengar asal, tapi sedikit masuk di akal.


"Bukan karena kasian liat aku kayak gini?"


"Kayak gini gimana?"


"Ya... Kayak gini, hamil, menyedihkan, dan menjijikan buat sebagian orang" balas Lucia merendahkan diri.


Fabio menampilkan wajah marah, tak suka mendengar kalimat yang terkesan sangat buruk, tak pantas disematkan pada sosok wanita di dekatnya ini.


"Kenapa?" Menciut melihat sorot tajam itu.


Fabio mengapit kedua pipi Lucia dengan tangan kanannya, sembari mendekatkan diri pada perempuan tersebut.


"Kak!"


"Siapa yang bilang kayak gitu?"


"A-aku....." Lucia tergagap, baru pertama dia melihat ekspresi semenakutkan itu dari lelaki ini.


"Jangan sekali-kali bilang kayak gitu lagi, kamu enggak ada kurangnya Lucia"


Deg Deg Deg!


Apa ini?! Kenapa kalimat yang Fabio lontar seolah mengobrak-abrik isi jiwa, Lucia memaku sambil terus memandangi muka lelaki itu.


Tak mengerti kenapa dia bisa begitu baik seperti ini? Adakah secuil saja hal yang bisa dijadikan alasan dengan benar? Ini terlalu berlebihan untuk sekedar dibilang teman.


Teman yang belum seminggu saling kenal, tapi sudah berhasil membuat pikiran Lucia kacau.


Apa sebenarnya mau Fabio? Jangan buat Lucia bergantung padanya, dia belum siap jadi lemah untuk dunia yang terlalu kejam ini.


"Kak....."


"Janji gak akan bilang kayak gitu lagi?"


"Tapi itu emang bener kak"


"Lucia, kamu perempuan hebat yang dipilih Tuhan untuk ngerasain ujian kehidupan. Seperti yang kamu bilang, kamu wanita tangguh dan sempurna versi kamu sendiri"


"Dan kamu harus tetap jadi diri kamu sendiri yang penuh percaya diri, karena aku...."

__ADS_1


"Suka kamu yang seperti itu!"


Tolong!!!


Siapapun tolong aku secepatnya!


Laki-laki ini terlalu berbahaya untuk di pahami.


Melambung tinggi? Tentu saja iya. Perempuan yang tak pernah dipuja-puji seketika punya seseorang yang mengaku sebagai penggemar.


Terlampau baik sampai tidak sadar kalau sikapnya telah diterima secara berbeda.


Lucia berusaha melepaskan lengan Fabio dari wajahnya, tidak baik untuk kesehatan jantung Lucia. Dadanya berdegup kencang, sampai mau lepas dari sarang.


"K-kakak ngomong apa sih? I-itu terlalu berlebihan"


"Apanya berlebihan? Orang aku ngomong jujur kok, emang sih gak ada manusia yang sempurna di dunia ini. Tapi kita harus tetap jadi yang sempurna versi diri kita masing-masing, emang kamu gak kasihan apa kalau ibu kamu denger kamu bilang kayak gini? Sedih dia"


Lucia merasa tertampar, jadi ingat kebiasaan ibu yang selalu mengucir rambut panjang putrinya sembari mengatakan seberapa cantik anak gadis yang telah beranjak dewasa sekarang.


"Anak ibu cantik banget, paling cantik sedunia pokoknya!"


"Kayak siapa?"


"Kayak ibu dong! Lucia itu kan kepanjangan dari lucu, imut, dan ceria"


"Cantiknya mana Bu?"


"Cantiknya gak usah di sebutin lagi, udah langsung keliatan. Kalau dari jauh ibu udah bisa liat kalau itu kamu, soalnya bersinar banget kayak putri"


"Putri? Putri apa Bu?"


Dipeluknya tubuh mungil Lucia dengan sangat erat, masih ingat seberapa lembut dan hangat. Tapi kini wanita yang berumur semakin tua itu malah harus membanting tulang setelah suaminya tiada.


"Lucia? Kamu nangis?"


Lucia mengangkat kepala, kedua matanya sudah berkaca-kaca disertai bibir yang melengkung ke atas.


Astaga! Seberapa bodoh ia? Fabio mengutuk dirinya sendiri karena telah membuat wanita berbadan dunia ini bersedih hati.


Niat hati ingin memberi semangat, malah merubah suasana menjadi darurat.


"Ssshhhh.... Jangan nangis, maafin aku, aku gak bermaksud. Udah ya jangan nangis" bujuk Fabio mencoba menenangkan Lucia dengan mengusap lembut punggung kecil itu.


"Aku kangen ibuuu......." Suara parau nan bergetar tak kuasa membuat Fabio tega.


Diraihnya raga letih itu ke dalam pelukannya, berharap bisa memberi energi untuk membangkitkan kembali jiwa lelah ini.


Nyaman dan hangat, itulah yang Lucia rasakan kala berada dalam dekapan seorang Fabio. Badan besar yang membuat Lucia leluasa menyadarkan seluruh tubuhnya.


Lucia terisak, jarang sekali ia menangis di depan orang lain. Tapi hari ini benar-benar tak bisa dicegah atau ditahan sedikit saja, sisi yang selalu ia sembunyikan mendadak keluar dengan adanya Fabio.


***


Sore Fabio baru hendak pulang, tak ada informasi yang dia dapat seputar Lucia. Hanya menemani wanita itu sambil bercerita tentang hal lain.


Tak mau membuat suasana hati Lucia kian memburuk, lebih baik dia mengalihkan topik lain yang lebih menyenangkan untuk dibahas.

__ADS_1


Ayam tadi tinggal sisa tulangnya, Lucia beri untuk kucing jalanan yang tak sengaja melewat.


"Kamu suka kucing?"


"Iya, hewan kesukaan ku malah"


"Tapi orang tua dulu bilang jangan deket-deket kucing kalau lagi hamil"


"Iya sih, itu juga kalau kucingnya kotor. Makanya harus dirawat supaya gak ada virus yang menyebar" Lucia membetulkan.


Mereka menatap ke arah kucing berwarna Oren disana, asyik melahap sisa makanan yang dia temukan.


"Kucing ini jangan kamu bawa masuk ke rumah, dia kotor"


"Enggak kok, udah lama juga gak pernah pegang kucing semenjak hamil"


Fabio manggut-manggut, ia lantas naik ke atas jok motor dan memasang helm full face miliknya.


"Aku pulang dulu, makasih udah biarin aku mampir ke sini"


"Sama-sama, makasih juga buat makan siangnya. Besok kakak ada kelas?"


"Ada, tapi agak siangan. Kamu besok masuk jam berapa?"


"Pagi, jam delapan"


"Dianter mobil?"


"Iya"


Fabio mengangguk lagi, tadinya mau dia jemput kalau tidak ada yang mengantar. Tapi rupanya sudah ada, Fabio sudah tenang kalau begitu.


"Hati-hati di rumah, kalau ada apa-apa telpon aku" kata Fabio, mereka sudah bertukar nomor sehingga memudahkan keduanya jika ada yang hendak dikabari.


"Mana mungkin aku telpon kakak, keenakan aku"


"Ya elah orang aku yang nyuruh, jangan terlalu gak enakkan jadi orang"


"Iya iya!" Tak mau berdebat panjang, Lucia memilih mengiyakan saja supaya mudah.


"Aku pulang"


"Iya"


"Jaga diri di rumah"


"Iya, kak!"


"Jangan kangen"


"Kakak!!!"


"Hahaha... Sorry sorry, aku berangkat byeeee"


"Bye" balas Lucia.


Seperginya Fabio dari sana tanpa sadar Lucia masih melambaikan tangan, senyum malu-malu hinggap di bibir merah mudanya.

__ADS_1


Dengan siapapun nantinya, semoga disatukan dengan yang tidak gemar merobek kepercayaan.


__ADS_2