Lucia, Pesona Maba Hamil

Lucia, Pesona Maba Hamil
Yang Harusnya Maju Terdepan


__ADS_3

"Uhukk... Uhukk....!"


Lucia langsung tersedak mendengar penawaran Ghani, ini lebih parah dari yang Lucia duga. Apa setelah menginap pria itu akan menawarkan sesuatu yang lebih lagi?


Tidak! Lucia tidak mau!!!


"K-kan udah aku bilang, aku nyaman sendiri" cicit Lucia murung, kenapa Ghani tidak mengerti juga? Padahal ia sudah mengode beberapa kali.


"Tapi aku cemas, lagian cuma sesekali. Mungkin seminggu dua atau tiga ka..."


"Aku tetep gak mau!!" Tanpa sadar Lucia membentak, dengan sendok yang mengacung di genggamannya.


Suasana jadi hening beberapa saat, keadaan yang tadinya santai kini kembali menegang, Lucia bergetar menahan gejolak marah di dalam jiwanya, sangat nampak sampai alat makan yang dipegang pun ikut bergerak.


Ghani menatap datar benda tersebut, lagi-lagi ia melakukan kesalahan.


"Maaf.... Tapi aku sungguh gak mau, aku ingin bebas" lirih Lucia, seperti menahan tangis yang memendat di tenggorokan.

__ADS_1


Ghani mengangguk, ia paham jika mereka tidak sedekat itu, Lucia akan merasa dikekang atas keberadaannya. Meski niat Ghani baik, tapi sosoknya masih menakutkan bagi wanita tersebut.


"Baik, aku gak akan memaksa kamu. Jangan dipikirkan, kamu akan tetap sendiri disini" kata Ghani tak mau Lucia merasa terbebani.


Lucia masih terlihat sendu sambil menatap ke arah piringnya, lagi-lagi ia kelepasan dan tidak bisa mengontrol emosi, Lucia sedih mengetahui sifatnya yang sekarang ini.


Tidak bisa berpikir dengan bijak, hanya ada api yang menyala setiap kali ia bertindak.


"Hey, kamu nangis?" Seru Ghani mendapati Lucia berkaca-kaca.


Namun Lucia buru-buru menggeleng, mengedipkan mata beberapa kali supaya cairan bening itu masuk kembali ke dalam.


Lucia pun melahap sisa suapan terakhirnya, kali ini seleranya hilang di lenyap api dalam diri, begitu besar akibat dari kemurkaan itu, tapi Lucia tetap menghabiskannya sampai bersih.


Sehabis makan malam barulah Ghani pulang, Lucia mengantar sampai depan teras, waktu menunjukkan pukul sebelas malam, Ghani pulang terlambat dari dugaannya.


"Makasih untuk makan malamnya, jangan bergadang malam-malam. Besok berangkat pagi?"

__ADS_1


"Iya, jam setengah delapan"


"Tunggu aku, dan jangan lupa sarapan sebelum berangkat"


"Iya" hanya balasan singkat yang memiliki dua arti berbeda. Seseorang yang sekejap jadi penurut atau seseorang yang ingin mengusir secara halus, entah Lucia ada di pihak yang mana.


Sebelum naik ke mobil, Ghani lebih dulu memandang Lucia lama, seakan kaki itu berat menjauh dari sana. Meninggalkan anak serta istrinya sendirian, bukanlah hal mudah.


Tangan Ghani terangkat dan bersimpuh di atas kepala Lucia, mengelus lembut membuat si empu mendongak melihat apa yang dilakukan Ghani.


"Jaga diri, segera telpon aku kalau terjadi sesuatu"


Lucia tidak menyahut, ia bahkan ragu bahwa nama Ghani yang terlintas lebih dulu.


"Jangan hubungi yang lain" tambahnya penuh arti.


Lucia agak sedikit mengerjap, ucapan Ghani seperti menjawab gumaman hatinya, apa pria itu memang tau yang sedang Lucia pikirkan saat ini?

__ADS_1


"Aku suamimu, maka aku yang harus maju paling depan. Seburuk apapun aku di matamu, tapi kamu tetap tanggung jawab ku Lucia"


Ucapan Ghani lagi-lagi menampar kenyataan yang sesungguhnya, tapi hal itu justru tidak membuat Lucia sadar, laki-laki yang tercatat dalam hidupnya kini bukan orang yang ada di depannya, melainkan seseorang yang sudah membuat ia tertawa dan menyamarkan luka.


__ADS_2