Lucia, Pesona Maba Hamil

Lucia, Pesona Maba Hamil
Ayo Kita Perjuangkan!


__ADS_3

Lagi-lagi aku menyusuri dunia bersamanya, melewati dingin serta panas terik yang membakar kulit.


Sampai surya itu menyerah dan akhirnya menenggelamkan diri.


Tak kurasa waktu berputar seperti sekali denting, begitupula air mata yang senantiasa berjatuhan dalam sekejap mengering.


Kupu-kupu indah senantiasa mengikuti dan berterbangan di sekitaran, tak nampak bak kaca bening yang transparan.


Kini telah ku ketahui, ke pelabuhan mana yang akan ku jejaki, tempat mana yang ku pilih untuk ku singgahi.


Dan jawabannya tentu, adalah bersamamu, langit biruku.


"Udah sore, orang tua kakak pasti nunggu di apartemen"


"Kata siapa? Orang tua aku udah pulang dari kemarin" ujar si pengemudi yang tengah menyetir mobilnya.


"Kok cepet banget?" Sedikit terperangah.


"Emangnya harus berapa lama? Lagian mereka cuma mau mastiin keadaan aku aja, terus juga hari Senin papah udah harus kerja lagi, jadi mereka harus pulang" jelasnya memberitahu.


Lucia manggut-manggut mendengar penuturan Fabio, wajar mereka orang sibuk bukan pengangguran, pasti ada kegiatan penting juga dan tidak bisa menghabiskan banyak waktu untuk tetap berada di tempat sang anak.


"Ngomong-ngomong orang tua kakak kerja apa? Kalau aku tebak pasti punya jabatan tinggi ya?" Tanya Lucia menduga-duga.


Namun Fabio justru tergelak, dasar anak polos, apakah Lucia benar-benar tidak pernah buka internet atau media sosial? Bahkan rektor kampus pun tau siapa orang tua Fabio, sebab sang Ayah menyuntik dana di Universitas tersebut.

__ADS_1


"Enggak juga, cuma Presdir doang" Fabio merendah, tetapi meski begitu orang-orang akan selalu terpana.


"Presdir itu.... Bukannya yang punya perusahaan ya?" Lucia mengingat-ingat.


"Yap! Betul"


Punggung Lucia langsung lemas dan menyentuh kursi mobil, mengetahui Fabio anak orang kaya saja Lucia sudah minder, apalagi ketika ia tau bahwa Fabio adalah anak dari seorang pemilik perusahaan, bagaimana ia tidak rendah diri jadinya.


"Kenapa? Kok kayak syok gitu?"


"Hah?? E-enggak kok" lirih Lucia mengelak, padahal ia amat tak menyangka.


"Jadi setelah kakak lulus kuliah, kakak bakal ngelanjutin perusahaan orang tua kakak?"


"Kayaknya gak langsung jadi Presdir juga, masih banyak yang harus aku pelajari buat megang sebuah perusahaan, lagian Papah aku juga belum tua-tua amat buat pensiun"


"Kak, orang kayak kakak ini harus punya pasangan yang sempurna juga. Emangnya... orang tua kakak bakal ngerestuin kita? Meskipun nanti aku udah lepas dari Tuan, emang mereka ngebolehin kakak menikah sama janda?" Lucia menyampaikan rasa ragu di benaknya, sebab dunia harus dilihat secara realistis.


"Asal kamu tau, mereka itu udah nyerah sama aku. Mereka sebenernya gak berani nentuin percintaan aku, yang penting aku gak ngerusak cewek lain pasti mereka setuju"


Entah Lucia harus lega atau sebaliknya, meski Fabio tidak melakukan tindakan jahat atau pelecehan, tapi dia sudah menjalin hubungan terlarang dengan Lucia yang masih berstatus istri orang.


"Kakak yakin? Aku pernah baca kalau pernikahan bisnis itu beneran ada lohhh"


"Aku gak mau menggadaikan perasaan ku cuma buat urusan bisnis semata, aku tetep cuma pingin sama kamu dan bayi kita"

__ADS_1


"Bayi kita?" Mengulang kata terakhir Fabio


"Iya, si kecil ini" mengusap perut Lucia yang sangat membuatnya candu.


Kenapa Fabio sangat menyukai bayi yang ada dalam kandungannya? Bukankah kebanyakan orang tidak menyukai anak yang bukan berasal dari darah dagingnya?


Fabio hampir sama seperti Jihan, tapi bedanya Jihan menginginkan bayi ini sebab tak bisa dapat keturunan, tapi Fabio bahkan belum mencoba menciptakan darah dagingnya sendiri namun sudah menyayangi bayi Lucia bak anak aslinya.


"Tapi bayinya..... Bakal diambil sama Tuan dan Nyonya, dia gak bakal sama aku begitu lahir"


"Kenapa? Apa karena masalah ekonomi? Kamu percayakan sama aku, aku pasti bisa menafkahi kalian dan kamu tetep bisa kuliah sampai lulus"


"Gak segampang itu, kak. Sebelum menikah, udah ada surat perjanjian kalau aku bakal sepenuhnya nyerahin bayi ini. Saat itu situasinya benar-benar sulit bagi aku, jadi aku tandatangani di atas materai"


Bukan tanpa alasan, saat itu anak umur delapan belas tahun harus mampu mengurus anak yang tidak pernah ia inginkan, ditambah ekonomi yang pas-pasan, dan pengetahuan seputar perjanjian yang belum ia mengerti langsung Lucia bubuhkan di atas selembar kertas yang diberikan Jihan.


Tapi kini, perlahan Lucia mulai mengerti, dan rasa keibuan tumbuh seiring berjalannya waktu, membuatnya sedikit enggan membayangkan perpisahan ia dengan bayinya.


"Aku mau tanya serius sama kamu, apa kamu beneran gak ada niat untuk memperjuangkan bayi kamu?"


"Dulu aku gak berpikir kesitu, tapi meskipun sekarang aku mau. Aku bisa apa kak, kalau aku batalin aku bisa kena tuntutan. Dan aku gak mampu melawan, aku cuma orang kecil yang pasti akan selalu kalah"


Fabio mengerti keluhan yang Lucia alami, tapi jika dipikirkan lagi akan lebih baik jika bayi itu bersama dengan ibu kandungnya daripada bersama ayah kandungnya tapi harus melepas ibu yang telah melahirkannya.


Fabio menggenggam lengan Lucia, menyalurkan sebuah semangat kepada wanitanya.

__ADS_1


"Lucia, aku akan menemani kamu memperjuangkan bayi ini. Ayo kita sama-sama berusaha supaya bayi ini bisa tetap bersama kamu dan aku. Kamu gak akan dipandang kecil lagi kalau bersama aku, jadi jangan takut apapun mulai saat ini. Aku yakin kita bisa mendapat hak asuh suatu saat nanti"


__ADS_2