Lucia, Pesona Maba Hamil

Lucia, Pesona Maba Hamil
Cukup Segini Dulu


__ADS_3

"Makasih kak, hati-hati di jalan"


"Gak akan ngajak aku mampir dulu gitu?" Sahut Fabio ceplas-ceplos, tak perlu basa-basi lagi baginya untuk menyampaikan maksud serta keinginan terhadap wanita ini.


"Gak boleh, bentar lagi pasti turun hujan nanti kakak susah lagi kalau mau pulang" balas Lucia.


"Bagus dong! Aku jadi punya alasan buat nginep, kamu kan juga takut kalau sendirian"


"Nah kan! Kakak pasti punya niat terselubung sebenernya" sudah mengira sejak awal.


"Hihihi.... Tapi kan niat aku baik mau nemenin kamu"


"Gak usah kak, malem ini aku mau tidur cepet biar gak denger suara petir lagi. Atau kalau misal aku butuh temen aku tinggal telpon kakak aja, kita sleep call"


Fabio mendesah pelan, biasanya Lucia mau-mau saja kalau Fabio memaksa, tetapi sepertinya hari ini perempuan tersebut sudah menyusun strategi.


"Bener ya telpon aku, jangan dipaksa kalau misalkan takut. Nanti aku pasti usahain dateng"


"Iya, pokoknya kalau aku gak nelpon kakak itu artinya aku udah tidur. Jadi udah jangan khawatir lagi ya" Lucia menyentuh pipi lelaki yang dicintainya itu disertai senyum yang sangat manis.

__ADS_1


Fabio merasa detak jantungnya berpacu, baru kali ini Lucia berlaku romantis padanya, karena kemarin-kemarin Lucia selalu malu-malu atau segan memperlakukannya. Tapi kini Lucia nampak lebih lepas mengekpresikan perasaan, meski tak jarang masih ketus atau salah tingkah sendiri tetapi kini sudah terlihat kemajuan.


Fabio turut menyentuh tangan yang menempel di pipinya tersebut, "Andai aku bisa milikkin kamu sepenuhnya, gak akan ada halangan buat aku bisa jagain dan ngawasin kamu kapanpun aku mau"


Nada penyesalan dan kesedihan dapat Lucia tangkap dari tiap-tiap kata yang keluar, sayangnya Lucia tak bisa mengizinkan karena ia juga harus mengerti batasan, saling mengungkapkan perasaan saja sudah terlampau jauh, apalagi kalau Lucia terus membuka jalan bisa-bisa mereka terjerumus dalam kesalahan.


Dan Lucia akan jatuh ke dalam lubang yang sama.


"Sabar dulu aja kak, kita juga baru kenalan satu bulanan masa udah mau cepet-cepet nikah, kan gak lucu"


"Habisnya aku tuh gelisah terus kalau mikirin kamu, di otak aku cuma ada kamu, gimana keadaan kamu, kamu lagi ngapain, apa kamu ketakutan, lagi sama siapa kamu, apa ka...."


Fabio setia memandang netra kecoklatan itu yang sungguh menyejukkan jiwa, pertemuan singkat yang sukses membuatnya jatuh cinta untuk yang kedua kali, dan untungnya Fabio menyadari hal itu dengan cepat.


"Sebelum aku pulang ada yang mau kamu pinginin?"


"Udah cukup kak, semua udah kakak lakuin bahkan sebelum aku bilang"


Fabio tertawa kecil, kalau ada satu hal yang belum Lucia dapatkan pasti Fabio beri sebelum wanita itu minta, selain untuk memenuhi kebutuhan serta keinginan wanitanya, juga agar Fabio bisa tenang setelah lepas dari pandangan Lucia.

__ADS_1


"Ya udah, aku pergi sekarang karena kamu gak ngizinin aku buat masuk"


"Kakak marah?"


"Kalau bisa mungkin aku udah marah dari tadi, tapi sayangnya aku lemah kalau berhubungan sama kamu"


Dan raut cemas Lucia seketika berubah lagi menjadi ceria, ia pikir Fabio ngambek sebab melarangnya singgah ke rumah, tapi syukurlah Fabio mengerti meski pasti Fabio kecewa akan keputusan Lucia.


"Besok kita kuliah, kakak harus banyak istirahat. Pasti seharian ini kakak capek...."


"Enggak kok!" Sanggah Fabio cepat.


"Ya pokoknya kita udah nguras tenaga dari pagi sampe sore, jadi malem ini kita isi beterai dulu buat besok"


Lengan Lucia yang Fabio genggam belum juga ia lepas, enggan dan belum ada niat untuk membiarkan wanita ini turun.


Lucia juga bingung kenapa ia seakan membeku disini, ada yang mengganjal melihat Fabio yang lesu begitu, biasanya Fabio selalu menyempatkan senyuman sebelum berpisah dengannya.


"Oke, jangan lupa makan malam" diakhiri oleh kecupan di punggung tangan si wanita.

__ADS_1


Lucia pun keluar dari mobil setelah percakapan panjang yang tiba-tiba muncul begitu saja, tanpa harus capek-capek mencari topik pembicaraan, sudah banyak pertanyaan yang mendesak mereka dan mengulur waktu untuk keduanya berpisah.


__ADS_2