Lucia, Pesona Maba Hamil

Lucia, Pesona Maba Hamil
Seolah Tidak Melihat Keberadaan Ku


__ADS_3

Jam 12 siang para mahasiswa dan mahasiswi banyak beristirahat di kantin, selain untuk makan siang mereka juga sekedar mengobrol dengan para rekan lainnya.


Hal yang sama dilakukan Fabio dan teman-teman, untuk menunggu kelas selanjutnya mereka memilih diam di kantin hingga waktu pembelajaran tiba.


Awalnya mereka asik mengobrol topik lain, namun ketika para adik tingkat datang seketika mata mereka terfokus pada sekumpulan mahasiswa baru itu, apalagi ada Lucia yang ikut disana.


"Yang hamil itu siapa sih namanya?" Ujar Bisma mengamati perempuan berbadan dua tersebut.


"Lucia, kan lu pernah denger waktu dia maju ke depan pas ospek" timpal Dinsa.


"Lupa gue, cuma inget mukanya doang, itu juga karena dia mahasiswa baru yang lagi bunting"


Fabio membisu bak orang yang tidak tau apa-apa, ia hanya menikmati kopi panas yang masih tersisa setengah gelas.


"Bunting bunting gitu juga dibuntingin cowok cakep, bro!"


"Hah? Lo tau suaminya siapa??" Balas Bisma terkejut.


Namun tidak lebih terkejut dibandingkan Fabio, pria itu seketika ikut menatap wajah Dinsa, seakan ingin tau bagaimana sosok suami seorang Lucia.


"Tau, tadi pagi gue liat dia dianterin sama laki-laki naik mobil. Cowoknya tinggi, keliatan dewasa, pake jas kayak orang kantoran yang mau berangkat kerja. Beuhhh.... Cakep banget, umurnya sih gak tau tapi kalau gue tebak usia-usia mau masuk kepala tiga gitu lah" Dinsa mengingat rupa pria yang mengantar Lucia ke kampus saat pagi.


Mendengar itu sontak Fabio menengok ke belakang, menatap dari jauh Lucia yang sedang berbincang bersama teman-temannya.


Fabio jadi penasaran, ia belum pernah melihat rupa dari suami Lucia, hanya namanya saja yang Fabio tau, yaitu Ghani.


"Gue juga kalau cowoknya modelan begitu mah mau aja! Tapi anehnya mereka kok kayak gak akrab gitu gue liat" Dinsa menambahkan, sedikit curiga dengan kedekatan suami istri itu.


"Malu kali, Din. Ini kan area kampus, beda lagi kalau di rumah" Nada menyahut, dan diiringi sorak tawa dari yang lain kecuali Fabio. Pria itu justru memasang wajah serius.


"Hahaha.... Kalau di rumah kerjaannya ambrukin kasur, udah berapa kali tuh ganti ranjang" ledek Bisma tak henti.


BRAKKK!!!


Fabio menggebrak meja, membuat yang lain seketika menghentikan tawa dan menatap bingung pada Fabio.


"Apa sih Fab?!"


Fabio seakan tersadar dari lamunannya, ia sedikit gelagapan. "Sorry, gue lagi banyak pikiran" ucapnya beralasan.

__ADS_1


"Ini nih, ciri-ciri orang sibuk pasti aja banyak pikiran. Nikmatin dulu lah masa muda lo, kalau udah jadi CEO baru lu boleh banyak pikiran" Bisma memberi menasihat, padahal dia juga termasuk orang yang tersesat.


Fabio mencoba mengatur nafas, ia selalu terbawa emosi kalau mendengar perihal pria yang berstatus sebagai suami Lucia itu, pria bejad yang telah merusak masa depan wanita manis tersebut, dan hari ini... Pria itu mengantar Lucia ke kampus? Firasat Fabio mendadak tidak enak.


"Sabar Fab, kalau lo mau lo bisa cerita sama kita. Siapa tau kita punya saran buat masalah Lo" Nada menenangkan Fabio dengan mengusap lengannya.


"Urusin noh laki lo, marah-marah mulu. Belum dapet jatah kali" seloroh Bisma pada Nada.


"Lo kata buruh minta jatah" balas Kean.


"Ya apa ke terserah, yang penting jangan marah-marah mulu. Hidup lebih enak dari kita masih aja banyak pikiran"


"Kayak lu gak pernah marah-marah aja" cibir Kean.


"Itu bukan marah bro, tapi tegas!"


"Elehhhh.... Mata mu tegas, tu air liur ampe bercipratan keluar"


Refleks Bisma menyeka bibirnya sendiri.


"Lu ya! Gue tabok lu" ketika menyadari Kean hanya menjahilinya.


Berbeda dengan Fabio, suara ribut di sebelahnya seolah tidak terdengar, otaknya hanya terkunci pada Lucia, membuat indera pendengarannya pun tidak berfungsi sejenak.


Disudut lain Lucia diam-diam melirik ke arah Fabio berada, suara teman-teman Fabio terdengar sampai ke mejanya dan menyita banyak perhatian, tapi tak sedikit pun Lucia mendengar suara dari lelaki itu.


Padahal ia ada disini, tak sedikit pun Fabio menengok ke arahnya, mungkinkah karena teman-teman? Meski belasan kali Fabio mengelak jika dia malu berdekatan dengan Lucia di depan kawanannya, tapi tak sekalipun Fabio pernah menyapa Lucia dihadapan sahabat-sahabat Fabio.


Jujur aja kak, kamu malu kan sebenarnya. Gak mungkin kamu gak tau aku ada disini, mereka pasti ngomongin aku tadi.


Susah payah Lucia menepis prasangka buruk terhadap Fabio, tapi perasaannya selalu merasa demikian.


***


Tepat jam tiga sore, beberapa mahasiswa ada yang keluar dari kelas dan juga ada yang masuk untuk memulai pelajaran.


Fabio keluar dari kelas setelah mengikuti mata kuliah kedua, ponsel yang menyala masih digenggamannya, ia hendak mengirim pesan pada Lucia, tapi ada yang mengganjal sehingga Fabio belum mengirimnya sampai sekarang.


Lebih baik bertemu langsung saja, ia akan menunggu di luar gedung fakultas.

__ADS_1


Lucia keluar lima menit lebih lambat, begitu melihat Lucia Fabio langsung melambaikan tangan, seolah mengkode jika ia ada disini.


Namun Lucia hanya melihatnya tanpa berjalan mendekat, wajahnya pun datar tidak ada ekspresi ceria.


Mobil yang baru berhenti di depan gedung fakultas membuat tatapan Lucia tertuju kesana, tidak salah lagi Ghani datang sesuai ucapannya. Pria itu keluar dari mobil masih dengan pakaian yang sama seperti pagi hari.


Kalau tadi Lucia mengulur waktu untuk masuk ke dalam mobil itu, kali ini ia malah melangkah ke tempat Ghani berdiri menunggunya.


Pandangan Fabio mengikuti kemana Lucia berjalan, dan tepat di ujung tangga bawah seseorang telah menunggu kedatangan Lucia.


Dia..... Suami Lucia???


Kedua bola mata Fabio terus terpaku pada dua insan tersebut.


"Kamu menunggu lama?" Tanya Ghani.


"Enggak, aku juga baru keluar kelas" Jawab Lucia jujur, ingin sekali ia menoleh ke belakang, ke arah Fabio berada. Apakah lelaki itu melihatnya? Bagaimana reaksi Fabio saat ini? Lucia dibuat penasaran setengah mati, tetapi sekuat mungkin ia tahan.


"Syukurlah, tadi aku terjebak macet, aku pikir kamu sudah pulang naik transportasi umum"


"Bukannya Tuan ngelarang aku untuk pulang duluan?" Tanya Lucia heran.


"Iya, tapi bisa aja kamu mencoba kabur sebelum aku tiba"


Lucia diam, sepertinya Ghani sudah bisa menebak arah pemikiran Lucia, pria ini tau jika Lucia sengaja menghindarinya.


"Ayo masuk, atau kamu masih ada keperluan yang lain?"


Aku ingin melihatnya dulu, tapi.... Ah sudahlah, lupakan saja.


"Enggak, aku mau pulang"


Ghani mengangguk, kebiasaannya membuka pintu mobil untuk Jihan menjadikan pria itu melakukan hal yang sama pada Lucia. Ghani membuka pintu penumpang paling depan.


Dan Lucia tidak menolak, ia masuk ke dalam mobil bersebelahan dengan kursi kemudi.


Di dalam sinilah Lucia baru berani memandang ke arah Fabio, lelaki itu berdiri di pertengahan tangga sambil menatap ke arah mobil ini, sorot matanya seakan menunjukkan ketidakpercayaan.


"Sudah siap? Kita pulang sekarang" mobil pun melaju meninggalkan pekarangan kampus.

__ADS_1


Fabio masih setia memandangi kendaraan tersebut bahkan sampai sudah tidak terlihat lagi.


__ADS_2