Lucia, Pesona Maba Hamil

Lucia, Pesona Maba Hamil
Meminta Restu


__ADS_3

Kabar kedatangan Ibunda Lucia terdengar sampai ke telinga Ghani dan Jihan, sepasang suami-isteri itu sangat antusias ingin segera bertemu dengan wanita setengah baya yang sudah dari kemarin-kemarin mereka tunggu.


Malamnya Jihan dan Ghani langsung siap-siap menuju kediaman Lucia, tak lupa mereka mampir ke sebuah toko makanan untuk membeli buah tangan.


Sesampainya di kediaman Lucia, Ghani maupun Jihan keluar dari mobil sambil membawa beberapa kantung belanjaan.


Ghani tampak gugup dan tegang, saat di rumah ia sudah sangat percaya diri, tetapi ketika disini mendadak nyalinya menciut, ia sangat malu untuk bertemu mertuanya dari istri kedua, sebab pertemuan pertama mereka terbilang bukan pertemuan baik-baik.


Mampukah Ghani menampakkan diri setelah dulu ia dengan tidak tau malunya datang tanpa mengucapkan kata maaf sekali pun.


"Mas" Suara lembut Jihan serta genggaman tangannya membuat Ghani tersadar akan keterlamunan.


"Tenang, mas. Semuanya pasti lancar" senyum hangat Jihan mengalir deras ke lubuk hatinya dan menenangkan kegusaran Ghani yang sedang besar-besarnya.


Ghani menarik nafas dalam dan menghembusnya dengan panjang, setelah mengumpulkan keberanian Ghani mengangguk yakin.


"Ayo, kita masuk" putus Ghani.


Jihan mulai mengetuk pintu, tanpa menunggu lama pintu pun di tarik dari dalam, nampak Lucia yang berdiri disana.


"Kalian udah datang? Silahkan masuk" Lucia membuka pintu lebar-lebar, membiarkan kedua orang yang mengatakan akan kemari itu masuk ke dalam kediamannya.


Jihan melangkah lebih dulu, diikuti Ghani yang mengekori dari belakang.


"Dimana ibu kamu, Lucia?" Tanya Jihan mengedarkan pandangan.


"Lagi ganti baju di kamar, Nyonya"


"Silahkan duduk dulu, biar aku siapkan minum sebentar" sambung Lucia pada kedua tamunya.


Sesuai perintah Lucia, Jihan dan Ghani duduk di sofa menunggu ibu Lucia keluar dari kamar.


"Menurutmu apa beliau mau bertemu denganku?" Ujar Ghani ragu, ia mengusap kedua telapak tangannya gelisah.


"Tentu, mas. Ibu Lucia orang yang baik, apalagi kita kesini juga punya niat baik untuk bertemu. Jadi jangan berpikir negatif terus ya"


Clekkk


Pintu kamar tamu terbuka, bunyi decitan itu menyita perhatian keduanya.


Ghani meneguk saliva dengan susah payah, melihat seseorang yang membuatnya tidak enak perasaan sedari tadi.


"Mas, ayo berdiri" titah Jihan saat ibunda Lucia sudah keluar dari kamar.


Yuni yang tidak tau mereka telah tiba cukup terkejut sampai terbelalak, "Kalian sudah datang rupanya? Ya ampun maaf menunggu lama"

__ADS_1


Yuni menghampiri dan memeluk Jihan lebih dulu.


"Enggak kok, Bu. Kami baru aja tiba" sahut Jihan cepika-cepiki bak wanita yang bertemu pada umumnya.


"Gimana kabar ibu? Sehat?"


"Ibu sehat, nak Jihan. Bagaimana dengan kalian?"


"Kami juga sehat, Bu. Kami jadi enggak enak karena tidak menjemput ibu sewaktu ingin kesini"


"Ah, jangan begitu nak Jihan. Kalian datang saja ibu sudah senang" balas Yuni, ia sangat kagum dengan perempuan muda di hadapannya tersebut, Jihan selalu bersikap sopan santun terhadapnya, meski Yuni adalah mertua dari istri kedua suami Jihan.


Kini Yuni beralih pada pria di samping Jihan, pria itu menyalimi Yuni tak kalah sopan.


"Sudah lama juga ibu enggak melihat Tuan Ghani" serunya tersenyum tulus.


"Panggil Ghani saja, saya juga menantu anda" sahut Ghani kaku, ia tidak terbiasa berbicara santai apalagi di situasi begini.


Yuni mengangguk-anggukkan kepala, meski belum seratus persen yakin namun ia bisa melihat perubahan sikap Ghani.


Mereka pun duduk kembali di sofa, bertepatan dengan Lucia yang datang sambil membawa empat gelas di atas nampan.


"Aduh, nak! Kenapa gak bilang sama ibu? Hati-hati awas jatuh" Yuni dengan cekatan membatu putrinya menaruh keempat gelas tersebut.


"Gapapa Bu" setelah itu Lucia turut bergabung bersama yang lainnya di ruang tamu.


Lucia hanya nyengir sambil memeluk nampan yang dibawanya.


"Ibu kesini naik apa?"


"Naik bis, nak Jihan. Bareng teman ibu yang juga mau ke Jaksel"


"Kami pikir ibu masih beberapa hari lagi datangnya, soalnya waktu nanya ke Lucia pun dia bilang gak tau"


"Iya, tadinya memang gak akan sekarang. Tapi karena pekerjaan udah selesai semua, jadi waktu cuti bisa dimajukan" jelas Yuni menuturkan, ia tidak bermaksud membuat mereka salah paham.


"Ahh.... Jadi mendadak ya? Enggak masalah, yang penting ibu udah sampai dengan selamat"


"Iya, betul. Akhirnya ibu bisa bertemu lagi dengan Lucia" sembari mengusap lengan putrinya.


Menyadari Ghani yang diam saja, Jihan pun menyikut lelaki itu.


"Mas, kasihin bawaan yang kita beli tadi"


"Ah, i-iya"

__ADS_1


Ghani kemudian menyodorkan paper bag itu kepada sang mertua, sangking gugupnya ia tidak sadar kalau kantong tersebut dipegangnya sedari tadi.


"Tolong diterima, bu. I-ini bukan apa-apa, cuma hadiah kecil dari kami"


"Ya ampun, jadi ngerepotin kalian lagi nih. Ibu terima ya, terimakasih banyak"


"Sama-sama, Bu" balas Ghani dan Jihan serempak.


Lucia yang melihat itu jadi aneh sendiri, sebenarnya apa yang dipikirkan Ghani saat ini, pria itu bukan hanya sering perhatian terhadapnya, tapi kini seperti ingin mencari perhatian pada sang ibu.


"Ibu berapa lama disini?"


"Kurang lebih dua mingguan, ibu gak bisa lama-lama cuti"


Mereka pun mengobrol dan bercerita panjang lebar, lebih banyak Jihan dan Yuni yang beradu pertanyaan, yang lainnya hanya diam mendengarkan karena canggung dan tidak tau apa yang harus dibicarakan.


"Lucia, bisa antar aku ke dapur? Sekalian aku mau potong buah melon ini"


"Iya, biar aku anterin"


Jihan sengaja mengajak Lucia beranjak dari sana, Jihan ingin membiarkan Ghani berbicara berdua dengan mertuanya, pria itu pasti ingin mengatakan sesuatu yang pribadi secara empat mata.


Seperginya dua perempuan itu, kini suasana makin tidak karuan saja. Tetapi Ghani tak mau membuang-buang waktu lagi, ini adalah waktu yang pas untuknya.


Hening.


Hening.


Hening.


"Saya..... Ingin minta maaf...." Lirih Ghani menundukkan kepala, belum berani menatap wajah wanita yang sudah melahirkan istrinya itu.


Yuni masih diam, membiarkan Ghani melanjutkan ucapannya.


"Saya bersungguh-sungguh, saya.... Saya ingin mengatakan ini dari dulu, tapi saat itu saya belum memiliki keberanian"


"Saya sungguh menyesal, atas perbuatan saya dulu. Tapi saat ini, saya sadar kalau semua itu pasti rencana Tuhan yang memang harus terjadi pada kita semua. Saya.... Saya benar-benar ingin memperbaiki semua sedikit demi sedikit"


"Maafkan atas perlakuan tidak sopan saya terhadap ibu, dulu maupun sekarang. Saya tau waktu memang tidak bisa diulang, tapi kalau boleh... Saya ingin meminta restu dari ibu, meski rasanya sekarang sudah sangat terlambat"


Kalimat demi kalimat Yuni dengarkan dengan seksama, dan jujur ia tidak bisa menebak keaslian dari ucapan tersebut, tapi Yuni bisa melihat raut penyesalan yang terpampang di wajah tampan pemuda ini.


"Apa itu tulus dari hati nuranimu?"


Dan Ghani mengangguk tanpa ragu-ragu, "Iya"

__ADS_1


"Dan apa permintaan itu juga sebagai pertanda bahwa kamu ingin mempertahankan pernikahan dengan Lucia?"


__ADS_2