
Lucia menunggu dengan gelisah, sudah tiga puluh menit Fabio belum sampai juga.
Lucia khawatir terjadi apa-apa pada lelaki itu, apalagi nomor ponselnya mendadak tidak aktif. Kemana dia sebenarnya?
"Ya Tuhan, kenapa perasaan aku jadi gak enak gini?" Lucia bermonolog.
Di ruang tamu Lucia membiarkan pintu rumah terbuka supaya dia bisa melihat ke jalanan.
Tidak masalah kalau memang tidak jadi datang, asalkan Fabio dalam keadaan baik-baik saja, tidak seperti yang muncul dipikirannya.
Deru motor yang mendekat membuat Lucia berdiri, ia pun berjalan cepat keluar.
Orang yang sedari tadi ditunggu akhirnya sampai, perasaan Lucia campur aduk melihat sosok yang tersenyum ke arahnya.
"Maaf nunggu lama"
"Kakak!!" Lucia menghamburkan pelukan saat orang tersebut mendekat.
Kegelisahan yang Lucia rasa runtuh bersamaan dengan kelegaan yang terbit, hampir saja ia stress memikirkan laki-laki ini tak kunjung datang ke rumahnya.
Fabio terkesiap, tak menyangka Lucia memeluknya seperti ini. Ada apa? Lucia tampak ketakutan dan badannya juga sedikit gemetar.
"Hey, ada apa?"
Fabio mencoba menangkup wajah kecil tersebut, membuat Lucia menengadah ke arahnya.
"Kamu nangis?" Saat menangkap kedua mata Lucia yang berkaca-kaca.
"Aku kira kakak gak bakal datang.... Aku, aku kira terjadi sesuatu yang buruk sama kakak"
Fabio tersenyum teduh mendengar alasan itu, sebegitu khawatir kah Lucia padanya? Ada rasa senang tapi juga bersalah telah membuat gadis manis ini gelisah.
"Aku baik-baik aja, tadi beli bensin dulu makanya lama. Udah ya jangan takut lagi, kan aku udah disini"
"Terus kenapa nomor kakak gak aktif?"
"Tadi sengaja aku matiin soalnya temen aku maksa terus buat ikut kumpul"
Lucia kembali menyandarkan kepalanya di dada bidang itu, Lucia tak bisa memaafkan dirinya sendiri kalau semisal memang terjadi hal buruk pada Fabio.
Sekarang dia sudah ada disini, bahkan Lucia memeluk tubuhnya, tapi rasa cemas belum sepenuhnya hilang.
Fabio membalas pelukan itu tak kalah erat, sepertinya ia sedang ketimpaan rezeki malam ini.
Dingin sekali tubuh Lucia, semakin ingin Fabio memberinya kehangatan.
"Dingin banget badan kamu, kita masuk dulu yu ke dalam. Pelukannya lanjut di dalam aja"
Sontak Lucia mundur dan melepas pelukan mereka, ia tidak sadar memeluk Fabio cukup lama, bisa-bisa Fabio salah mengira.
"M-maaf.... Emm ayo kita masuk"
Mereka pun lantas masuk bersama.
__ADS_1
"Wih udah disiapin minuman segala, enak nih kayaknya"
"Tadi masih dingin, sekarang udah enggak" balas Lucia.
"Gapapa, yang penting buatan kamu pasti enak"
"Ini, pesenan kamu" menaruh martabak di atas meja.
Aroma manis dari box itu membuat cacing di perut Lucia bangun lagi, padahal ia sudah makan malam, tapi mendadak kepingin makanan satu ini, mungkin Lucia sedang mengidam.
"Makasih, kak" dibukanya kedua box yang tersimpan di atas meja.
"Lagi ngidam martabak ya?" Seru Fabio.
"Kayaknya, tiba-tiba aja pingin ini" mengambil satu slice martabak rasa coklat terlebih dulu.
Satu gigitan berhasil masuk ke dalam mulut Lucia, kedua alisnya terangkat ketika melahap makanan satu ini.
"Emm.... Enak banget!"
"Enak dong, kan aku pesen yang spesial" ikut mengambil slice dengan rasa yang sama.
Keduanya menikmati dengan perasaan gembira, padahal tadi siang mereka sudah menghabiskan waktu hampir seharian tapi rasanya masih kurang, sampai malam ini pun mereka memutuskan bertemu lagi.
"Tadi kakak bilang temen kakak ngajak ngumpul, kenapa kakak gak ikut aja?"
"Kan udah ada janji sama kamu"
"Kalau kakak pingin kumpul bareng mereka gapapa kok" merasa tak enak, Fabio lebih memilih bertemu dengannya, padahal berkumpul dengan teman-teman sebaya pasti akan lebih menyenangkan.
"Emang kakak jarang ngumpul-ngumpul gitu?"
"Banget, kalau bukan karena ngehargain mereka aku sih lebih milih sendiri aja"
Lucia masih belum mengerti sikap asli Fabio itu seperti apa? Jika bersamanya Fabio sangat cerewet dan jahil, tapi ketika Fabio bercerita tentang dirinya sendiri, kepribadian Fabio langsung terasa berbeda.
Sepertinya memang punya kepribadian ganda.
"Lain kali kita keliling naik motor malem-malem yuk, kayaknya seru"
Lucia memelankan kunyahannya, "Kapan?"
"Kamu maunya kapan? Aku sih bisa kapan aja"
"Palingan kalau Nyonya lagi gak dateng kesini" jawab Lucia, tidak tentu kapan Jihan akan absen menemuinya. Sehingga Lucia tak bisa membuat jadwal pasti.
"Dia setiap hari kesini emang?"
"Iya, tapi malem pas nyonya pulang kerja"
"Terus kenapa malem ini gak dateng?"
Lucia menghela nafas pelan, malas sekali menyebut pria itu.
__ADS_1
"Suaminya sakit"
Fabio ikut menghentikan gigitannya. Ah, seharusnya ia tidak perlu banyak tanya, mood Lucia pasti rusak mengingat orang tersebut.
"O-ohh... Sakit. Ya, namanya juga manusia"
Tak ingin merusak suasana, Fabio berusaha mencari topik lain.
"Besok ada tugas gak? Kalau ada aku bantu mumpung lagi disini"
"Enggak ada kok"
"Masih semester satu sih, jadi belum terlalu banyak tugasnya. Coba kalau udah semester lima ke atas, ngeri ngeri..."
"Terus kenapa kakak malah keluyuran kayak gini? Pasti kakak banyak tugas juga kan?" Menatap heran pada mahluk di depannya.
"Biasanya sih aku ngerjain kalau udah mepet deadline" ungkap Fabio.
"Lho, kok pas mepet deadline sih?? Kalau gak keburu gimana?"
"Pasti keburu, gak pernah aku telat ngumpulin tugas walaupun jarang banget masuk kuliah" Fabio menyombongkan diri, dulu ia memang jarang sekali masuk kelas apalagi semenjak melakukan terapi ke psikolog, jiwa sosialnya hilang.
Mereka banyak bercerita malam itu, sampai tak terasa dua box martabak habis dilahap bersama. Sampai jam menunjukkan pukul sepuluh lebih lima menit.
"Yah, waktu aku udah habis. Kerasa sebentar banget sih"
Lucia ikut menatap jam dinding, kenapa waktu cepat sekali berlalu? Bisakah diulang beberapa jam lagi? Rasanya belum puas bercerita dengan orang ini.
"Kakak mau pulang sekarang?"
"Emang boleh aku ngulur waktu lagi?" Fabio bertanya balik.
Ditanya begitu Lucia bingung menjawabnya, kalau dia mengizinkan pasti Fabio mengira dirinya ingin terus bersama lelaki itu.
"Aku gak bisa nolak keinginan tamu"
Fabio terkekeh, "Aku pulang aja, gak baik ngajak ibu hamil bergadang, harusnya udah istirahat jam segini"
Lucia mengeluhkan keputusan Fabio dalam hati, tapi ia juga tak bisa mencegah ataupun memaksa agar Fabio tetap disini, lelaki itu juga punya alasan yang tepat.
Fabio berdiri, memakai jaketnya untuk bersiap pulang.
"Makasih kak, udah nemenin aku"
"Aku juga makasih udah diizinin main kesini"
Lucia mengantar Fabio sampai ke teras rumah.
"Tidur yang nyenyak, mimpiin aku"
Lucia memutar bola matanya, tanpa disuruh pun sepertinya memang Lucia akan memimpikan lelaki ini.
Sedangkan Fabio menyalahartikan tatapan itu, dia tertawa sembari mengusap rambut Lucia hingga sedikit berantakan.
__ADS_1
"Aku pulang" Fabio menjauh, menaiki motornya yang besar.
Lucia tak berhenti melambaikan tangan sampai punggung Fabio benar-benar menghilang.