
Senin adalah hari yang dihindari sejuta umat, dimana mereka harus kembali melakukan aktivitas tak henti-henti. Rasa malas menjalari termasuk pada ibu hamil satu ini.
Kelas pagi membuat Lucia bangun sejak waktu subuh, setelah itu ia membeli sarapan di dekat rumahnya, kemudian menghabiskan makanan pagi sendirian.
Semangkuk bubur telah Lucia habiskan, ia tinggal menunggu supir Jihan datang untuk mengantarnya ke kampus.
Sebuah mobil berhenti di depan rumahnya, Lucia segera keluar dan mengunci pintu.
Lucia baru menyadari jika mobil itu berbeda, apa Jihan menggantinya? Pasti banyak koleksi kendaraan yang Jihan punya.
Tapi ketika pengemudi itu keluar Lucia dibuat membeku ditempat, tubuhnya bergetar dengan raut wajah yang menggambarkan keterkejutan.
"T-tuan....???"
Seorang pria dewasa keluar dari mobil sport miliknya, dengan setelan kerja yang melekat di tubuhnya dia menghampiri wanita muda disana, yang lain dan tak bukan ialah istri keduanya.
"Selamat pagi" sapa Ghani agak sedikit kaku.
Lucia tidak membalas sapaan itu, ia dibuat bertanya-tanya dengan kedatangan Ghani disini, mau apa pria itu? Untuk pertama kalinya Ghani datang ke rumah sewanya meski hanya sampai luar saja.
Ghani berdehem guna menghilang kecanggungan diantara mereka.
"Kamu pasti terkejut melihat aku ada disini. Hari ini aku yang akan menjemput kamu, supir Jihan ada urusan jadi dia berhalangan menjemput kamu" tuturnya.
"D-dimana Nyonya?" Cicit Lucia, mengalihkan pembicaraan seolah tak peduli dengan alasan pria ini datang.
"Jihan enggak ikut bersamaku"
Mimpi apa ia semalam sampai pagi-pagi harus dipertemukan dengan lelaki yang sangat ia hindari, dan apa tadi? Ghani mau menjemputnya? Oh Tuhan, lebih baik ia naik angkutan umum saja daripada harus berduaan di dalam mobil dengan pria yang berstatus suaminya ini.
"T-tuan harus berangkat kerja, a-aku pesan ojek online aja"
Ghani menghela nafas berat, ia paham Lucia berusaha menghindarinya, tapi Ghani tak bisa membiarkan itu terus terjadi.
"Kenapa harus repot-repot? Aku sudah disini, kita berangkat bersama"
"Aku.... Aku pasti ngerepotin Tuan" Mencoba bersilat lidah.
"Kalau aku merasa direpotkan sudah dari awal enggak datang kesini, justru akan lebih repot kalau kedatangan aku jadi sia-sia karena gagal mengantar kamu" balas Ghani.
Kalau tau begini sudah sejak tadi Lucia memilih berangkat sendiri, kenapa juga Jihan tidak memberitahunya kalau sang supir ada halangan? Sekarang bagaimana lagi cara agar ia bisa menjauh dari seorang Ghani?
__ADS_1
"Masuklah, kamu bisa telat kalau mikir terlalu lama" titahnya.
Tapi aku enggak mau! Teriak Lucia dalam hati.
Dilihatnya jam tangan yang menunjukkan pukul tujuh lebih tiga puluh, setengah jam lagi kelas dimulai, Lucia makin panik dibuatnya.
"Ayo, jalanan macet di hari Senin. Kita bisa sampai satu jam kalau enggak cepat-cepat" Ghani mengajak lagi.
Dengan berat hati Lucia pun menerima tumpangan pria berkepala tiga itu, Lucia membuka pintu mobil dan duduk di kursi penumpang yang berada di baris kedua.
Ghani ikut masuk, melihat Lucia yang duduk dibelakangnya tak membuat Ghani protes, ia tetap menyalakan mobil dan mengantar Lucia sampai ke kampusnya.
Di sepanjang perjalanan tak ada obrolan diantara keduanya, Lucia terus memalingkan muka ke luar jendela, dan Ghani fokus menyetir.
Jari-jemari Lucia saling bertautan, sebab ada rasa tak nyaman berada dalam satu ruangan dengan suaminya.
Jalanan yang macet mengharuskan Lucia bersabar, sekitar dua puluh menit barulah mereka sampai.
"Itu gedungnya kan?" Melihat dari dalam mobil.
"I-iya, aku turun Tuan. Makasih tumpangannya" Lucia membuka pintu mobil dan segera meloloskan diri.
Namun sayang, Ghani justru ikut turun dan memanggil Lucia sehingga perempuan itu pun berbalik lagi.
"Nanti pulangnya aku jemput, pulang jam berapa?"
"E-enggak perlu Tuan! Aku pulang sendiri aja" tolak Lucia dengan cepat.
"Pulang jam berapa?" Desak Ghani, tidak mengindahkan penolakan istri kecilnya.
Lucia jadi bungkam, alasan yang ia gunakan sepertinya tidak akan berguna, setelah sembuh dari sakitnya Ghani terlihat menakutkan lagi bagi Lucia.
"Jam tiga" jawab Lucia pasrah.
Ghani mengernyit, "Apa aku gak salah mendengar? Kenapa lama sekali?"
"Kuliah pagi sampai jam sepuluh, dilanjut siang jam satu sampai jam tiga" jelas Lucia menjabarkan.
"Kamu bakal pulang dulu sesudah kelas pertama selesai?"
"Enggak, aku istirahat di kantin sama teman-teman"
__ADS_1
Ghani mengangguk-anggukkan kepala, tadinya ia berniat menjemput Lucia kalau sekiranya wanita itu mau pulang dulu ke rumah.
Beberapa teman sekelas Lucia memerhatikan sepasang suami istri itu dari jarak yang lumayan jauh, mereka berbisik-bisik terkait pria yang kini tengah berbincang dengan Lucia, mereka menebak kalau orang itu pasti suaminya.
"Jangan lupa makan, bayinya.... Sedang baik-baik saja kan?" Melirik ke arah perut Lucia.
"B-baik...." Lucia segera menutupi perutnya dengan kedua tangan, malu dilihat Ghani seperti itu.
"Syukurlah kalau begitu, aku pergi sekarang. Tunggu aku jam tiga nanti, jangan mencoba pulang sendiri" Ghani berpesan.
Lucia tak menjawab, ia menunggu sampai Ghani membiarkannya pergi.
"Kamu masuklah ke dalam kelas, aku juga mau pergi sekarang" titah Ghani.
Tanpa menunggu lagi, Lucia berlalu dari hadapan sang suami.
Ghani menatap punggung itu sampai benar-benar tak terlihat, barulah ia masuk ke dalam mobilnya.
***
"Tadi itu suami kamu, Lucia?" Tanya teman sekelas yang tadi sempat melihat momen mereka berdua.
Lucia yang sedang menulis materi harus terjeda karena mendapat pertanyaan ini. Beberapa teman berdiri di depannya menunggu jawaban Lucia.
"Iya" jawab Lucia seadanya.
"Tuh kan bener tebakan aku!"
"Beda berapa tahun sama kamu? Keliatannya dia dewasa banget" menggali informasi terkait hubungan Lucia.
"Iya nih, badannya tinggi, tegap, terus pake jas lagi" sahut yang lain membenarkan.
Lucia membiarkan orang-orang itu berceloteh, tak ada kewajiban untuknya menjawab rasa penasaran mereka, kalau jujur pun Lucia tak kuasa, seakan ia mengakui kalau Ghani benar-benar suami yang ia anggap.
"Maaf ya aku gak bisa jawab semua pertanyaan kalian, mungkin lain kali"
"Yahhhh kenapa? Padahal tinggal jawab aja" keluh mereka mendesah.
Lucia menampilkan senyum simpul, sungguh ia ingin melelapkan diri ke lubang semut terdalam, malu ditanya hal-hal pribadi apalagi soal pernikahan yang Lucia sendiri malas mengingatnya.
Belum lagi sehabis pulang dari apartemen Fabio mood Lucia belum membaik, ditambah kemunculan Ghani semakin membuat suasana hatinya memburuk.
__ADS_1
"Oh iya, terus kenapa kamu suka pulang bareng kak Fabio? Anak ekonomi semester 7. Kok kalian bisa kenal?"
Lucia dibuat pening dengan sekumpulan pertanyaan tersebut, kenapa dua laki-laki itu selalu membuatnya pusing!!