
Di tinggalkan sendiri sejenak membuat Lucia bisa bernafas lega, ia ingin pergi dari tempat ini sesegera mungkin, Lucia belum siap bertatap muka dengan orang tua kandung Fabio.
Jangankan orang tua, dengan teman-teman Fabio saja Lucia selalu pura-pura tidak melihat ketika mereka ada dalam satu tempat yang sama.
Apalagi ini, kebahagiaan yang beberapa menit lalu terjadi berubah menegangkan. Lucia seakan hendak diinterogasi secara mendadak.
Ibu Fabio datang dengan membawa secangkir jus jeruk, menyimpannya di atas meja tepat di depan Lucia.
Lucia tak tergiur dengan minuman itu, tenggorokannya sudah basah oleh air liur yang tiba-tiba memproduksi lebih banyak dari pada biasanya. Namun malah membuatnya tersendat untuk mengeluarkan suara.
"Temen kuliah Fabio?" Serunya sambil ikut duduk di hadapan Lucia.
Lucia mengangguk pelan, "I-iya"
Yesa menelisik ekspresi perempuan muda itu, terlihat seperti orang yang ketakutan, atau mungkin gugup yang berlebihan.
Yesa semakin gundah gulana, apakah kedua orang itu memang telah membuat kesalahan fatal?
Ya Tuhan, ia tidak akan bisa memaafkan dirinya kalau sampai Fabio benar-benar telah melakukan sesuatu seperti yang ia pikirkan.
"Sekelas sama Fabio?" Pembawaan Yesa yang tenang memberikan dampak positif bagi lawan bicaranya.
"B-bukan, aku adik tingkat kak Fabio" jelas Lucia.
"Santai aja bicaranya, gugup ya karena baru pertama kali bertemu kami?" Yesa mencairkan suasana, tawa kecil serta senyum manis itu ia tampilkan senatural mungkin.
"Tadi namanya Lucia ya? Ada tugas kuliah hari ini bareng Fabio?" Ucapnya menerka.
Lucia menegakkan punggung supaya aliran oksigen berjalan dengan lancar, ia akan mencoba bersikap rileks agar tidak menimbulkan kecurigaan.
"Enggak Tante, aku... cuma anter kak Fabio kesini, tadi kebetulan habis sarapan bubur di jalan"
"Ohh.... Memang kamu tinggal di dekat sini juga?"
"Lumayan dekat, sekitar lima belas menit"
Yesa manggut-manggut mendengar pengakuan Lucia, tapi ia yakin bahwa kebersamaan sang putra dengan gadis ini sekarang bukanlah suatu ketidaksengajaan.
"Perut kamu besar... Lagi hamil?" Sebisa mungkin ia bersikap tenang, tidak menampakkan keterkejutan yang akan membuat lawan bicaranya tersinggung.
__ADS_1
Mendengar itu Lucia spontan memegangi perutnya, sedikit malu dengan kondisinya saat ini.
"Emm.... Iya"
"Berapa bulan?"
"Enam, Tante"
Sudah lama juga, sepertinya bukan Fabio yang menghamili gadis tersebut, sebab selama enam bulan kebelakang ini Fabio berada dalam jangkauan serta pengawasan orang tua, lelaki itu tengah berada didalam tekanan mental sehingga sulit untuk sekedar bersosialisasi.
"Udah kenal lama sama Fabio?"
"Baru satu bulanan, soalnya aku mahasiswa baru di kampus" ujar Lucia, ucapannya tidak lagi terbata-bata seperti tadi, Lucia sudah mulai bisa mengatur dirinya.
"Berarti baru semester satu? Kok bisa akrab sama Fabio? Ngomong-ngomong maaf ya kalau Tante banyak tanya" merasa pertanyaannya agak terkesan mengintrogasi, sehingga membuat perempuan ini tak punya kesempatan untuk bertanya.
"Gapapa Tante, maaf juga kalau aku jadi ganggu acara keluarga kalian. Aku..."
"Enggak kok, Tante cuma mau ngecek aja kondisi Fabio. Dari kemarin mimpiin dia terus, jadi mumpung hari libur kami kesini deh"
Lucia merasa bersalah, karena dirinya orang tua Fabio jadi harus dibuat menunggu putra mereka sejak semalam.
Yesa merasa amat bahagia mendengar tawa ceria yang sudah lama tak di dengarnya, bahkan ia lupa kapan terakhir Fabio tersenyum.
Sedangkan di ruangan yang lain, tepatnya di balkon kamar, kedua lelaki berbeda generasi itu berdiri saling bersisian, yang satu sibuk bertanya dan satu lagi menjelaskan.
"Aku enggak menghamilinya, dia punya suami dan aku pernah bertemu orang itu" ujar Fabio menatap lurus ke depan.
"Lantas kalau kamu tau dia punya suami, kenapa sekarang dia ada bersama kamu. Dan kamu nekat membawanya masuk ke apartemen"
"Semua temanku boleh kesini" balas Fabio sesingkat mungkin.
"Dia bersuami Fabio, bagaimana kalau suaminya tau?"
"Mereka tidak saling mencintai" ujar Fabio lagi.
Sandi menatap tak percaya, lalu apa hubungannya jika pernikahan orang tidak dilandaskan dengan cinta? Fabio tetap tidak boleh membawa istri orang masuk ke apartemennya.
"Jawaban kamu sangat ambigu, jangan bilang..."
__ADS_1
"Ya, aku mencintainya!" Potong Fabio.
Dan ketakutan Sandi pun terjadi juga, apakah masalah mental pada akhirnya mempengaruhi seseorang untuk menyukai pasangan yang sudah menjadi milik orang lain?
"Jangan bikin Papa dan Mama pusing, Fabio. Jalani lah percintaan yang normal-normal saja, kenapa harus perempuan yang sudah menikah?! Dunia ini tidak kekurangan wanita asal kamu tau"
"Aku tidak akan merebutnya sekarang" sambung Fabio membuat sang ayahanda mengernyit heran.
"Lantas?"
Fabio mengedikkan kedua bahu, "Aku akan menunggu sampai mereka berpisah"
"Astaga, Fabio!! Kamu benar-benar membuat kami pusing untuk yang kesekian kali" Imbuh Sandi sambil menutup wajahnya dengan satu tangan, ia tidak mengerti lagi dengan jalan pikiran putranya.
Fabio tidak peduli, dengan atau tidak restu orang tuanya ia tidak bisa melepas Lucia. Hatinya sudah jatuh pada wanita tersebut.
Semakin hari hanya ada nama Lucia yang terpampang, ada sesuatu yang tidak orang lain miliki dalam diri Lucia, dan itu sangat menyiksa batin Fabio.
"Jadi ini alasan kamu tidak ada tadi malam? Kamu menemaninya dimana?"
Sejujurnya ia pun belum siap mengatakan seberapa jauh kedekatannya dengan Lucia, sebab akan banyak orang yang berburuk sangka tidak hanya kepadanya, tapi juga pada wanita yang ia cintai.
"Di rumahnya" jawabnya jujur.
"Dan kemana suaminya? Tidak mungkin dia membiarkan kamu menemani istrinya di rumah"
"Mereka gak serumah, dia enggak tau aku ada disana"
Sandi semakin di buat frustasi, ia tidak menyangka putranya akan segila ini dalam mengarungi suatu hubungan, perasaannya bahkan bisa dibilang cinta terlarang.
"Jangan mendoakan hubungan orang yang jelek-jelek, nak. Meski mereka tidak saling mencintai tapi ada anak yang akan lahir dan butuh kedua orang tuanya. Jangan egois demi nafsu kamu sendiri" pinta Sandi menasehati, berharap mata Fabio bisa lebih terbuka.
Fabio membisu, hal inilah yang masih menjadi beban pikirannya. Fabio bisa menerima anak itu dan menyayanginya sepenuh hati, tapi ia ragu bisa memberikan apa yang dibutuhkan manusia kecil tersebut, sebab sambung tak sebanding dengan kandung.
Lucia mungkin akan tetap bersama suaminya kalau Fabio tidak bertindak, semua keputusan itu kini ada padanya.
"Pikirkan Fabio, mumpung belum terlampau jauh. Cukup menjadi teman baiknya saja, kamu masih terlalu labil untuk jadi orang tua" tutur Sandi penuh harap.
"Papa dan Mama akan selalu dukung hubungan kamu dengan siapapun, apalagi kalau kamu sudah melupakan kesedihan di masa lalu, tapi tidak dengan istri pria lain Fabio!"
__ADS_1