
Sayap merpati itu seakan patah dihujam anak panah.
Menusuk sampai berdarah-darah, diiringi harapan hidup yang perlahan musnah.
Sempat mengira bahwa kejutan itu diperuntukkan untuknya, dari dia yang selalu ada bagaimana pun situasinya.
Namun kebiasaan tak seterusnya dilakukan, dan itulah pertanyaan yang belum sempat terjawab kan.
Satu-satunya dugaan yang ada adalah pada lelaki di sebelahnya sekarang, dibalik sikap anehnya kini menimbulkan opini jika dialah orangnya.
"Tuan...." Lirih Lucia membuka suara.
"Kenapa?" Tanpa mengalihkan perhatian dari jalanan.
Lucia ragu, haruskah ia bertanya tentang hal itu. Tapi Lucia penasaran, bagaimana jika bukan dari Ghani? Itu akan jauh lebih menakutkan.
"Aku mau bertanya, emm.... Apa, apa Tuan yang pesan martabak tadi malam untuk aku?" Akhirnya pertanyaan diujung lidah itu keluar juga.
Dan itu membuat Ghani menoleh pada Lucia, tapi tak lama ia langsung terfokus kembali ke depan.
"Apa makanannya habis?" Yang justru membalik tanya.
"Jadi benar dari Tuan?"
Ghani menghela nafas, bukankah seharusnya Lucia tau jawabannya.
"Iya, aku yang pesankan"
"Kenapa?" Lucia heran, sebab ia tidak meminta dan tidak akan pernah sebenarnya.
"Jihan menyarankan aku untuk membeli sesuatu buat kamu, aku membelinya lewat aplikasi dan hanya ada martabak yang tersedia. Jadi aku pesankan saja itu" jelas Ghani memberitahu, memang ini bukanlah inisiatif darinya, melainkan dari istri pertama.
Mungkin karena akhir-akhir ini Jihan sedang sangat sibuk dan supir pribadinya pun ada urusan sendiri, semua urusan terkait Lucia diserahkan kepada Ghani untuk sementara waktu, tapi tentu tak luput dari perintah seorang Jihan.
Tau begitu aku gak usah membahasnya sama kak Fabio.
Malu sekaligus sedih juga, apa kira-kira tanggapan Fabio terkait kesalahan pahaman itu.
"Apa martabaknya enak?"
Awalnya sangat nikmat sampai tadinya Lucia mau membeli sendiri nanti malam, tapi setelah mengetahui siapa si pemberi yang sebenarnya Lucia mendadak tidak berselera.
"Enak" jawab sekenanya.
"Apa kamu habiskan?"
"Enggak, aku masukin kulkas"
Lucia hanya memakan sampai lima potong saja, tidak seperti ketika bersama Fabio, makan sendiri lebih terasa kenyang rupanya.
__ADS_1
"Nanti mau pesan apa? Katakan saja agar aku juga tidak bingung memilihnya" .
"Enggak usah, Tuan. Nanti aku beli aja di sekitar rumah"
"Jangan sungkan, kalau kamu mengidam sesuatu akan aku usahakan untuk membelinya" tutur Ghani membuat Lucia tanpa sadar menatap laki-laki disampingnya ini, apakah ia tidak salah dengar? Kata-kata itu terdengar berasal dari diri Ghani sendiri bukan suruhan orang lain.
"Biasanya ibu hamil suka mangga muda, apa kamu juga begitu?"
Sepertinya Ghani mulai membaca hal-hal seputar kehamilan.
"Enggak pernah, aku enggak terlalu suka buah yang asam dari dulu"
"Ya, memang tidak baik memakan buah yang belum matang"
Mereka pun kembali terdiam setelah mengobrol cukup panjang, siang hari yang panas membuat Ghani tiba-tiba menepikan mobilnya di depan toko es krim.
"Aku mau beli es krim dulu, kamu mau?" Ghani menawarkan.
Awalnya Lucia tidak berminat, namun ketika melihat menu yang dipajang di depan tokonya membuat ia jadi ngiler dan tertarik.
"Apa boleh?"
"Aku tidak akan menawari kamu kalau tidak boleh"
"Emm... Aku mau satu"
"Rasa apa?
"Baiklah, tunggu disini" Ghani keluar seorang diri untuk membeli makanan dingin satu ini.
***
Lucia tidak berhenti menjilati es krim yang dia pegang sedari tadi, manis dan dingin memanjakan tenggorokan dikala terik matahari sedang panas-panasnya.
Ghani menahan senyum melihat sikap Lucia yang masih seperti kanak-kanak.
Memang benar kata Jihan, jika sedang menghadapi Lucia memang harus kita duluan yang berinisiatif, kalau tidak maka Lucia akan tetap diam seribu bahasa.
"Seharusnya aku beli tiga tadi, es krim mu sudah mau habis"
Lucia menghiraukan ucapan Ghani, ia tetap menikmati es krimnya yang semakin meleleh, Lucia tak mau mengotori mobil pria itu.
Hingga mobil tiba di halaman rumah Lucia, perempuan itu tetap setia duduk sebelum menghabiskan makanannya.
"Pelan-pelan, tidak ada yang akan memintanya darimu"
"Hmm... Tapi ini meleleh"
Ghani pun mengambil tissu di dalam dashboard lalu memberikannya pada Lucia.
__ADS_1
Hingga suapan terakhir berhasil masuk ke dalam mulutnya, barulah Lucia bersiap untuk turun.
"Besok berangkat jam berapa?"
"Tuan yang jemput lagi?"
"Ya, masih aku"
"Sama kayak hari ini, tapi besok pulangnya jam tiga sore"
Ghani manggut-manggut setelah mengetahui jadwal kuliah Lucia besok, berarti ia akan ke kantor lagi setelah mengantar Lucia.
Perihal kampus, Ghani jadi penasaran dengan lelaki yang tadi berbicara bersama Lucia, Ghani seperti menangkap ketidaksukaan dari pancaran orang tersebut.
"Tadi itu... Teman sekelas kamu?"
"Yang mana?"
"Laki-laki yang tadi mengobrol dengan kamu saat aku datang"
Ingatan Lucia langsung terarah pada Fabio, siapa lagi memang laki-laki yang suka bercakap dengannya selain Fabio.
"Kakak tingkat"
"Bagaimana kamu bisa kenal dia? Dia bukan teman sekelas kamu"
Lucia tidak berminat menjelaskan pertemuannya dengan Fabio dari awal kepada Ghani, maka dari itu Lucia hanya menjawab seadanya.
"Ya bisa aja, dia kakak tingkat aku dari jurusan yang sama. Hampir semua mahasiswa juga tau siapa dia"
"Oh ya? Tapi keliatannya dia orang yang sombong"
Lucia langsung menatap bingung, sombong dari mananya? Justru Fabio orang baik pertama yang Lucia temui sejak mengikuti ospek.
"Enggak kok, kenapa Tuan ngira dia sombong?"
"Entahlah, dia keliatan tidak suka sewaktu melihat ku"
Benarkah begitu? Apa karena Fabio tidak suka ia dijemput oleh Ghani? Fabio memang memasang wajah datar sedari tadi. Pikir Lucia.
"Dia emang cenderung dingin sama orang yang belum dikenal" imbuh Lucia.
Ghani mendengar dengan seksama, tapi tetap firasatnya bertolak belakang dengan apa yang di sampaikan oleh istrinya ini.
"Meski pun begitu, aku harap kamu tidak terlalu dekat dengannya"
Hah! Kenapa Ghani jadi suka mengatur dirinya sekarang?? Lucia masih terima kalau Ghani mengatur soal kehamilannya, tapi ini sudah di luar konteks keterkaitan.
"Kenapa? Bukannya kita gak boleh pilih pilih dalam berteman"
__ADS_1
"Ya, tapi dia seorang laki-laki. Mau sebaik apapun dia kamu harus tetap jaga jarak, perasaan ku seperti mengatakan dia mau merebut sesuatu"