
Mereka pamit dari makam usai berziarah sebentar, kedua tangan itu saling bergandengan tanpa mau di lepas, semenjak mereka mengutarakan perasaan masing-masing, Fabio maupun Lucia ingin terus menempel bak pengantin baru.
Wajar saja, keduanya masih terbilang anak muda yang dimabuk cinta. Apalagi Lucia, perempuan itu baru pertama kali merasakan cinta yang sesungguhnya, bukan sekedar cinta monyet semata.
"Silahkan Tuan putri" membukakan pintu mobil untuk Lucia.
Dan yang dipersilahkan tersenyum malu-malu, kedua pipinya bersemu kemerahan, sangat menggemaskan membuat Fabio ingin mengigit bagian itu.
"Makasih" balasnya sembari masuk ke dalam kendaraan.
Fabio memutari mobil dan ikut masuk kesana.
Ketika menyetir pun Fabio tetap menggenggam lengan Lucia, sedangkan tangan satunya lagi memegang stir agar mobil tetap terkendali.
"Kak, lepas dulu aja. Bahaya nyetir cuma satu tangan"
"Tenang aja, aku udah biasa kok nyetir kayak gini"
"Beneran? Soalnya ini kan pertama kali aku dibonceng naik mobil sama kakak"
__ADS_1
Fabio terkekeh, ia pun mengecup punggung tangan Lucia sebagai pelampiasan dari sikap polos Lucia yang membuatnya gemas.
"Iya, sayang. Beneran"
Lagi-lagi Lucia tersipu dengan panggilan spesial yang terdengar berbeda dan lebih mendebarkan kali ini, ia belum terbiasa meski pernah mendengarnya.
Mungkin mulai hari ini ia harus bisa menyesuaikan kondisi, sebab Fabio mungkin akan memanggilnya demikian disaat mereka sedang berdua.
"Kakak gak kuliah?" Lucia mulai mengalihkan topik pembicaraan, ia juga heran sebenarnya kenapa Fabio tidak berangkat ke kampus, biasanya hari Senin lelaki itu ada jadwal pagi juga.
"Aku izin, tadinya sih mau kuliah beres pulang dari makam. Tapi berhubung ketemu kamu di luar jadi ya udah sekalian bolos aja, hehe" jelasnya cekikikan.
"Kak, kayaknya aku bawa pengaruh buruk deh di hidup kakak" lirih Lucia berpikiran negatif.
"Hah? Kenapa gitu?"
"Soalnya setiap sama aku kakak selalu ngelupain hal penting lainnya, kakak selalu memprioritaskan aku dibandingkan yang lain, padahal ada yang lebih penting. Kalau sama aku kakak jadi bolos kuliah, kemarin juga kakak jadi ngabisin waktu seharian bareng aku daripada orang tua kakak. Aku jadi ngerasa.... bawa pengaruh buruk" tutur Lucia panjang lebar.
"Ssstttt..... Jangan ngomong gitu, siapa yang bawa pengaruh buruk? Kamu? Justru sebaliknya. Kamu yang bawa warna di hidup aku, andai aku gak kenal kamu mungkin sekarang aku masih ada di jalan yang suram. Mungkin sekarang, aku masih sibuk menyesali perbuatan aku di masa lalu" Fabio mengkoreksi dengan cepat, tak pernah ada sekalipun wanita ini menjadikannya buruk.
__ADS_1
"Asal kamu tau, dulu tuh bahkan satu semester aku cuma hadir sepuluh kali, sisanya bolos semua. Sekarang sih udah mulai mendingan rajin masuk, soalnya jadi semangat kalau ketemu kamu. Kalau soal orang tua, aku memang orangnya tertutup banget, apalagi semenjak Mentari meninggal aku sama sekali gak bisa berkomunikasi sama siapapun termasuk sama Mama dan Papa, mau mereka dateng atau enggak ya kita cuma ngobrol seadanya jadi gak ngabisin banyak waktu meski ketemu"
Fabio menjelaskan sejujur-jujurnya dan memang begitulah fakta yang ada, dulu ia lebih parah dari yang Lucia lihat saat ini, keinginan untuk hidup pun rasanya sudah tidak ada lagi, Fabio pernah berkeinginan untuk mengusul Mentari.
"Aku cuma khawatir aja, soalnya kakak yang udah sempurna gini sayang banget kalau dirusak sama aku, kan?" imbuh Lucia.
"Kalau dirusak sama kamu mah boleh-boleh aja, aku rela seratus persen. Detik ini pun aku mau, ayo rusak aku"
Sontak Lucia melotot dan menarik lengannya secepat mungkin, perkataan Fabio malah bercabang kemana-mana.
"Ih kakak! Aneh banget deh mikirnya"
"Dari pada aku dirusak sama orang lain, mending sama kamu aja. Kita kan saling mencintai, jadi bisa langsung nikah deh" selorohnya.
"Tuh, kan. Kakak gak nyambung lagi deh kalau ngejawab"
Walau seringkali kesal dengan kelakuan Fabio, sayangnya Lucia tetap ingin berada disamping lelaki ini, meski pun kepalanya selalu dibuat mendidih.
"Gapapa, tolong rusak aku ya"
__ADS_1
"Kak!!"