Lucia, Pesona Maba Hamil

Lucia, Pesona Maba Hamil
Bulan Terindah


__ADS_3

🎶Kini aku mengerti, semua ini terjadi


Tak dipungkiri, hanya kamu yang kumiliki


Bumi di kala sunyi, kamu takkan sendiri


Aku di sini menantimu kembali


Andai saja ku bisa


Genggam tanganmu


Takkan ada kata rindu


Di dalam hatiku


Tahukah dirimu betapa diriku


Merindukan hadirmu ada di sini?


Percayalah, Kasih


Jarak dan waktu tak mampu menghapus


Janji setia menjaga hati🎶


Musik yang diputar melalui radio itu seakan ditunjukkan khusus untuknya, sambil menatap bulan yang dipenuhi bintang-bintang, Lucia menikmati malam di dalam kamar sendirian.


Merasa sunyi, Lucia mulai dilanda ketakutan. Dia pun mengambil radio mini untuk menemaninya sampai rasa cemas itu menghilang.


Tapi lagu yang dia tangkap malah membuatnya galau, lirik yang dinyanyikan malah mengingatkan Lucia pada sosok langit biru berwujud manusia.


Sedang apa dia?


Apakah dia juga tengah menatap langit seperti dirinya?


Bulan malam ini cukup indah, meski tak seterang kemarin.


Drtttt.... Drtttt....


Getar ponsel membuyarkan lamunan Lucia, di tatapnya benda yang tergeletak di atas nakas itu.


Kakinya yang sudah mulai membengkak terasa nyeri untuk sekedar menginjakkan kaki di atas ubin.


Tapi satu nama yang muncul di otaknya membuat Lucia bangkit perlahan-lahan ke arah sana.


Diambilnya gawai berukuran enam inchi tersebut, satu nama dilayar ponselnya menghancurkan harapan Lucia.


'Nyonya Jihan Calls'


"Aku pikir yang menelpon itu...."


Lucia mendesah, diangkatnya sambungan telpon itu.


"Lucia?"


"Iya, Nyonya?"


"Maaf Lucia kayaknya malam ini aku gak bisa datang kesana, mas Ghani tiba-tiba sakit jadi aku harus merawatnya"


Lelaki itu sakit? Saat mereka bertemu di dokter kandungan tampaknya masih sehat dan bugar. Entahlah, apa yang membuat pria tersebut bisa jatuh sakit, Lucia pun tak penasaran sama sekali.


"Ya Nyonya, gak masalah. Aku baik-baik saja kok"


"Jangan lupa makan malam dan minum obat dari dokter, sudah?"


"Sudah, Nyonya. Jangan khawatir"


"Syukurlah, jaga diri disana. Kalau ada apa-apa hubungi aku"


"Iya, Nyonya"


"Aku tutup telponnya ya, selamat malam Lucia"

__ADS_1


"Selamat malam juga Nyonya"


Dan percakapan mereka pun berakhir saat itu, Lucia meletakkan kembali ponselnya di atas nakas.


Baru saja ia berbalik, dering ponsel bergetar lagi. Lucia pikir itu Jihan maka dari itu Lucia langsung mengangkat panggilan tersebut tanpa membaca nama terlebih dahulu.


"Ya, Nyonya?"


"Siapa Nyonya?"


Deg!


Suara itu?!! Seketika Lucia melihat nama yang tertera di layar ponselnya.


Dan ternyata...


"Kak Fabio??"


"Kamu ngira aku Nyonya? Ya ampunnnnn.... Emang nama kontak aku di hp kamu apa sih?"


Ya Tuhan, bisa-bisanya Lucia mengira itu Jihan. Lagipula hanya selisih satu detik saja setelah mereka mengakhiri percakapan.


"M-maaf kak, aku kira tadi Nyonya soalnya aku baru banget telponan sama dia"


Tak terdengar sahutan dari seberang sana, mungkinkah Fabio kesal karena Lucia mengira telpon ini dari orang lain?


"Kak..."


"Lagi ngapain?" Fabio memotong.


Lucia duduk di tepi ranjang, dengan satu tangan yang terangkat memegang ponsel dan satu lagi mengelus perut buncitnya.


"Lagi diem aja, sambil dengerin lagu"


Sunyi lagi, Lucia menunggu pertanyaan berikutnya diajukan padanya.


"Sendirian?"


"Iya, emang sama siapa lagi?"


"Enggak, temen-temen aku gak aku izinin buat main disini malem hari" jawab Lucia, dia memiliki alasan tersendiri untuk itu.


"Kenapa?"


"Nanti mereka tau kalau aku tinggal sendirian, mereka taunya aku tinggal bareng suami"


Fabio terdiam lagi, seberapa lama Lucia harus memendam rahasia ini sendiri? Berusaha menutupi sebagian fakta demi harga dirinya supaya tak semakin rendah dimata orang.


Mendorong pintu dengan kedua lengannya yang kecil agar orang lain tak dapat melihat kisah kelamnya.


Suasana seakan canggung, Lucia tak mampu bertanya, rasa gugup menyelimuti. Baru kali ini mereka berbincang lewat telepon.


"Aku kesana ya"


"Eh? K-kesana kemana?" Tak mengerti apa yang dimaksud Fabio.


"Ke rumah kamu lah"


"Apa??? Ngapain?!" Terkejut, teman perempuan saja tidak Lucia perbolehkan, ini malah teman laki-laki yang berencana datang di malam hari. Meski kelebihannya Fabio sudah tau situasi Lucia yang sesungguhnya.


"Ya nemenin kamu dong"


"Udah malem, kak!"


"Baru juga jam delapan" dengan santainya, di jam segini para sahabat Fabio yang lain justru baru keluar untuk nongkrong sampai dini hari.


"Janji deh, cuma sampe jam sepuluh malem kok. Udah itu aku pulang" lanjut Fabio.


Bagaimana ini? Lucia bimbang, sepatutnya sih ditolak tapi yang satu ini selalu membuat pikiran Lucia tenang. Jujur saja, ia memang selalu mengharapkan kehadiran Fabio.


"Aku kesana ya?"


"T-terserah kakak" Lucia pasrah, ia tak mau berkata tidak takut menyesal ujungnya.

__ADS_1


"Yesss!! Mau aku bawain apa?"


"Emang boleh?"


"Ck, mau kamu minta sate Madura dari daerah asalnya pun aku bawain" balasnya dilebih-lebihkan.


Lucia cekikikan, bisa saja tingkah Fabio menggodanya, makin tak sabar Lucia menunggu laki-laki itu datang.


"Martabak boleh?"


"Boleh, banyak disini yang jual martabak. Mau rasa apa?"


"Coklat"


"Coklat aja?"


"Emm... Sama pisang keju"


"Ada lagi?" Masih tetap menawari.


"Udah kak, segitu udah banyak"


"Sip, aku siap-siap dulu ya"


Telpon pun terputus, Lucia segera masuk ke kamar mandi untuk mencuci wajah dan memperbaiki penampilannya sedikit, Lucia tak mau Fabio melihat keadaannya yang sudah seperti ibu-ibu rumah tangga.


Selanjutnya Lucia masuk ke dapur untuk menyiapkan minuman, es jeruk segar sepertinya cocok untuk pendamping makanan manis itu.


***


"Martabak cokelat sama pisang kejunya satu ya, bang"


"Yang biasa atau yang spesial, mas?


"Yang spesial"


"Tunggu bentar ya, mas"


Fabio mengangguk dan duduk di kursi plastik yang disediakan.


Sudah lama ia tidak jajan dipinggir jalan malam hari, sepertinya asik berkeliling di malam hari sambil mengajak Lucia cari makan.


Dering ponsel membuat senyum Fabio merekah, segera Fabio ambil benda itu. Tapi seketika senyumnya luntur ketika tau bukan Lucia yang menghubunginya.


"Bisma" decak Fabio membaca nama itu.


Begitu telpon tersebut tersambung suara nyaring dari balik ponselnya terdengar kencang.


"HEH FABIO DIMANA LU???"


"Apa sih Bim?" Menjauhkan sedikit dari jangkauan telinga.


"Diem-diem bae! Sini ngapa, ngumpul bareng kita"


"Gak bisa, gue ada perlu"


"Ya elah, kalau gitu kita aja deh yang ke apartemen lu"


Seketika Fabio melotot, bahaya jangan sampai kawan-kawannya datang mencegah Fabio pergi.


"Gak bisa! Gue kan udah bilang gue lagi ada perlu, gak lagi di apartemen gue"


"Kemana lu emang?"


"Kayak perempuan aja lu, kepo!" Balas Fabio.


"Ya siapa tau kita bisa nyusul"


"Udah udah... Kalian have fun aja disana, Oke? Gue lagi gak bisa main"


"Sok sibuk lu, diangkat jadi CEO aja belom"


"Terserah, pokonya jangan datang ke apartemen gue! Udah ya, gue matiin bye"

__ADS_1


Tanpa menunggu jawaban Fabio langsung memutuskan sambungan.


"Huftttt..... Hampir aja gue gagal ke rumah Lucia"


__ADS_2