Lucia, Pesona Maba Hamil

Lucia, Pesona Maba Hamil
Hobi Baru


__ADS_3

Fabio keluar diikuti sang ayah dari belakang, ia menghampiri Lucia yang tengah berbincang dengan ibundanya di ruang tamu.


Lucia tidak lagi kelihatan ketakutan, mereka bercakap dengan baik, Fabio paham hal itu disebabkan oleh karakter sang ibu yang tidak pernah memandang rendah siapapun.


"Sayang, kamu mau kemana lagi?" Yesa bertanya begitu melihat Fabio menenteng sebuah jaket.


"Mau pergi, sekalian anter Lucia pulang" ujarnya.


"Kalian kan baru sampe, kasihan Lucia kalau banyak jalan"


Mendengar itu Lucia pun turut menimpal, ini kesempatannya untuk bisa keluar dari apartemen Fabio, walaupun ia dijamu dengan baik akan tetapi Lucia merasa tak bisa berlama-lama bertemu dengan orang tua Fabio.


"Gak masalah, Tante. Aku baik-baik aja, kok"


"Emang mau pada pergi kemana sih?" Masih penasaran kemana Fabio akan keluar sampai menelantarkan ibu serta ayahnya yang sudah datang kemari untuk menjenguk anak itu.


"Deket kok, kita pergi dulu. Ayo Lucia" jawab Fabio menghindari pertanyaan yang akan bermunculan, ia segera mengajak Lucia pergi.


Lucia berdiri, tak lupa pamit pada sepasang suami istri tersebut.


"Aku pamit Tante, Om. Makasih buat jamuan nya"


"Sama-sama, hati-hati dijalan. Jangan ngebut-ngebut" imbuh Yesa berpesan.


Kedua anak muda itu pun akhirnya keluar dari apartemen melanjutkan lagi perjalanan di hari Minggu.


Selepas kepergian dua orang tersebut Yesa lantas mengajak sang suami berbicara. Mereka duduk di sofa bersampingan dan mulai membahas tentang siapa sebenarnya wanita yang dibawa Fabio.


"Gimana Pah? Kamu dapat informasi apa dari Fabio?" Menyiapkan telinga untuk mendengarkan pembicaraan suaminya dengan sang putra.


Sandi menghela nafas berat, mengingat semua ucapan Fabio membuatnya stress.


"Fabio mencintai wanita itu"


"Apa???" Yesa sampai berteriak mengetahui fakta yang didapatkan.


"T-tapi Fabio enggak mungkin menghamili teman perempuannya kan Pah" kekhawatiran kembali merajalela, semua orang tau apa yang akan dilakukan oleh seseorang yang tengah jatuh cinta.


Tapi semua kegelisahan Yesa musnah begitu sang suami mengelak dugaannya.


"Tidak, bukan Fabio yang menghamili temannya. Perempuan tadi punya seorang suami, tapi pernikahannya bukan atas dasar keinginan masing-masing. Jadi Fabio bertekad menunggu gadis tadi sampai dia berpisah dengan suaminya" tutur sandi panjang lebar.


Yesa sampai menutup mulut dengan satu tangan, syok mengetahui putranya memiliki niat serius dengan janda orang, setahunya Fabio bukanlah lelaki yang suka mengusik milik orang lain.


"Bagaimana bisa Pah? Terus gimana dengan suaminya nanti? Apa memang Lucia dan suaminya akan bercerai setelah anak itu lahir?"

__ADS_1


Sandi menggeleng sambil mengangkat kedua bahu ke atas, "Papa belum tau soal itu, Fabio belum menceritakannya dengan detail"


Yesa mendadak lemas mendengar kabar ini, ia sampai menyandarkan punggungnya sangking tidak bertenaga.


"Kamu tau kan Pah bagaimana sifat Fabio kalau sudah mencintai seseorang, dia bahkan rela mempertaruhkan nyawanya untuk orang tersebut. Akan sulit meski kita membujuknya" desah Yesa.


Sandi membenarkan perkataan istrinya, setelah kehilangan cinta pertama yang telah pergi menghadap ilahi, Fabio seperti kehilangan nyawa, dan kini ketika cinta baru itu tumbuh tentu Fabio tak akan menyia-nyiakannya lagi.


"Kita harus gimana Pah? Masalahnya ini bukan hanya melibatkan Lucia dan Fabio, tapi juga suami serta anak Lucia nanti"


"Papah masih meminta Fabio untuk memikirkannya matang-matang, walaupun akan mustahil Fabio melakukan apa yang kita minta"


Dan sepertinya mereka tak akan pernah berhenti mengawasi sang putra walaupun lelaki itu sudah dinyatakan sembuh beberapa bulan yang lalu.


"Ya Tuhan, anak itu!" Yesa geleng-geleng dibuatnya.


***


"Masih degdegan?" Seru Fabio saat mereka sampai di basement.


"Hah? Apa?" Belum mengerti maksud pertanyaan Fabio, tapi tak lama ia pun paham. Lucia menggeleng cepat.


"Udah enggak kok"


Fabio tersenyum simpul, "Orang tua aku gak gigit kamu kan?"


Dan Fabio pun tertawa mendengar itu.


"Orang tua kakak baik" sambungnya, Lucia mengakui meski hanya sempat bertemu sebentar. Ia bisa merasakannya dengan jelas, sebab bibit yang mereka hasilnya juga merupakan bibit unggul bukan hanya luarnya saja, tetapi juga hatinya.


Sehingga Lucia tak perlu menebak lebih jauh, sudah dipastikan ketiga orang itu memiliki sifat yang tak jauh beda.


"Cieeee.... Muji calon mertua ni yeeee"


"Ihh kakak" cebik Lucia, bisa saja Fabio menyebut mereka calon mertuanya, Fabio saja memperkenalkan dirinya sebagai teman kuliah.


"Gapapa dong, Aminin aja siapa tau terkabul"


Lucia tak mengindahkan, ia penasaran apa yang dibicarakan oleh Fabio dan ayahnya sewaktu di kamar, apakah mereka membicarakannya? Apa yang mereka bicarakan kira-kira?


"Kak...."


"Hmm... Apa?" Sambil sibuk memakai helm.


"Tadi... Di kamar kakak ngobrol apa?" Tanya Lucia hati-hati.

__ADS_1


"Kapan?"


"Tadi waktu orang tua kakak masuk ke kamar" jelasnya lagi.


"Ohh.... Tadi papah nanyain, kapan kamu bikin anak perempuan melendung? Cepet nikahin, gitu katanya" ujar Fabio.


"Hah??? Serius?!! K-kakak bohong kan" Lucia terperanjat, mau taruh dimana mukanya kalau sampai orang tua Fabio berpikir demikian. Lucia tidak mau dituding menggoda anak lelaki mereka.


"Hehe.... Tapi bohong, wleee!" Sambil menjulurkan lidahnya keluar.


Lucia terperangah, sepertinya Fabio memang berniat membuatnya mati muda, selalu saja membodohi Lucia dengan candaan-candaan maut.


"Tuh kan!! Awas ya bikin aku jantungan mulu" tak tinggal diam, Lucia memukul-mukul lengan Fabio yang keras, melampiaskan kekesalannya pada lelaki itu.


"Pukul aja gak sakit ini" imbuh Fabio semakin menyulutkan emosi ibu hamil tersebut.


Lucia tak lagi melampiaskan amarahnya, namun ia memekik sambil memegang perutnya, mengaduh seperti tengah kesakitan.


"Aww..... Sshhhh"


"Eh, kenapa??" Sontak Fabio panik, ia ikut menyentuh perut Lucia, dimana titik rasa sakit itu berasal.


"Aduhh...... Aww!!" Rintihnya lagi.


"M-mana yang sakit? Perut kamu sakit?? Mules? A-atau gimana??"


Lucia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, tak ada suara jeritan membuat Fabio bingung, ia mengira Lucia menangis karena menahan sakit yang tengah dirasa.


"Hey, kamu nangis? K-kita ke dokter sekarang ya? Tenang aja, mungkin ini cuma kontraksi kecil"


Mendengar suara Fabio yang sangat mengkhawatirkannya, membuat Lucia tak mampu lagi menahan, ia pun tertawa terbahak-bahak.


"Hahaha...... Liat wajah kakak! Hahaha....."


Fabio membeku, antara bingung tapi juga belum bisa menghilangkan rasa paniknya.


"Tapi bohong! Hahaha......"


"Rasain pembalasan ku, wleee" puas menertawakan Fabio, Lucia turut menjulurkan lidah pada lelaki itu.


Fabio baru sadar jika ia baru saja dijahili, Lucia rupanya mau melakukan aksi balas dendam atas candaan Fabio sebelumnya.


"Kamuuu!! Awas ya" merasa gemas Fabio langsung mengangkat tubuh Lucia dan memutar-mutar tubuh mereka berdua.


"Kakak stoppp! Aku takut"

__ADS_1


"Gak, berani ya kamu jahilin aku" tanpa menuruti permintaan Lucia, Fabio terus berputar sampai tawa dan percekcokan mereka menjadi pusat perhatian orang-orang yang berada disana.


__ADS_2