Lucia, Pesona Maba Hamil

Lucia, Pesona Maba Hamil
Tanpa Disengaja


__ADS_3

Sore hari Fabio baru pulang seusai nongkrong dengan teman-temannya, karena tidak bisa menghabiskan waktu dengan Lucia, maka Fabio menyempatkan diri untuk berkumpul bersama para sahabatnya.


Dan tentu saja pertemuan ini cukup menghebohkan, dikarenakan Bisma mengungkapkan fakta tentang kedekatan Fabio bersama sosok wanita yang selalu mereka perbincangkan, yaitu Lucia.


Fabio pun menceritakan dengan jujur awal dirinya bisa kenal dengan Lucia, dari sebuah mangkuk mie ayam yang diberikannya kepada wanita itu.


Tetapi Fabio tidak membahas sejauh mana keakraban serta kedekatan hubungan keduanya, mereka tidak tau kalau Fabio dan Lucia sudah saling mencintai satu sama lain.


Sepulang dari cafe, entah kenapa Fabio ingin melihat situasi rumah Lucia saat ini. Ia pun mengendarai motor ke arah kediaman pujaan hatinya, namun ditengah-tengah jalan mendadak Fabio ragu, Fabio pun memilih berbelok ke sebuah tempat makan ayam bakar di pertigaan rumah Lucia.


Ia ingin membeli makanan tersebut untuk mengobati kerinduan pada Lucia.


"Bang, ayam bakar satu"


"Makan disini atau bawa pulang?" Kata penjual yang sedang mengipasi ayam tersebut.


"Di ba...."


"Kakak?"


Suara itu?!! Fabio sontak berbalik memandang si pemilik suara. Dan seketika matanya berbinar-binar melihat sosok yang ia cari sedari tadi.


"Lucia?? Kamu disini ternyata!"


"Cia, siapa?" Suara sang ibu membuat kedua insan itu kompak menoleh, Fabio pun bisa melihat perempuan yang sedikit mirip dengan Lucia, ia menebak jika perempuan tersebut adalah ibu kandung Lucia.


"Emm... I-ini... Emm... Temen kampus Bu" jawab Lucia terbata-bata, sebab ia takut hubungan mereka akan diketahui sang ibu.


"Oh temen kampus...." Yuni mengangguk sembari tersenyum pada lelaki muda di depannya.


Fabio pun dengan hormat menyalimi orang tua Lucia, tak lupa memperkenalkan namanya, "Fabio"


"Lagi beli ayam bakar juga ya?" Tanya Yuni dengan ramah.


"Iya, Tante. Kebetulan lewat jadi beli deh" ungkap Fabio berdusta, ia sedikit melirik ke arah Lucia yang sedang memicingkan mata, karena Lucia yakin Fabio sengaja kemari.


"Bilang ibu aja, jangan Tante. Biar lebih enak" ucap Yuni pada Fabio.


"Ah gitu, ya. Iya oke Bu...."


"Emm... Kalian makan disini ya?" Fabio bertanya.


"Enggak, kok! Di rumah kan, Bu?" Sergah Lucia cepat.


"Makan disini aja, Cia. Jangan di rumah terus, bosen" kata Yuni kurang setuju, ia ingin menikmati ayam bakar di tempatnya langsung, karena akan lebih nikmat bila memakannya di tempat yang ramai, seolah sedang makan bersama-sama.

__ADS_1


Fabio membenarkan, ini akan menjadi kesempatan yang bagus untuknya supaya bisa lebih akrab dengan Ibunda Lucia, setidaknya ia bisa dikenal dengan baik oleh wanita setengah baya tersebut. Dengan begitu jika suatu saat nanti ia ingin menjalin hubungan yang lebih serius lagi dengan Lucia, sang ibu tidak akan ragu memberi restu kepadanya.


"Bener tuh, kan kalau makan bareng-bareng lebih seru"


Lucia mencebik, Fabio benar-benar mengambil kesempatan dalam kesempitan.


"Nak Fabio juga mau makan disini?"


"Euggg... Sebenarnya enggak sih, soalnya malu kalau sendirian" ungkap Fabio sembari menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"Ya udah kita makan bareng aja, ayo! Bener kan, Cia?"


"Buuuu...." Lucia jelas syok, niat hati ingin menghindari malah makin tidak terhindarkan.


"Gapapa dong, nak. Bagus kita ajak sekalian teman kamu, nak Fabio juga mau kan?"


"Hehehe.... Kalau dibolehin sih, saya mau mau aja bu"


"Nah, pas banget. Ya udah kita cari mejanya sekarang, ayo nak Fabio"


"Iya, Bu"


Fabio bersorak dalam hati, pencapaiannya yang tak disengaja ini sungguh sangat menguntungkan, memang sepertinya Tuhan merestui hubungan mereka.


"Bang, jadinya makan disini"


"Kalian sekelas?" Yuni memulai percakapan.


"Enggak!" Sanggah Lucia.


"Enggak Bu, saya kakak tingkat Lucia. Kebetulan kita saling kenal, akrab juga" Fabio menambahkan.


"Oh ya? Gimana Lucia di kampus? Pasti kamu sedikit banyak tau tentang dia"


"Wahh itu sih saya tau banget! Lucia anak rajin kok Bu, ulet, gak pernah bolos juga" jelas Fabio menceritakan bagaimana sosok Lucia kepada ibu kandungnya.


"Beneran?"


"Ih ibu, dari dulu Cia kan emang rajin anaknya. Masa gak percaya?" Cebik Lucia, memanyunkan bibirnya ke depan.


Yuni cekikikan sambil menutup mulutnya, kemudian mengusap kepala putrinya dengan lembut.


"Iya, ibu percaya"


Tatapan Lucia pun berubah teduh ketika lengan yang sudah sedikit berkeriput itu mengusap pucuk kepalanya.

__ADS_1


"Nak Fabio jurusan apa?"


"Sama Bu, saya fakultas ekonomi juga. Jadi sering ketemu Lucia di kampus"


"Di luar kampus juga sih" tambah Fabio dalam hati.


"Saya juga denger dari Lucia kalau ibu mau datang kesini, eh ternyata kita malah ketemu"


"Iya, ibu emang kerja di bandung. Jadi baru sempet kemarin datang buat liat Lucia. Untunglah dia baik-baik aja, kehamilannya juga sehat. Ibu bersyukur"


Ditengah-tengah obrolan yang berlangsung, pesanan ketiganya datang. Sejenak perbincangan mereka terhenti.


"Makasih bang"


"Silahkan di makan" kembali berlalu setelah mengantarkan menu.


"Ayo semuanya kita makan" ajak Yuni pada kedua remaja itu.


Mereka pun mulai memakan makan siang.


Dug!


Dibawah meja Fabio merasakan tendangan seseorang yang menyentuh kakinya, spontan Fabio menatap Lucia, perempuan itu dengan santainya melahap makanan setelah tanpa dosa menendang kaki Fabio dengan sengaja.


Dug!


Fabio pun membalas kembali tendangan itu dengan pelan, membuat keduanya saling beradu tatap tanpa suara, apa yang dilakukan Lucia seolah bentuk protesnya terhadap pria tersebut.


Seakan tak ada bosannya, Fabio pun menunduk ke kolong meja seperti mencari-cari sesuatu. Dan itu berhasil menyita perhatian Yuni.


"Ada apa, Nak Fabio?" tanyanya terheran.


"Ada gempa ya Bu?" ucap Fabio membuat Yuni menaikkan kedua alisnya.


"Masa sih? Ibu gak ngerasain kok, pengunjung lain juga tenang-tenang aja. Kenapa emang??"


"Mejanya gerak-gerak Bu, apa cuma perasaan saya aja ya?" lanjut Fabio.


Seketika Lucia menghentikan tindakannya, dia mengumpat Fabio yang secara terang-terangan hampir membuka kelakuannya.


"Mungkin cuma perasaan kamu aja, sudah jangan terlalu dipikirkan. Kita lanjut makan lagi"


Fabio mengangguk setelah aktingnya berhasil membuat Lucia terpaku, pria itu tersenyum penuh kemenangan sambil kembali melahap ayam bakar miliknya.


"Kenapa? Kok liatin aku terus?" ujar Fabio pada Lucia, membuat yang ditanya melotot dan menoleh pada ibunya yang tengah menatap Lucia juga.

__ADS_1


"S-siapa juga yang liatin?! GeEr banget" bantah Lucia buru-buru memasukkan potongan ayam ke dalam mulutnya.


Yuni hanya bisa geleng-geleng melihat sikap ketus putrinya pada Fabio, entah ada masalah apa antara kedua orang itu, atau mungkin memang beginilah pertemanan mereka berdua.


__ADS_2