Lucia, Pesona Maba Hamil

Lucia, Pesona Maba Hamil
Tidak Untuk Hari Ini


__ADS_3

Kamu indah, sungguh langit biru yang sesuai harapan ibu.


Siapa pun yang memandang kamu, kedua pipinya akan selalu bersemu.


Hadirmu tak cukup bila di ganti waktu, kepergian mu selalu menghabiskan lembaran tisu.


Lucia asik memandang jendela yang menampilkan langit biru, cerah tanpa awan yang menghiasi, sangat mempengaruhi suasana hati Lucia pagi ini.


Mengabaikan sejenak rangkuman dosen yang mengajar di depan, bayang-bayang Fabio mengganggu efektivitas belajarnya, terkadang Lucia juga berhalusinasi mendengar tawa Fabio di situasi yang tak menentu.


Sebenarnya apa yang membuat Lucia begitu mengharapkan kehadiran Fabio disisinya? Apa karena Lucia merasa tidak punya teman selain dia? Ah, tidak juga! Masih banyak teman yang baik disekitarnya. Atau karena mereka sefrekuensi? Tidak juga, mereka sering kali berdebat.


Atau mungkin....


Karena bayi ini?


Bayi ini yang menginginkan lelaki itu selalu dekat dengannya? Mungkinkah begitu???


Apakah jika bayi ini lahir Lucia tidak akan terlalu memikirkan sosok Fabio?


Semua pertanyaan itu berputar di otak Lucia sampai jam pelajaran berakhir.


Lucia segera keluar dari gedung fakultas, kemarin ia sudah janjian dengan Fabio kalau akan pulang bersama lagi. Lelaki itu sepertinya sudah menunggu di bawah.


Lucia menghampiri seseorang yang tengah duduk di atas motor dekat plang bertulisan.


"Kakak!"


Orang itu langsung menoleh begitu mendengar suara Lucia.


"Kakak dari tadi?"


"Enggak, Baru lima menit. Aku buru-buru ngambil motor takut keduluan sama kamu"


Lucia mendengus ketika Fabio mengingatkan soal kejadian kemarin, padahal Lucia sama sekali tidak mempermasalahkan keterlambatan pria itu.


"Ya udah yuk naik, mataharinya terik banget. Nih jangan lupa pake helm" menyodorkan Lucia benda pengaman itu.


Saat Lucia menerima bersamaan dengan getar ponselnya yang menyala.


"Maaf kak, tolong pegang dulu helmnya" kembali memberikan benda tersebut kepada Fabio.


Lucia merogoh ponsel miliknya di dalam tas dan melihat siapa yang menelponnya di siang bolong begini.


"Siapa?" Tanya Fabio.


"Nyonya Jihan"


Lucia pun mengangkat panggilan itu.

__ADS_1


"Hallo Nyonya?"


"Lucia kamu dimana?"


"Di kampus, aku baru aja keluar kelas"


"Kamu ada kegiatan gak setelah ini? Aku pingin meminta bantuan kamu"


Perasaan Lucia jadi tak enak, tumben sekali Jihan meminta bantuannya. Dan apakah harus Lucia yang dipintai bantuan?


"Emm... Gak ada sih, memang bantuan apa Nyonya?"


"Mas Ghani dirawat di rumah sakit tadi pagi, siang ini aku harus ke kantor dulu untuk mengurus surat izin. Kamu bisa enggak jagain dulu mas Ghani disini? Sebentar, gak akan lama"


Glek!


Lucia meneguk salivanya dengan susah payah, hari buruk datang padanya. Dia harus bertemu laki-laki itu lagi, dan menjaganya saat Jihan tidak ada.


Lucia memandang Fabio yang juga tengah menatapnya.


"Nanti supir ku yang menjemput kamu dari kampus, kalau kamu bisa sekarang aku mau menyuruhnya pergi"


Bagaimana ini? Jujur ia tidak mau, tapi bagaimana caranya menolak? Lucia tidak enak pada Jihan. Wanita baik itu sedang membutuhkan bantuannya.


"N-nyonya gak akan lama kan?"


"Enggak, cuma ngurusin surat izin supaya beberapa hari ke depan aku bisa cuti menjaga mas Ghani"


"Aku tunggu di kampus sekarang"


"Oke, terimakasih Lucia. Supir bakal segera kesana"


Panggilan terputus, gerak tubuh Lucia mendadak lesu. Dan Fabio bisa membaca itu.


"Ada masalah?"


"Aku disuruh datang ke rumah sakit buat jagain Tuan, supir lagi menuju kesini" lirihnya tak bersemangat.


Kedua bahu Fabio ikut merosot, momen berdua pupus saat sudah di depan mata. Dan Fabio tak bisa menyalahkan siapapun.


"Harus banget kamu yang kesana?"


Lucia mengangguk pelan, "Iya, aku gak enak sama Nyonya. Dia gak akan nyuruh aku kalau bukan karena terpaksa"


"Aku boleh ikut gak?"


"Jangan kak, biar aku aja yang kesana"


Banyak sekali hambatan saat menjalin kedekatan dengan milik orang, harus tau batasan dan waktu, belum lagi hal-hal yang muncul secara dadakan.

__ADS_1


"Kakak pulang duluan aja, maaf ya jadi sia-sia nungguin aku"


"Iya nih, padahal tadinya pingin ngajak kamu jalan-jalan lagi" Fabio mendesah.


"Kakak beneran marah?" Memasang wajah cemas.


Fabio segera melihat wajah Lucia, nada bicaranya mungkin dianggap serius oleh Lucia.


"Eh, enggak kok! Bercanda" membantah.


"Aku temenin kamu aja deh nunggu supirnya datang, mau tunggu dimana?"


"Di bangku itu aja" tunjuk Lucia.


Fabio turun dari motor dan mengikuti Lucia dari belakang. Mereka duduk di bangku panjang yang terbuat dari kayu, tempat Lucia biasa berdiam jika sedang menunggu sesuatu.


"Kalau lagi kayak gini, kakak gak malu diliat orang deket sama aku?" Ujar Lucia ke topik yang agak sensitif ini.


"Kenapa malu? Kalau semisal orang-orang ngiranya aku yang buntingin kamu juga gak apa-apa" sahut Fabio tanpa disaring lebih dulu.


Lucia terbelalak, ia menggeser tubuhnya untuk menutup mulut Fabio yang bersuara agak keras, Lucia mengedarkan pandangan melihat respon sekitar.


"Kak! Ngomong apa sih, malu tau. Gimana kalau orang denger terus mereka ngira ucapan kakak bener?!" Tegur Lucia, ia menjauhkan kembali posisi duduknya.


"Kamu kan nanya. Ya aku jawab, aku gak malu. Kalau orang ngira aku suami kamu juga gak masalah, emang kita tuh keliatan cocok banget sih"


"Mana ada! Kayaknya hampir semua orang tau kakak, dan mereka gak mungkin segampang itu ngira kalau kita ini pasangan"


Fabio tersenyum saat raut ekspresi Lucia murung, seperti wanita yang sedang cemburu ketika lelakinya di taksir ribuan kaum hawa.


"Emang kamu tau darimana kalau aku populer? Ikut kegiatan kampus aja aku gak pernah"


"Dari temen kelas aku, mereka pada ngomongin kakak. Katanya kakak itu yang paling mencolok semenjak kita jadi peserta Ospek" Lucia menceritakan.


Fabio tak mampu menahan tawa, ia tergelak mengeluarkan rasa geli yang menyerang diperutnya.


"Terus kamu juga ngomongin aku?"


"Enggak! Aku diem aja dengerin mereka ngobrol"


"Hahaha.... Harusnya kamu nyombongin diri kalau kamu itu yang paling deket sama aku, pasti mereka iri"


Percuma mau disombongkan seperti apapun juga, meski teman Lucia pernah melihatnya dan Fabio bersama, mereka tak pernah berpikir bahwa kedekatan Fabio serta Lucia makin hari makin dekat, mereka hanya berpikir Fabio bersikap baik pada perempuan hamil seperti dirinya.


"Eh kayaknya itu mobilnya!" Fabio menunjuk ke arah mobil yang berhenti di depan gedung fakultas ekonomi, dengan seseorang yang keluar sambil menatap kesana-kemari seakan tengah mencari seseorang.


"Iya, bener. Aku berangkat sekarang ya kak"


"Hati-hati, kamu yakin aku gak perlu ikut? Siapa tau kamu butuh temen ngobrol disana" memastikan ulang.

__ADS_1


"Gak perlu kak, biar aku sendiri aja. Makasih udah nemenin"


Lucia menghampiri sang supir dan masuk ke dalam kendaraan beroda empat itu, melaju menuju rumah sakit tempat suaminya menjalani rawat inap.


__ADS_2