
Siang itu matahari tersenyum terlalu lebar, sampai tidak ingat kalau tak semua mahluk senang melihatnya.
Beberapa manusia tersiksa akibat pancaran sinar pemanas itu, mengeluh dan ingin buru-buru berteduh.
Tapi bumi masih terus berputar, bulan pun masih terlelap belum siap mempertemukan langit gelap.
"Lu liat bro? Dulu kayaknya kita lebih parah dari mereka, sampe pidato pun kita gak pindah ke aula, tetep duduk di tengah lapang sampe gosong seluruh badan" ujar Bisma sembari meneguk kopi tanpa gula.
Para mahasiswa senior itu asyik menonton kegiatan ospek di tempat teduh dengan diiringi angin sepoi-sepoi.
"Bener banget, gue inget sangking panasnya gue bawa sunscreen di dalem tas. Eh malah keciduk sama panitia, terus dirazia deh" tutur Dinsa.
"Gue juga inget banget waktu itu kulit gue sampe belang, idih.... Gak lagi deh" Nada membenarkan.
Obrolan penuh kenangan itu tak membuat salah satu remaja diantara mereka ikut menimbrung, dia membisu sambil terus memandangi mahasiswa-mahasiswa baru.
Kedua tangan di masukan ke dalam saku, pose biasa yang bisa membuat kaum hawa menjerit dan memaku.
"Kamu, yang pakai caping hijau!" Tunjuk panitia.
Sontak yang merasa memakai saling berpandangan.
"Kamu, yang perutnya besar itu! Maju kedepan" ujarnya lugas.
Seketika mereka mengarah pada Lucia, siapa lagi memang peserta ospek yang berbadan dua? Lucia begitu terkenal karena menjadi peserta Ospek pertama yang ikut dalam keadaan mengandung.
"Maju dan berdiri di samping saya" titahnya lagi.
Lucia lantas berdiri, berjalan dengan hati-hati ke depan lapangan. Jantungnya berdebar ketika melihat ribuan orang yang menjadikannya pusat perhatian.
"EH EH LIAT! DIA HAMIL ??" Tunjuk Dinsa heboh, baru pertama kali ia melihat orang itu.
"GILA! Lagi hamil ikutan Ospek?? Gak salah" Kean menimpal, matanya juga melotot tak percaya.
Fabio menegakkan badannya untuk melihat lebih jelas, tak salah lagi! Itu wanita yang kemarin Fabio traktir.
"Seriusan?! Umur berapa dia?"
"Pasti lebih muda dari kita lah"
"Cewek-cewek sekarang emang gak bisa dipercaya, ya gitulah kalau berbuat gak dipikirin dulu!" Bisma tertawa mengejek.
"Sorry ya gue sih enggak!" Nada tak terima.
"Halahhh.... Beda lagi kalau Fabio yang pegang lu" selorohnya.
"BISMAAAA!!!"
Dan gelak tawa pun memenuhi circle yang satu ini, hanya empat orang, satunya masih asyik dengan dunianya sendiri.
"Sebutkan nama dan dari gugus berapa!"
Lucia menarik nafas dalam, demam panggung tiba-tiba kumat begitu saja, padahal biasanya Lucia acuh pada tatapan orang.
"N-nama saya..... Lucia Belvina, dari gugus delapan" jelasnya agak terbata.
"Sebutkan motivasi hidup kamu, tanpa melihat ke arah name tag!"
__ADS_1
Mudah saja, motivasi ini selalu melekat dalam jiwanya. Tanpa perlu diingat-ingat, sudah tersimpan rapi di dalam otak.
"Menangis lah, kalau kamu merasa lelah. Itu motivasi saya!" Kalimat singkat itu, Lucia ucapkan dengan lancar tanpa hambatan.
"Jadi kamu sering menangis? Begitu?" Sang mentor bertanya lebih dalam.
"Tidak, tapi justru sebaliknya. Kehidupan yang amat membuat saya merasa lelah ini menjadikan saya orang yang pantang menyerah, tetap menjalani hidup yang terasa sangat keras, tidak ada waktu bagi saya mengeluarkan keluh kesah. Sehingga membuat saya terkadang terpicu tekanan dalam jangka waktu lama. Dan saya menyadari bahwa tak ada salahnya kita terisak tangis, setidaknya untuk membuat kita lega dalam menghadapi duka lara"
Penjelasan Lucia mendatangkan tepuk tangan serta sorakan di siang itu, motivasi yang singkat tapi memiliki arti sedalam lautan. Mereka membenarkan kalimat tersebut, mata mereka semakin terbuka untuk melihat lebih jelas kehidupan ini. Manusia hanyalah ciptaan Tuhan yang biasa, mereka tak bisa sekuat baja, menangis bukan sebuah dosa untuk dilakukan.
Tanpa sadar Fabio menyinggung senyum kecil mendengar motivasi dari seseorang yang dia jumpa kemarin, terdengar puitis tapi juga realistis.
Kehidupan seberat apa yang dia tempuhi? Tidakkah perut itu jawabannya? Tapi bagaimana mungkin? Seharusnya dia bahagia sebab menemukan orang yang dicinta. Atau mungkin memang benar tebakan teman-temannya tadi?
"Bagus, tidak buruk dan masuk akal kalau dipikir-pikir"
"Apa cita-cita kamu?"
"Cita-cita saya, ingin menjadi rektor"
"Rektor? Bukan ibu rumah tangga?" Sahut panitia meyakinkan.
"Siap, bukan kak" bantah Lucia cepat.
"Bagus, kamu bisa kembali lagi ke tempat" ujarnya mempersilahkan.
"Terimakasih, kak"
Dan disaat itu, detik aku mulai mengagumimu.
Dalam ribuan manusia yang terduduk, bayangmu tak pernah tunduk.
Lisan yang kamu sampaikan, menata hidupku yang berantakan.
***
"Mie lagi?"
Seruan itu membuat perempuan yang tengah menyeruput mie mendongak, matanya langsung mengerjap. Hampir tersedak, tapi buru-buru ditelan.
"Kakak datang lagi?"
"Datang lagi? Ini kampusku, emang kemana lagi aku harus datang?" Sambil menjatuhkan diri disamping Lucia.
Lucia menjaga jarak aman, menggeser sedikit tubuhnya dari laki-laki yang sok-sokan akrab ini, siapa tau datang hanya untuk menagih hutang.
"Hehe... Iya juga sih. Oh iya ini uang yang kemarin mau aku bayar" Lucia merogoh lembaran kertas di dalam kantung celananya.
"Apaan bayar, kan aku udah bilang. Am-bil a-ja!" Mengeja bagai guru TK.
"Gak usah kak, aku gak enak. Aku orangnya gak mau punya utang"
"Mana ada utang kalau orang yang ngasihnya ikhlas"
Lucia mengerucutkan bibir, cemberut. Iya sih, tapi masalahnya ia tidak leluasa kalau menerima dari orang yang belum Lucia kenal.
"Beneran?"
__ADS_1
"Ck, masih gak percaya. Udah masukin lagi uangnya, buat beli mie ayam besok!" Balas Fabio.
Akhirnya Lucia memasukkan kembali uang tersebut.
"Tadi aku liat kamu di lapang" lanjutnya.
"Hah? Kakak liat aku waktu maju ke depan?" Cukup malu mengetahui hal itu.
"Heem... Motivasinya bagus, aku suka!" Fabio mengacungkan jari jempol.
"Cuma motivasi biasa, tapi.... Makasih" Lucia sedikit merasa bangga.
Tak lupa dilahapnya lagi mie ayam yang masih tersisa.
"Fakultas mana sih kamu?"
"Ekonomi" kata Lucia.
"Widihhh..... Sama dong kalau gitu!"
Dengan sigap Lucia menegakkan tulang-tulang punggungnya.
"Kakak fakultas ekonomi juga?"
"Iya, udah semester tujuh"
"Bisa dong aku minta bantuan kalau ada tugas, hehe..."
"Bolehhhhh..... Gratis gak perlu bayar kalau sama aku" imbuh Fabio menyombongkan diri.
"Bercanda kak"
"Serius juga gapapa, berbagi ilmu kan bagus"
"Semester tujuh pasti lagi sibuk-sibuknya, mana sempet punya waktu ngajarin orang lain pelajaran" kata Lucia agak ragu.
"Kan gak harus setiap hari, weekend misalnya"
"Seriusan kakak mau ngajarin aku? Padahal aku beneran bercanda lho tadi"
"Muka kamu gak pantes jadi pelawak" tunjuknya ke arah muka.
"Pasti kakak bohong kan? Mana ada orang gak saling kenal tiba-tiba ngasih penawaran. Kakak gak perlu kasihan liat aku, aku ini wanita tangguh"
"Ya ampun gak percayaan banget jadi orang, ya udah kita kenalan dulu deh!" Mengulurkan satu tangan ke depan.
Lucia menyambut dengan ramah, ia memang penasaran sejak kemarin tentang laki-laki yang mentraktirnya semangkuk mie ayam.
"Nama aku Fabio"
"Kepanjangannya?"
"Fabioooooooo"
"Ishhh bukan! Tapi nama lengkap"
"Fabio, Fabio langit biru"
__ADS_1