
"Kopinya, silahkan" sang waiters meletakkan dua cangkir gelas di atas meja bundar tersebut.
Kedua pelanggan itu mengucapkan terimakasih, asap yang masih mengepul menyeka wajah si pemesan.
"Kelabu? Padahal kalau diliat kakak orang yang punya segalanya"
"Semua orang punya kisah kelam masing-masing, termasuk aku" cakap Fabio, mengambil gelas putih di atas meja lalu menyeruput sedikit demi sedikit.
"Seberapa kelabu kisah hidup kakak?" Ikut meneguk minuman miliknya.
"Aku gak bisa mastiin, tapi percaya gak percaya enam bulan aku harus menjalani terapi di psikolog. Dan baru bulan kemarin aku dinyatakan sembuh"
Hampir saja Lucia menyemburkan minuman dalam mulutnya, pengakuan Fabio sukses membuat gadis 18 tahun itu tercengang.
Arah mata bulat Lucia terus terpaku pada Fabio, laki-laki ceria ini ternyata mengalami gangguan mental yang begitu parah? Bahkan Lucia saja yang merasa paling terpuruk tidak sampai dibawa ke ahli jiwa.
"Apa penyebabnya kak?" Cicit Lucia.
Fabio memamerkan senyum simpul, tak baik menceritakan kisah sedih kepada wanita hamil, membuat Fabio mengurungkan niatnya bercerita.
"Jangan sekarang ceritanya, nanti ya kalau waktunya udah tepat"
"Kapan?" Terlihat penasaran.
"Nanti, pokoknya aku janji bakal cerita"
Lucia tidak mendesak Fabio, ia berpikir Fabio mungkin saja belum siap menggali lagi kisah kelabunya itu, yang mana harus membuatnya mengingat kembali peristiwa menyedihkan itu.
Keduanya pun menikmati kopi dengan tenang. Seperti anak muda yang sedang berpacaran, tapi kalau dilihat dekat, mungkin tidak.
"Hari ini aku yang traktir" seru Lucia.
Fabio menaruh gelasnya saat Lucia mengungkapkan niat tersebut.
"Ada apa nih? Kamu ulang tahun??" Fabio sudah mengambil ancang-ancang, kalau benar hari ini tanggal lahir Lucia Fabio benar-benar akan menyalahkan dirinya sendiri.
Bisa-bisanya tidak tau, padahal mereka sudah menghabiskan waktu sampai ke dalam rumah kemarin siang.
"Bukan"
__ADS_1
"Terus kenapa tiba-tiba mau traktir aku?"
"Ya mau aja, habisnya kemarin-kemarin kakak yang selalu bayarin aku makan. Sekarang giliran aku" ungkapnya, memang Lucia pernah kepikiran untuk melakukan ini.
"Ya ampun aku kan ikhlas traktir kamu, gak perlu bales budi juga kali"
"Gak kak, emang aku udah niat traktir kakak. Tapi karena aku bingung ya udah deh kopi ini aja aku yang bayar"
Mumpung ada sisa uang bulan kemarin jadi bisa Lucia pakai untuk pengeluaran yang tidak terduga.
"Habis dikasih jatah bulanan nih yeeee" ledek Fabio, meski begitu suasana hatinya berubah mendung menebak siapa yang memberinya pada Lucia.
"Jangan dihambur-hambur, pake buat beli keperluan si dedek bayi"
"Enggak dihambur-hambur kok, aku pake sisa uang bulan kemarin. Keperluan bayi ini udah disiapin sama Nyonya, katanya aku ga usah repot mikirin itu"
Fabio mengubah posisi dengan kedua tangan yang dilipat di atas meja, menatap intens Lucia kala indera pendengarannya menangkap nama itu lagi.
"Nyonya? Kamu dua kali nyebut nama itu. Siapa dia sebenarnya? Kedengarannya kayak orang yang punya jabatan tinggi"
Ah, benar! Fabio pasti bingung dengan penjelasannya, Lucia baru menyadari hal tersebut. Sangking luwes nya mengobrol dengan orang ini, Lucia jadi merasa sudah akrab dari lama.
"Nyonya itu..... Istri pertama suamiku"
"Sebenarnya kenapa kamu bisa jadi istri kedua, Lucia? Apa ini keinginan kamu?"
Lucia menggeleng cepat, seumur-umur tak pernah terbayangkan menjadi istri kedua, lebih baik lajang seumur hidup jika diberi pilihan.
"Tapi kakak jangan bilang siapa-siapa, aku malu kalau sampe ada yang tau" lirihnya, ragu berkata jujur, walau Lucia hanya korban dan tak melakukan kesalahan apapun.
"Aku janji! Dan aku gak pernah main-main sama janjiku"
Lucia meremas jari-jarinya di bawah meja, haruskah ia terlampau jujur dengan orang yang baru dikenalnya? Tidakkah ini berlebihan, tapi Lucia seakan ingin meluruskan sesuatu.
"Aku diper-kosa..." Cicitnya hampir tak terdengar.
Fabio mengepalkan tangan sampai buku jarinya memutih, rahangnya kian mengeras, saraf amigdala nya bekerja begitu menangkap alasan yang ada.
Ingin sekali ia menggerogoti kepala badjingan itu, demi apapun Fabio sedang berusaha untuk tidak memperlihatkan puncak emosinya pada Lucia.
__ADS_1
Gadis polos ini harus menjadi korban dari pria biadab itu!
"Kenapa kamu bisa bertemu dengan dia?" Tanya Fabio dengan suara tertahan.
"Aku dulu PKL di perusahaannya, awal-awal sih gak pernah ketemu soalnya dia direktur utama, tapi gara-gara karyawan tetap disana nyerahin semua tugas mereka sama aku, buat aku jadi lembur sampe malem. Terus tiba-tiba malem itu dia ada di perusahaan, narik aku ke ruangannya, dan...... Kakak bisa tebak sendiri"
Makin membesar saja api di dalam jiwa seorang Fabio, dia mengumpat kasar pria tersebut!
"Dimana perusahaannya?"
"Tuh, di jalan Soedirman. Gak jauh-jauh amat kalau dari sini"
"Jauh banget kamu PKL disana" sahut Fabio.
"Ya habisnya aku nyari perusahaan yang bisa gaji siswa PKL kayak aku, kan lumayan gak cuma praktek doang"
"Terus gimana reaksi temen-teman sekolah kamu?"
"Aku langsung ngundurin diri dari sekolah, jadi mereka gak ada yang tau. Setelah itu Nyonya dateng ke rumah aku, nawarin aku untuk home schooling aja di rumah"
Tak pernah Fabio mendengar kisah seperti ini, bahkan dalam film sekalipun. Seorang gadis yang tengah berjuang untuk masa depannya justru mendapat kejadian miris akibat tindakan kejam seseorang.
"Istri pertamanya baik sama kamu?"
Dan Lucia mengangguk sebagai jawaban.
"Dia gak menuntut kamu untuk menggugurkan bayi ini?"
"Enggak, justru Nyonya yang minta supaya bayi ini tetap dilahirkan"
"Kok bisa? Apa dia gak cemburu?" Fabio heran sendiri, apalagi orang berduit seperti mereka bisa menutupi kesalahan dengan cara apapun termasuk mengugurkan seorang janin yang tumbuh atas ketidakmauan orang tersebut.
"Mungkin.... Karena nyonya belum punya anak sampai sekarang"
Apa mungkin masalahnya memang berawal tentang anak? Tapi tetap saja, anak itu lahir dari rahim wanita lain.
Fabio tidak mengerti dengan jalan pikiran orang-orang itu! Dengan mudahnya dilampiaskan pada seseorang yang tak ada hubungannya sama sekali, bahkan pada anak yang baru menginjak belasan tahun.
"Jadi saat bayi itu lahir, mereka yang mengurusnya?"
__ADS_1
"Heem... Aku juga bingung kalau aku yang ngurus. Kuliah ku gimana? Belum lagi bayi ini bakalan ikut hidup susah kalau sama aku. Aku belum paham caranya mengurus seorang bayi, ibu juga belum tentu ada disamping aku terus"
Miris sekali! Remaja yang belum siap mengandung harus dipaksa keadaan melahirkan seorang bayi dari lelaki yang tidak dikenalinya. Lalu menyerahkan anak kandungnya sendiri karena faktor ketidakmungkinan dari segi apapun.