Lucia, Pesona Maba Hamil

Lucia, Pesona Maba Hamil
Cepatlah Hadir, Anakku


__ADS_3

Rumah mewah yang hanya dihiasi dua orang itu terlihat tampak sepi, pagi hari hunian itu ditinggal sampai sore, dan ketika malam pun hanya digunakan untuk tidur sampai pagi lagi.


Begitu saja terus tak ada bosan-bosannya, jenuh sudah pasti, namun mau bagaimana lagi, semua harus dijalani dengan lapang dada.


Malam itu Jihan lebih banyak melamun sendirian, duduk di kursi balkon sambil menatap hasil USG yang memperlihatkan dimana rahimnya kosong belum terisi.


Mau terlihat sebaik apapun dari luar, tetap saja Jihan selalu kepikiran mengenai sosok anak, beda dengan Ghani yang tidak terlalu mempermasalahkan soal ini, namun Jihan hampir sering dibuat tertekan oleh pertanyaan-pertanyaan orang diluar sana yang menanyakan seputar kapan ia memiliki momongan.


Dan Jihan sendiri pun bingung kapan ia akan memilikinya.


"Sedang apa kamu disini, sayang?"


Kehadiran Ghani membuat Jihan terperanjat, ia dengan gesit memasukan foto USG itu ke dalam kantung bajunya.


"Mas? Kamu ngagetin aja" Jihan sebisa mungkin memasang wajah biasa, tersenyum supaya Ghani tidak curiga.


"Maaf, habisnya kamu tidak masuk-masuk ke dalam" Ghani ikuti duduk di kursi satunya.


"Sengaja, aku pingin liat bintang-bintang malam ini" Jihan beralasan, mau seindah apapun pemandangan tak mampu membuat kesedihan di hatinya menghilang.


"Tumben" Ghani keheranan.


Jihan terkekeh, ia berdiri dan pindah duduk di pangkuan sang suami, mengalungkan kedua tangannya di leher Ghani dengan mesra.


"Gimana, mas udah pesan sesuatu buat Lucia?" Mengalihkan topik pembicaraan.


"Hmm... Sudah, aku pesan pizza"


"Lucia yang minta?"


"Bukan, aku yang memilih seperti kemarin" ucap Ghani, merapatkan tubuh keduanya, memeluk pinggang sang istri dengan posesif.


Jihan hanya tersenyum simpul, Ghani sudah mulai mau disuruh untuk memperhatikan kebutuhan Lucia, atau lebih tepatnya bayi yang dikandung Lucia.


Sejak pertemuan mereka di rumah sakit, Ghani sedikit ada perubahan, mungkin jiwa seorang ayah dalam diri Ghani perlahan muncul secara berangsur-angsur.


"Kamu harus semakin memperhatikannya, mas"


Ghani mengangguk, ia paham kalau sosok suami memang sangat penting dalam kelangsungan si jabang bayi, walaupun ia tidak bisa ada setiap waktu namun Ghani akan berusaha memulai dari perhatian kecil.


"Kamu akan menjadi seorang ayah sebentar lagi" sambung Jihan menatap Ghani penuh arti, tatapan teduh itu mengisyaratkan banyak perasaan.


Ghani membelai wajah istrinya sembari menyingkirkan anak rambut yang menutupi kecantikan Jihan.


"Kamu juga akan menjadi seorang ibu" lirih Ghani.

__ADS_1


Perasaan campur aduk mendadak menyelimuti dua insan itu, pernikahan yang disatukan atas dasar cinta akhir-akhir ini sering ditimpa suatu musibah, banyak sekali rintangan untuk mereka menghadapi kehidupan berumahtangga.


Pernah berada di ujung tanduk tapi sekuat mungkin mereka mempertahankannya meski sangat beresiko sampai bisa membuat gila.


Satu-satunya yang bisa membuat mereka masih bersatu, adalah karena rasa cinta.


"Aku mencintaimu, mas"


"Aku lebih mencintaimu, sayang"


Dan atas atas dorongan masing-masing, keduanya saling mengikis jarak hingga kedua bibir mereka saling bersentuhan.


Cup!


Peraduan bibir yang sudah lama tidak mereka lakukan akhirnya terjadi juga.


Malam itu diluar balkon sambil disaksikan bintang-bintang sepasang suami istri tersebut menyalurkan rasa rindu yang begitu mendalam.


Mata mereka sama-sama terpejam menikmati sentuhan demi sentuhan, Ghani menahan tengkuk sang istri guna memperdalam ciuman.


Lidah mereka silih beradu disertai pertukaran air liur yang bergelora.


"Hmmphh.... Hmmphh!"


Suara decakan membuat bulan yang melihatnya pun ikut bergairah, hasrat yang sudah lama tidak disalurkan membuat kedua insan itu makin liar.


Ghani membaringkan tubuh Jihan di atas ranjang, membuat ciuman itu sesaat terlepas.


"Ah... Mas Ghani" pekik Jihan, tatapan sayu nya membuat Jihan makin menggoda di mata sang suami.


Ghani tidak bisa menahan nafsu batinnya, ia kembali mencium bibir sang istri dengan tangan yang bergerilya kemana-mana.


Ciuman Ghani turun ke leher, mengecup bagian itu sampai menimbulkan bekas kemerahan.


"Ssshhhh..... Mas" Jihan berdesis, namun ia menikmati perlakuan Ghani ini.


Bibir itu terus turun hingga ke area selangka, membasahi tulang-tulang dengan air liurnya, membuat Jihan menengadah memberikan Ghani ruang untuk bermain disana.


Ghani berpindah lagi ke atas, menyapu bibir Jihan dengan lidahnya, kali ini tangan Ghani mulai melepas tali piyama sang istri.


Dalam satu tarikan pakaian itu tersibak memperlihatkan bentuk tubuh Jihan yang hanya dibaluti pakaian dalam.


"Kamu semakin seksi, sayang" bisik Ghani memuji tubuh indah istrinya.


Jihan mengigit bibir mendengar seruan itu, sejujurnya ia tidak kuat lagi.

__ADS_1


Jari-jari Ghani menelusuri setiap jengkal tubuh Jihan yang mulus tanpa lecet sedikitpun, membuat si empu menggeliat akibat sentuhan tersebut.


"M-mas...." Rengek Jihan.


Ghani seolah sengaja berlama-lama, ia melepas tali bra membuat kedua aset Jihan menyembul dengan jelas.


Ghani mere mas nya tanpa ragu, memilin bulatan kecil di ujung benda itu, membuat Jihan semakin menjerit.


Jihan merasa kedua dadanya mengeras, bagian atasnya seakan menantang sang suami untuk berlabuh disitu.


Dan hal itu terbukti manakala Ghani melahap daging segar dihadapannya, mengecup serta mengigit pucuk merah muda yang nampak sangat menggoda.


Cukup lama Ghani bermain di bagian atas, kini ia beralih ke bawah.


Ghani membuka penutup terakhir yang melekat di tubuh sang istri, hingga kini Jihan benar-benar dalam keadaan polos.


Ghani menatap ganas area pusat yang terpampang nyata di hadapannya.


Dan Jihan mengerti arti tatapan itu.


"Mas...."


Dalam sekejap Ghani membenamkan kepalanya disana, memberikan sang istri kepuasan melalui lidahnya.


"Ahh.... Mas Ghaniiii......!!" Jihan menggelinjang merasakan bagian tidak bertulang itu mengobrak-abrik mahkotanya, membuatnya tersiksa dalam setiap jilatan.


Jihan mendorong kepala belakang Ghani semakin dalam.


Sampai beberapa menit kemudian barulah Jihan mendapatkan pelepasan pertamanya.


Jihan terkapar lemas dengan nafas yang memburu, namun ia tak diberi waktu istirahat, justru ini baru awal permulaan.


"Atur nafasmu, sayang. Mari kita mulai permainan sesungguhnya" tutur Ghani.


Ia membuka pakaiannya sendiri sampai tak ada seutas benang pun yang menempel, Ghani kembali mengukung Jihan, sebelum ia melakukan penyatuan Ghani lebih dulu mencium bibir wanitanya dengan lembut.


Setelah itu, barulah Ghani mengarahkan miliknya pada gua ternyaman yang memeluknya dengan erat.


"Eughhh..... " Lenguh Jihan merasakan setiap centi milik Ghani masuk ke dalam bagian intinya.


Ketika tubuh Jihan sudah benar-benar menerimanya, disitulah Ghani menggerakkan pinggul dengan gerakan pelan.


Setiap de sahan Jihan membuat Ghani lambat-laun bergerak cepat membuat percintaan mereka menggema disetiap sudut kamar.


Berbagai gaya mereka lakukan sampai pelepasan Ghani yang ketiga menjadi akhir dari malam panas itu.

__ADS_1


Jihan menyentuh perutnya yang terasa panas akibat lelehan putih yang Ghani keluarkan.


Semoga kamu segera tubuh di sini, nak.


__ADS_2