Lucia, Pesona Maba Hamil

Lucia, Pesona Maba Hamil
Tiba-tiba Jadi Siaga


__ADS_3

Lucia tidak menyangka Ghani datang diluar dari hari biasa, apa yang baru saja dilihat pria ini tadi? Matanya menyalang dengan sangat menusuk, Lucia jadi gemetar merasakan hawa tak biasa dari nada bicara Ghani.


"T-tuan.... A-ada apa kemari?" Ketakutan timbul lagi setelah akhir-akhir ini mulai meredup, Lucia seperti mengenal Ghani di awal mula pertemuan.


"Apa aku perlu alasan untuk bertemu Istriku?" Balasnya.


Lucia mengerjap, sejak kapan Ghani menganggapnya seorang istri? Lucia lebih suka Ghani yang tidak menganggap ada keberadaannya, Ghani yang sekarang selalu menunjukkan muka dan bersikap lebih protektif.


"Aku sudah kemari dari tadi siang, tetapi kamu tidak ada di rumah, aku mencoba menelpon mu namun kamu sepertinya sengaja menonaktifkan ponsel. Ternyata kamu habis bersenang-senang dengan teman lelaki mu, seharian!" Ucap Ghani dengan nada yang sedikit meninggi.


Bagaimana dirinya tidak emosi, ia hampir stress mencari keberadaan Lucia, pikirannya berkelana bahwa wanita ini kabur tanpa sepengetahuannya. Tapi kenyataan sesungguhnya membuat Ghani menyesal telah mengkhawatirkan istri kecilnya.


Lucia tambah berkeringat dingin, sorot mata Ghani benar-benar seperti ingin mengulitinya.


Tapi Lucia tak mampu untuk sekedar membuka suara, hanya genangan air di pelupuk mata yang menjawab semua kecemasan ini.


Menyadari Lucia yang nampak berkaca-kaca membuat Ghani menggeram dan mengusap wajahnya kasar, amarah di dalam jiwa membuat ia tidak bisa berpikir jernih untuk tetap bersikap tenang pada perempuan berbadan dua tersebut.


"Ughh....! Sakit" pekik Lucia memegangi perutnya, kali ini ia tidak bercanda. Bagian itu terasa keram dan tercabik-cabik, Lucia tidak kuat menahannya.


Seketika Ghani tersentak, ia melihat Lucia kesakitan sambil memegangi area perut.


"A-ada apa??" Gelagapan begitu mendengar rintihan tersebut.


"Sakit..... Ughh!!"


Tanpa banyak berpikir Ghani menggendong Lucia dan membawanya ke dalam rumah.


"Dimana kuncinya?"


Lucia merogoh saku dan mengeluarkan benda kecil itu, mereka pun masuk ke dalam. Ghani lalu merebahkan Lucia di kasur kamar, Lucia masih mengeluhkan kondisi perutnya.


"Apakah sangat sakit? Aku akan menghubungi dokter ke sini" sangat tampak dengan jelas jika Ghani dilanda kekhawatiran.


Lucia menggeleng, "Sebentar lagi pasti reda"

__ADS_1


"Apa kamu sering mengalami hal seperti ini?"


Lucia tak menjawab, sebab giginya terus merapat dan mendesis setiap ia merasa ususnya terlilit.


Ghani baru pertama kali masuk ke dalam rumah sewa ini, ia pun belum pernah tau bagaimana isinya, sebab tempat ini dicari oleh Jihan, karena itulah Ghani agak kebingungan ketika mencari pintu kamar.


Ghani jadi membayangkan situasi ketika Lucia merintih kesakitan di rumah ini sendirian, tak ada yang menemaninya seorang pun, dulu ia tidak peduli akan kondisi Lucia, mau ada anak sekalipun tak membuat Ghani iba.


Tapi kini sangat amat berbeda, ia merasa pilu melihat tubuh kecil itu meringkuk dengan ekspresi menahan sakit.


"Aku akan ambil minum dulu, tetap disini" Ghani bangkit dan keluar menuju dapur, meski ia kebingungan dan tidak tau letaknya namun karena ukuran rumah yang minimalis memudahkannya menemukan tempat tersebut.


"Dimana dispenser nya? Dia tidak punya?" Mengernyit heran, ia kira semua keperluan Lucia sudah tersedia disini, tapi nyatanya belum semua.


Ghani pun lantas memasak air panas menggunakan media kompor, ia akan membuat teh hangat untuk meredakan nyeri yang diderita Lucia.


Sambil menunggu Ghani mengecek stok bahan-bahan dapur disana, ketika membuka kulkas isinya pun sangat sedikit, mungkin Lucia belum sempat beli, atau dia lebih suka membeli makanan langsung di sekitar sini.


Ghani pun mencatat lewat ponsel semua keperluan yang belum tersedia.


"Dispenser, mie, buah-buahan..... Kira-kira dia suka buah apa?" Gumamnya tidak menahu.


"Roti, telur, selai.... Bla bla bla"


Setelah air panas sudah matang Ghani pun mulai menyiapkan minumannya, untunglah teh masih ada dan tidak sering digunakan Lucia.


Ghani kembali ke kamar, namun Lucia sudah terpejam dengan nafas yang beraturan, Ghani menyimpan gelas di atas nakas, dan mengambil kursi belajar lalu memindahkan di pinggir ranjang.


Ghani meletakkan kursi itu perlahan-lahan agar tidak menimbulkan decitan, ia pun duduk sambil berhadapan-hadapan dengan Lucia.


Ditatapnya orang yang tengah tertidur itu, nampak sangat lelah, padahal Ghani baru meninggalkannya sebentar tapi Lucia sudah terbang ke alam mimpi.


"Dia sepertinya kelelahan"


Ghani jadi teringat lelaki yang bersama Lucia tadi, ia tahu orang itu adalah yang menatap tidak suka padanya. Dan ternyata Lucia sudah sangat dekat dengan laki-laki tersebut, tidak hanya kenalan semata seperti yang ia lihat di kampus lalu.

__ADS_1


"Gara-gara bocah itu Lucia jadi kehilangan tenaga sekarang!! Seharusnya wanita hamil tidak boleh terlalu banyak beraktivitas" geramnya mengepalkan tangan.


Apalagi ketika tangan panjang itu menyentuh bagian yang sangat istimewa, perut Lucia, dimana anaknya berada.


"Bahkan aku saja belum pernah menyentuh perut besar itu!"


Fokus Ghani teralih pada tempat sang anak bersarang, tiga bulan lagi bayi itu akan lahir, Ghani menantikan momen itu.


"Bolehkah aku menyentuhnya?" Lirih Ghani.


Satu tangan terangkat di udara, mendekat pada bagian yang mempunyai daya pikat terbesar, Ghani ingin merasakannya, karena ini adalah saat-saat yang sangat ia tunggu-tunggu.


Ketika ujung jari Ghani baru menyentuh, ia merasa sensasi aneh yang bergelenyar sampai mengalir ke bagian dada, jantungnya berdebar hebat.


Ada sesuatu yang baru pertama kali di rasa, sesuatu penuh haru ketika bersentuhan langsung dengan bulatan yang menggelembung itu.


"Anakku.... Ada di salam sini" cicit Ghani semakin menyatukan telapak tangannya disana.


Ya Tuhan, ada darah dagingku disini, dia tumbuh di rahim wanita yang bahkan masih tidak aku sangka bisa menjadi istriku.


Perlahan tangan Ghani tidak hanya diam, tapi juga mengusap dengan lembut seperti mencari sesuatu yang entah apa itu.


"Aku bahkan lupa seperti apa bentuknya" ujar Ghani, hanya sekilas ia menatap USG hasil pemeriksaan Lucia, itupun ia tidak mengerti dengan gambar yang tercetak.


Saat di rumah nanti ia ingin meminta pada Jihan foto USG nya, dan mungkin akan menyimpannya mulai ke depan.


"Dia muat disini, dia akan sebesar apa nanti?"


Tubuh Lucia sangat kecil meski kini nampak sedikit membengkak, tapi tetap saja Ghani masih terheran-heran bagaimana bisa bayinya akan leluasa tumbuh seiring menambahnya usia kandungan.


"Cepatlah lahir, papah menunggu mu" bisiknya.


Gerakan tangan Ghani membuat Lucia terusik, Ghani menarik lengannya secepat kilat, sebelum Lucia mengetahui tindakannya.


Lucia tidak terbangun, dia kembali pulas dengan posisi terlentang.

__ADS_1


Ghani tidak berani lagi untuk kembali menyentuh perut itu, ia memilih bangkit dan keluar sebentar untuk menelpon seseorang.


"Belikan barang-barang yang aku perintahkan, sekarang juga"


__ADS_2