Lucia, Pesona Maba Hamil

Lucia, Pesona Maba Hamil
Mengagumi Mu Tanpa Alasan


__ADS_3

Bagaimana kisahmu, itu masa lalu mu.


Aku hanya punya tujuan menjadi sumber kebahagiaan.


Tanpa memandang sudut cerita yang ku dengar.


Lucia mengganti pakaian seusai kepergian Fabio, laki-laki itu tak berkata apapun sesudah percakapan mereka terakhir kali.


Tanpa pamit Fabio melajukan kendaraan, meninggalkan Lucia yang berdiri kebingungan.


Lucia menatap dirinya dari pantulan cermin, menelisik dari ujung kepala sampai ujung kaki. Memanglah dia tidak buruk-buruk amat, tapi kalau sudah terpaku pada perut buncitnya, siapa yang tidak mau menghujat?


Fabio pun langsung menghilangkan diri begitu mendengar seutas fakta mengenai status Lucia, padahal masih banyak cerita yang belum Lucia tata.


"Aku sangat menyedihkan..." Ujarnya menilai diri.


Tin!


Tin!


Suara klakson itu! Kenapa muncul lagi? Lucia berjalan cepat menuju jendela kaca, melihat dari balik tirai putih itu.


Mata membola ditunjukkan Lucia kala penglihatannya menangkap si pemilik klakson motor disana.


Lucia kembali keluar rumah, pria berjaket kulit itu berdiri di depan rumahnya sambil menenteng sebuah kantung plastik.


"Kakak ngapain balik lagi?"


"Nih, aku beli makan siang dulu tadi di perempatan. Kamu belum makan, kan? Tadi aku liat kamu gak jadi beli sesuatu pas di kantin" menyerahkan kantung hitam tersebut kepada Lucia.


"Padahal aku bisa beli sendiri, kenapa harus repot-repot dibeliin?"


"Ya emang gak boleh? Ngasih sesuatu apalagi buat ibu hamil kayak kamu bisa dapet pahala yang banyak. Udah nih, ambil!"


"Bukan gitu, masalahnya gimana kalau aku gak suka? Kakak tau kan perempuan hamil sukanya ngidam?" Belum mengambil benda itu dari genggaman Fabio.


"Khusus yang ini semua jenis manusia pasti suka!"


"Emang apa itu?"


"Ayam bakar, aku liat yang beli banyak jadi pasti enak. Makanya aku beli"


Lagi dan lagi Fabio memberi perhatian lebih, seperti tak punya rasa letih meski tak pernah ditagih.


Jadi ini alasan lelaki itu pergi tadi? Setidaknya beritahu mau kemana supaya Lucia tidak terus overthinking.


"Beneran buat aku? Bayar gak nih?"


"Enggak usah, orang kamu gak minta"

__ADS_1


Lucia lantas menerima makan siang gratisnya, untuk kedua kali ia ditraktir makanan oleh orang yang sama. Akankah rasanya selezat semangkuk mie ayam?


Dilihatnya kantung kresek tersebut, kedua alis Lucia mengerut ketika mendapat dua box Styrofoam.


"Kok dua?"


"Ya buat aku satulah, aku kan juga laper"


"Kalau gitu ambil dulu punya kakak" memerintahkan Fabio untuk mengambil miliknya.


"Gak peka banget sih jadi orang, aku mau numpang makan di rumah kamu" kata Fabio.


Lucia terbeliak, Fabio mau makan di rumahnya? Hanya mereka berdua? Tapi, Lucia belum pernah menerima tamu selain Jihan.


"Malah diem, bukannya mempersilahkan tamunya masuk. Ngelamun aja, hayooo lagi mikirin apa?" Tuding Fabio, membuat Lucia tersadar kembali.


"Ya aku juga mikir-mikir lah, kak. Gak sembarang orang bisa masuk, apalagi gak ada orang selain aku di rumah ini"


"Aku masih mau dengerin cerita kamu, janji gak akan macem-macem deh di dalem" Fabio bersumpah, ia mengerti kekhawatiran Lucia jika membiarkan lelaki memasuki rumahnya.


"Ya aku juga tau kakak gak akan berani macem-macem, tapi gak enak kalau ada orang yang tau" ungkap Lucia.


"Emang siapa orangnya? Disini aja rumah tetangga kamu sedikit, udah gitu kayak rumah kosong lagi" Fabio mencibir, memang betul kebanyakan di sekitar rumah Lucia adalah toko dan pedagang-pedagang makanan. Sisanya hanya rumah-rumah besar yang si pemiliknya kadang pulang kadang tidak.


Setelah mempertimbangkan, Lucia pun mengizinkan Fabio masuk. Dengan pintu rumah yang sengaja di buka, Fabio duduk di kursi tamu selagi Lucia mengambil piring beserta gelasnya.


Sekembalinya Lucia, Fabio lantas bertanya.


"Kamu aslinya orang mana sih? Rumah asli kamu di Jaksel juga?"


"Enggak, aku aslinya tinggal di Jakarta barat. Tapi disana juga gak ada siapa-siapa, ibuku kerja di bandung sama temennya" jelas Lucia sembari memindahkan ayam bakar ke dalam piring yang disediakan.


"Ayah kamu?"


"Udah meninggal"


"Maaf..." Fabio tak enak.


"Gapapa, emang kenapa tiba-tiba nanyain?"


"Soalnya disini gak ada foto-foto kamu, jadi aku penasaran rumah asli kamu dimana. Siapa tau aku bisa mampir sewaktu-waktu"


"Ngapain mampir? Aku aja ada disini"


"Ya aku bilang kan siapa tau"


Keduanya mulai makan bersama, duduk di atas lantai agar lebih nyaman dengan meja yang tak terlalu besar.


Lagi-lagi Lucia terpukau, makanan yang Fabio belikan selalu membuat lidahnya menari-nari, seperti ada bumbu khusus yang tidak diketahui.

__ADS_1


"Enak gak?"


"Enak, padahal selalu ngelewatin rumah makan itu tapi gak pernah tergoda sedikitpun. Ternyata ayamnya seenak ini" sambil menyuapkan nasi ke ke dalam mulutnya.


"Enakkan mana sama mie ayam?"


"Dua-duanya enak" tak mampu memilih salah satu.


Fabio tertawa renyah sembari turut melahap makanan tersebut.


"Kakak belum cerita soal di kantin tadi" seru Lucia mengingatkan.


"Ohhh itu..."


Lucia melirik, reaksi yang sama sekali tidak terniat untuk sekedar menjawab.


Mungkin memang Fabio malu dan bingung cara menjelaskannya, Lucia memutuskan tidak memperpanjang masalah tadi.


"Tadi aku emang ragu mau nyapa kamu, bukan karena malu"


"Terus?"


Fabio menghentikan aktivitasnya sejenak, menerawang kembali keputusan yang sempat mau ia ambil, namun tak kuasa dilaksanakannya.


"Semenjak kemarin denger kamu periksa kandungan sama suami, aku jadi ngerasa kayak orang ketiga disini"


Lucia langsung menatap pada Fabio, alasan yang sangat diluar perkiraannya. Tapi juga masih belum jelas maksud dari alasan tersebut.


"Aku bingung kalau mau deket-deket kamu, kalau tiba-tiba suami kamu liat kita berduaan kayak gini, dia pasti marah kan?" Fabio berujar, tampak raut yang berbeda dari wajah lelaki ini, tapi Lucia belum bisa membacanya.


"Walau temen kalau udah ada pasangan tetap harus jaga jarak, kan? Aku gak mau kehadiran aku jadi beban buat hubungan kalian"


Suasana hening sesaat, mereka sama-sama bergelut dengan pikiran masing-masing, tak ada yang salah dari dalih yang Fabio tuturkan. Sangat wajar kalau Fabio harus berpikir ratusan kali untuk dekat dengan Lucia.


"Kakak sendiri.... Udah punya pasangan?" Tidak menjawab, Lucia justru mengajukan pertanyaan.


Fabio tertawa kecil, seharusnya Lucia mengerti dari awal.


"Ya belum lah, kalau aku udah punya aku gak akan berani deketin cewek-cewek lain"


"Masa sih? Temen kakak banyak yang cantik, masa gak punya" memicingkan mata, curiga.


"Emang kenapa? Harus banget aku punya pacar?"


"Terus kenapa kakak mau deket-deket sama aku? Aku gak ada kelebihannya dari temen kakak yang lain" terheran.


Lama Fabio pandangi wanita di hadapannya, apa yang harus ia jelaskan jika dirinya saja kebingungan.


"Gak tau, aku mengagumi kamu tanpa alasan yang pasti"

__ADS_1


__ADS_2