Lucia, Pesona Maba Hamil

Lucia, Pesona Maba Hamil
Sudah Resiko


__ADS_3

Kedatangan dua orang yang sangat tidak Lucia sangka, berkunjung secara tiba-tiba tanpa memberitahu dirinya.


Ada angin apa?


Sampai-sampai muncul bersamaan.


Biasanya kalau tidak Jihan, Ghani yang kemari, pokoknya salah satu dari mereka. Tapi malam ini dua-duanya ada dihadapan Lucia.


"Lucia maaf kami jadi ganggu waktu tidur kamu" Jihan berseru, kedua alisnya melengkung seperti orang yang sedang mencemaskan sesuatu.


"Nyonya.... A-ada apa?"


Jihan menyentuh bahu Lucia yang lebih pendek darinya, "Aku khawatir Lucia, hujannya deras sekali. Aku jadi kepikiran kamu, makanya aku ajak mas Ghani kesini"


Ekor mata Lucia refleks melirik pada pria yang berdiri di samping wanita dewasa tersebut, Ghani tak bersuara apa-apa hanya diam, pria itu juga seperti sama cemasnya dengan Jihan, tetapi enggan mengakui.


"Boleh kami masuk, Lucia?"


Sangking bergelut dengan pikiran, Lucia sampai lupa mempersilahkan kedua orang ini untuk masuk, kedua kakinya membeku ditempat menghalangi jalan sepasang suami-isteri itu.


"Iya, s-silahkan..."


Lucia menggeser badannya memberi akses bagi mereka masuk.


"Ayo mas, jangan lupa buka sandalnya" titah Jihan.


Setelah keduanya ada di dalam Lucia kembali menutup pintu rumah, kini ia dibuat bingung harus apa, sebab berada di antara kedua orang tersebut selalu membuatnya canggung.


"Sini Lucia, duduk sini" Jihan menepuk sofa di sebelahnya menyuruh Lucia untuk mendekat.


Lucia menurut, ia menjatuhkan pantatnya disana.


"Cuaca akhir-akhir ini lagi kurang baik, aku selalu kepikiran kamu, dan kebetulan sekali malam ini hujan deras, makanya kami memutuskan menemani kamu semalaman"


Penjelasan Jihan sangat bermakna ganda, Lucia jadi terbengong sesaat sambil terus berpikir.


"Malam ini kami akan menginap" lanjutnya.


"Hah?? Nginep?"


Jihan mengangguk membenarkan, Lucia langsung tercekat dan menganga, tidak bisakah hanya memastikan keadaannya saja? Tidak perlu sampai menginap, apalagi.... Dengan Ghani.


"T-tapi kamar tamunya kecil" Lucia berusaha membuat lawan bicaranya ragu, sebab meski akan beda kamar dengannya tetap saja Lucia tidak akan nyaman.


"Gak masalah, mas Ghani bisa tidur di sofa. Iya kan, mas?"


Ghani mengangguk seraya berucap, "Iya"


Lucia tak tau lagi bagaimana mencegahnya, Lucia mengerti Jihan mengkhawatirkannya disaat cuaca yang sedang ekstrim ini, tapi tidak bisakah hanya memantau setelah itu kembali pulang? Ini hanya berhubungan dengan kenyamanannya saja.


"Tadi kayaknya kamu baru mau tidur ya? Sekarang masuk lagi ke kamar dan tidurlah, besok sekalian kita anter kamu kuliah"

__ADS_1


"Ah, i-iya" Lucia bangkit dan masuk kembali ke dalam kamar, meninggalkan Jihan dan Ghani yang masih duduk di sofa tamu.


Setelah pintu tertutup, Lucia menghela nafas berat yang teramat panjang.


"Hufttt..... Aku gak pernah kepikiran mereka bakal nginep, semoga cuma malam ini aja, jangan seterusnya" Lucia penuh harap, kemudian melangkah menuju ranjang yang sedari tadi tak jadi ia singgahi.


"Ganti baju kamu, mas. Udah ini aku buatin makan malam"


"Kamu bawa baju ganti punyaku?" Tanyanya, sebab ia tidak mempersiapkan apapun dari rumah.


"Iya aku bawa, sebentar aku ambilin" Jihan pun mengambil tas dan mengeluarkan pakaian tidur Ghani berserta miliknya juga.


"Ini, mas. Aku ganti baju duluan ya" setelah menyerahkan pakaian pada sang suami, Jihan pun masuk ke dalam toilet terlebih dahulu.


Begitu Jihan tidak terlihat, Ghani mengalihkan pandanganya pada pintu kamar Lucia, meski tertutup tetapi Ghani tau jika kini Lucia sedang kelusuh-kelasah di atas tempat tidurnya.


Ia paham Lucia memang tidak suka ada orang lain di rumahnya, dan perempuan itu sendiri yang mengatakan.


Ghani juga sudah berpikir berulang-ulang untuk menerima ajakan Jihan menginap, bukan karena dirinya tidak mau, tapi Ghani mengerti akan kenyamanan Lucia.


Tetapi kalau ia membiarkan Jihan saja yang menemani Lucia, maka ia harus meninggalkan kedua istrinya, dan itu membuat beban Ghani semakin berlipat.


Keputusan akhir yaitu ia ikut menginap malam ini, dengan begitu Ghani bisa menjaga serta memantau keamanan istri-istrinya.


Clekkk


"Giliran kamu, mas" Jihan keluar dengan piyama tidur yang sesetel dengan Ghani, warna biru tua yang bercorak bintang emas.


Begitu membuka kulkas Jihan agak membulatkan mata saat isi didalam tempat pendingin tersebut terisi begitu penuh.


"Perasaan aku belum membeli keperluan untuk Lucia lagi, apa dia belanja sendiri ya?" Gumam Jihan bermonolog.


Ghani muncul tak lama, lelaki itu menyadari raut aneh sang istri.


"Ada apa, sayang?"


Jihan menoleh, kemudian menatap kembali isi kulkas.


"Aku kaget isi kulkas ini ada banyak banget, apa Lucia beli sendiri ya, mas? Soalnya aku belum beliin dia bahan-bahan lagi semenjak kamu masuk rumah sakit"


"Itu aku yang beli"


"Hah?? Kamu?" Makin tersentak lagi Jihan, tak mengira jika suaminya lah yang membeli semua bahan-bahan ini.


"Kapan mas?" Sambung Jihan.


"Kemarin, aku kesini dan aku liat bahan-bahan dapurnya udah mulai habis. Jadi aku suruh bawahan untuk beli beberapa kebutuhan Lucia" Jelas Ghani.


"Kok kamu gak ngasih tau aku?"


"Maaf, aku lupa"

__ADS_1


"Ya udah, malem ini aku minjem dulu beberapa bahan masakan punya Lucia. Tadinya aku cuma mau bikin mie aja, tapi ngeliat isi kulkas ada banyak mending aku bikin tumisan, gak baik makan mie instan malam-malam" Jihan lantas mengambil beberapa sayuran serta bahan yang lainnya.


Perempuan yang sudah berpengalaman sebagai seorang istri selama lima tahun itu dengan cekatan memasak makan malam.


Dan suaminya dengan setia menunggu di kursi meja.


"'Lucia tidur ya? Kalau belum aku mau ajak dia makan bareng kita" imbuh Jihan seraya sibuk mengiris bawang.


"Dia mungkin udah makan malam" sahut Ghani.


"Bisa aja sih, aku lupa gak nanya tadi"


DUARRR


DUARRR


DUARRR!!!


"Ya Tuhan.... Petirnya kenceng banget!" Jihan sampai mematikan kompor saat mendengar suara guntur yang berangsur-angsur.


"Gapapa, lanjut aja" ujar Ghani.


Jihan yang hendak kembali menyalakan kompor seketika mengurung niatnya manakala mendengar rintihan kecil dari luar dapur.


"Ibuuuuuuuu......"


"Hiksss.... Ibuuuuuu......"


Ghani dan Jihan saling beradu tatap ketika menyadari itu adalah suara Lucia.


"Mas! Lucia...."


Keduanya berlari kilat menuju kamar Lucia, Ghani langsung membuka pintu dengan kasar sampai menimbulkan bunyi keras.


BRAKKK!


"Ibuuuuuuuu......."


Dilihatnya Lucia tengah meringkuk dengan mata yang terpejam rapat, tapi tubuhnya bergetar hebat dan mulutnya terus berseru nama sang ibu sambil meneteskan air mata.


"Lucia!!" Ghani dengan sigap menarik tubuh Lucia dan memeluknya dengan erat.


"Tenang Lucia, kamu tidak sendiri. Aku disini, tenangkan dirimu" Ghani terus menenangkan Lucia sembari mengusap lembut punggungnya.


"Takut buuu....." Lucia yang sepertinya tidak sadar membalas pelukan Ghani seolah mencari perlindungan disana, kedua kelopak matanya tak kunjung terbuka, Lucia masih setia berhalusinasi.


"Tenang, Lucia.... Tenang..... Aku disini Oke"


Jihan yang berdiri di ambang pintu beralih fokus pada kedua orang di depannya. Tepatnya, pada Ghani yang terlihat sangat amat cemas. Jihan tidak menyadari selama ini tentang perubahan Ghani, lelaki itu rupanya sangat mengkhawatirkan kondisi Lucia.


Bahkan cara dia mencemaskan seseorang pun, sama seperti tengah mengkhawatirkan dirinya.

__ADS_1


Disisi lain Jihan bersyukur, tapi sisi satunya hati ini terasa begitu perih.


__ADS_2