Lucia, Pesona Maba Hamil

Lucia, Pesona Maba Hamil
Terciduk


__ADS_3

Mereka bilang aku terlalu bodoh dalam mencintai seseorang.


Tetapi tak ada yang tau bahwa aku tidak pernah main-main dalam mencintai seseorang.


Seperti sebuah lagu yang ku dengar tadi malam.


🎶 Karna bersamamu semua terasa indah Gundah gulana hatiku t'lah hancur sirna


Janji ku tak kan ku lepas wahai kau bidadariku dari surga


Tuk selamanya🎶


Tanpa usaha apapun bidadari itu telah meruntuhkan kerasnya hati ini, bagai setetes air yang melelehkan batu padahal dia bukanlah sebuah ladu.


Wajahnya terkadang menyemburkan warna merah panas, tetapi bagi ku hal tersebut mampu menyejukkan hati yang terbakar oleh gas.


Tidak ku lihat lagi cahaya selain darinya, dibanding surya yang muncul dan menghilang, aku lebih suka sinar yang terpancar dari kedua mata cantik yang berlinang.


Gemas ku melihat rupanya yang rupawan, selalu berhasil membuat raga ini tertarik untuk mendekat.


Tak pernah ada jeda untuk ku berpaling muka, dialah yang sempurna.


Sesuai namanya. Lucu, imut dan ceria.


Fabio setia duduk di kantin saat jam istirahat tiba, ia menunggu Lucia sesuai ucapan wanita itu jika dia ingin bertemu setelah mata pelajarannya selesai.


Dua mangkuk mie ayam telah Fabio siapkan, dan kini tinggal menanti kedatangan si pujaan hati.


"Darrrrr!!"


Suara teriakan dari arah belakang sedikit membuat Fabio terkesiap, tetapi ekspresi kagetnya berubah ketika mendapati Lucia disana.


"Ihhh.... Kok gak kaget sih?" Tutur Lucia cemberut, kecewa karena Fabio hanya mengerjapkan mata saja.


"Oh iya sorry, aku ulangi ya" Fabio berbalik menghadap meja, kemudian menoleh lagi pada Lucia.


"Astaga Naga!! Lucia aku kaget bangetttttttttt" membuat suara serta ekspresi yang dilebih-lebihkan.


Lucia hanya memasang wajah datar, meski tidak puas mengerjai Fabio tapi ia tidak minta lelaki itu seperti ini juga kali.


"Lebay kak" Lucia memilih duduk di samping Fabio.


"Nih, mie ayam nya" menyodorkan mangkuk tersebut.


"Wihh... Tau aja yang aku mau" senyum merekah terbit begitu menerima makanan kesukaannya.


"Iya dong, insting aku ini kuat banget kalau soal kamu sama si Dede bayi. Belum kamu bilang aja aku udah bisa nebak, tring! Langsung ada sinyal di otak aku"


"Masa?"


"Yeeee masih aja gak percayaan"


Tak melanjutkan perdebatan, Fabio maupun Lucia kini mulai mengaduk mie yang belum terbumbui dengan rata.


"Minggu depan healing yuk, aku punya tempat bagus nih"


Mendengar ajakan Fabio mendadak Lucia diam seperti tengah berpikir.


"Harus banget ya Minggu depan?"

__ADS_1


"Minggu depan kan ada tanggal merah, jadi kita libur kuliah" jelas Fabio.


"Kalau bisa jangan Minggu depan" ujar Lucia menego.


Fabio menoleh ketika tak mendapat persetujuan, heran sebab biasanya Lucia tidak keberatan kalau di luar hari-hari biasa.


"Kamu ada perlu sama Nyonya dan Tuan itu?" Hanya itu yang ada dalam pikiran Fabio.


"Bukan, tapi Minggu depan ibu aku mau dateng ke Jakarta"


Fabio sampai tercenung ketika mendengar bahwa ibu Lucia akan datang Minggu depan, Fabio pun meletakkan kembali garpu dan sendok yang tengah ia pegang.


"Ibu mertua mau datang?? Waduh kok kamu baru bilang sekarang?"


Plak!


Lucia menampar lengan Fabio ketika lelaki itu menyebut nama mertua di tengah-tengah keramaian kantin.


"Syutttt kak! Orang bisa ngira yang enggak-enggak nanti" ujar Lucia waspada.


"Ah elah, mikirin banget orang lain. Biarin aja kali"


Lucia tetap menyuruh Fabio diam hingga sukses membuat Fabio bungkam, mereka pun mulai melahap mie yang masih hangat itu.


"Jadi kapan dong bisanya?"


"Aku gak tau, liat situasi aja nanti" tak pasti.


"Eh, ngomong-ngomong kalau ibu kamu udah disini, aku boleh kan ketemu?"


Hampir Lucia tersedak, tapi ia buru-buru menelan makanan tersebut.


"Mau apa?!" Sedikit menaikkan intonasi suara.


Lucia geleng-geleng melihat sikap Fabio yang kekeuh untuk bertemu ibundanya.


"Kak.... Kakak udah janji kan mau rahasiain hubungan kita" agak berbisik supaya tak terdengar oleh mahasiswa lain.


"Iya, janji. Lagian aku bakalan bilang kalau kita ini cuma temen kok, masa gak boleh?"


"Ya gak segampang itu kak, ibu pasti bakalan banyak tanya kalau aku deket sama laki-laki lain, pasti ujungnya ibu bakal suruh aku jaga jarak sama laki-laki. Ibu itu takut banget kak kalau aku deket sama cowok semenjak kejadian itu"


Fabio paham, meski ia menunjukkan kebaikan serta dedikasinya, tak semua orang akan langsung percaya bahwa itu adalah sebuah ketulusan.


Masa kelam membuat beberapa orang terkubur trauma yang mendalam.


"Hufttt.... Kayaknya aku kecepatan ya? Hehehe... Ya udah lain kali aja, lagipula aku gak bisa nyembunyiin tatapan aku kalau cuma dibilang temen. Pasti udah keliatan pas liat kamu, orang juga bakalan sadar akan hal itu"


Lucia mengangguk membenarkan, Fabio selalu gagal menahan ekspresi kagum saat berhadapan dengan perempuan di sampingnya ini. Oleh karena itu, daripada ketahuan Fabio selalu menghindar.


"Maaf ya kak, berhubungan sama aku ternyata sesulit ini" lirih Lucia lesu, Lucia tidak enak hati selalu mengulur keinginan Fabio untuk mewujudkan keinginan-keinginan lelaki ini.


Dan entah sampai kapan waktu yang dinanti akan tiba.


"Enggak kok, gak ada yang sulit. Cuma belum waktunya aja" Fabio menyemangati, tak mau Lucia rendah diri.


Disaat keduanya sedang berbincang dari hati ke hati, seorang lelaki tiba-tiba muncul di hadapan mereka dengan sedikit menggebrak meja.


"Woy! Lu disini"

__ADS_1


Sontak Fabio dan Lucia menarik diri memasang jarak, kehadiran teman Fabio yang satu ini sungguh tidak disangka-sangka.


"Lho, bukanya tadi lu bilang mau langsung balik?" Fabio terheran ketika Bisma muncul setelah tadi ia memastikan teman-temannya pulang.


"Iya, emang. Gue ke kantin cuma mau beli rokkok doang, eh malah ngeliat lu disini lagi makan bareng cewek" seraya melirik Lucia yang menunduk kaku.


"Eh, lu bukannya Lucia ya? Iya, bener gue tau nama lu. Kenalin gue Bisma, temen Fabio" tambahnya mengulurkan tangan.


Tak ingin berlaku tidak sopan, Lucia pun menerima uluran tangan Bisma.


"Lucia" balasnya.


"Kok kalian bisa saling kenal?" Tunjuk Bisma bergantian.


"Bisa lah"


"Wah parah lu, gue kira lu gak saling kenal sama Lucia. Padahal kita kan sering ngomongin kalau lagi nongkrong"


Seketika Lucia menatap Fabio penuh tanda-tanya, sudah ia duga kalau mereka pasti membicarakannya, tetapi kenapa Fabio menutupi fakta ini padahal Lucia pernah bertanya.


"E-enggak! Kalian aja kali gue mah kagak" elak Fabio cepat.


Bisma memilih duduk, ingin mendengar sejauh apa kedekatan sahabatnya ini dengan wanita yang selalu dibicarakan orang-orang karena kehamilannya.


"K-kalian ngomongin aku apa?" Cicit Lucia memberanikan diri.


"Enggak penting-penting amat sih, cuma penasaran aja sama lu" kata Bisma menyanggah.


Fabio mengepalkan tangan di bawah meja, dasar Bisma! Selalu saja membuat suasana kacau. Seharusnya ia lebih teliti lagi untuk memastikan jika para sahabatnya benar-benar sudah tidak ada di sekitar.


"Udah deh, mending lu pulang aja sana. Kita mau makan mie ayam gak jadi-jadi mulu nih dari tadi" usir Fabio dengan gamblangnya.


"Makan mah makan aja kali, gak minta juga gue"


"Gak boleh! Nanti Lucia gak nyaman"


"Emang kalian lagi ngomongin apaan sih? Sumpah ya, gue tuh penasaran banget ternyata kalian itu akrab" Bisma benar-benar ingin tahu.


"Kepo banget jadi cowok"


"Oh gue tau!" Potong Bisma.


"Apa?"


"Lu pasti kenal sama suaminya kan? Iya iya gue paham sekarang, secara keluarga lu kan relasinya luas banget jadi gampang buat dikenal banyak orang"


Fabio menepuk keningnya sendiri, pakai bawa-bawa suami segala, dikira hubungan Fabio dan Ghani dekat gitu? Bertemu saja sudah ingin membuat Fabio melayangkan tinju.


"Udah deh, mau lu nanya sampe berbusa pun gak akan gue jawab. Mending pergi aja"


"Tapi kan..."


"Bisma!! Ayo" panggil wanita di ujung pintu.


Yang dipanggil menoleh dan seketika ia ingat kalau sedari tadi ada yang menunggu dirinya.


"Noh, pacar lu udah nungguin"


"Waduh, sampe lupa gue. Ya udah gue cabut, kita cerita lagi nanti" segera Bisma beranjak dan menghampiri wanita yang sempat dilupakannya itu.

__ADS_1


Kini barulah keduanya bisa berbicara dengan leluasa.


"Aku tunggu penjelasannya kak"


__ADS_2