Lucia, Pesona Maba Hamil

Lucia, Pesona Maba Hamil
Untuk Malam Ini saja, Aku Butuh Dia


__ADS_3

Pintu rumah sengaja di tutup karena angin yang berhembus dingin, malam Minggu kini sebagian orang mendadak pulang karena ibukota yang diguyur hujan tumben-tumbenan.


Untung saja Lucia dan Fabio sudah dalam perjalanan pulang sedari tadi, sehingga hanya rintik-rintik yang membasahi keduanya.


"Aku pinjem kamar mandinya dong, disebelah mana?"


"Itu, yang deket dapur"


Fabio lantas masuk untuk membersihkan pakaiannya yang terkena cipratan tanah basah.


Sedangkan Lucia menyiapkan air hangat untuk mereka berdua, setelah menyalakan kompor Lucia berlalu ke dalam kamar untuk mengganti dress-nya.


Sekembalinya Fabio ia melihat Lucia tengah sibuk di dapur, ia pun lantas menghampiri.


"Lagi ngapain?"


"Rebus air, aku mau bikin susu hangat, kakak mau juga?" Tawar Lucia.


Fabio menatap susu ibu hamil yang tengah diseduh, sontak ia membolakan mata.


"Ya kali aku minum susu ibu hamil"


"Bukan yang ini, aku punya kok susu kental manis biasa"


"Oh... Kirain kamu mau nyuguhin aku minuman itu. Boleh deh"


"Kakak tunggu aja di kursi, udah aku siapin handuk kecil buat kakak"


"Oke, makasih ya"


Fabio menunggu sambil mengeringkan tubuhnya dengan handuk yang disediakan Lucia, waktu sudah lewat jam sepuluh, tapi hujan masih setia menemani.


Secangkir susu hangat disodorkan Lucia di atas meja, satu yang berwarna putih dan satu lagi berwarna merah muda untuknya.


"Masih berisik aja diluar, apa mungkin hujannya bakal reda ya kak?"


"Kurang tau, kalau diliat dari prediksi cuaca sih hujannya bakal tetap gede sampe subuh" Fabio memberitahu, ia mengambil cangkir miliknya dan meminum sampai habis setengah gelas.


"Oh ya? Terus gimana?"


"Nginep aja deh aku" kata Fabio.


Lucia seketika terbelalak, menginap?? Yang benar saja, meski situasinya tidak memungkinkan untuk pulang tapi apakah menginap adalah cara satu-satunya untuk menghindari hujan?


"Habisnya gak dibolehin pulang sih sama kamu"


"Y-ya aku kan takut kak kalau kakak bawa motor pas lagi hujan, licin, udah gitu gelap lagi. Masalahnya kakak itu habis main bareng aku, kalau kakak kenapa-napa, pasti aku juga yang keseret" tutur Lucia kelabakan, ia tidak mau Fabio mengira dirinya mencegah lelaki itu pulang agar bisa lebih lama dengannya.


"Serius amat, cieee... Yang lagi khawatir sama aku. Btw hujan-hujan gini enaknya tidur sambil dipeluk seseorang lho" Fabio mencoba mengkode wanita disampingnya itu.


Lucia yang paham memilih pura-pura tidak mengerti saja, memang ia harus apa kalau Fabio berpikir demikian?

__ADS_1


"Kakak ngantuk? Tuh istirahat dulu aja di kamar tamu, biar gak ngantuk pas nyetir nanti. Nanti kalau udah reda aku bangunin"


"Seriusan aku boleh tiduran di kamar tamu?"


"Iya"


"Asikkk.... Ya udah aku habisin dulu susunya"


Setelah keduanya selesai menghabiskan minuman hangat itu, mereka langsung masuk ke kamar yang berbeda, tidur sambil menunggu hujan reda.


Lucia masih tak percaya jika kini ada seorang pria yang sedang beristirahat di sebelah kamarnya, ada rasa cemas karena mereka bukanlah sepasang suami-isteri, apalagi Lucia cuma tinggal sendiri.


Namun situasinya sangat terpaksa, Lucia lebih menyesal kalau terjadi apa-apa pada Fabio di jalan.


Duarrr!!!!


Duarrr!!!


Suara petir membuat Lucia tersentak, ini baru pertama kali dia tertidur sambil ditemani guntur yang lumayan besar selama tinggal di rumah sewa, Biasanya tak pernah hujan, mungkin karena musim mulai berganti.


Duarrr!!!


Lagi-lagi petir mengagetkan Lucia, wanita itu memegang dadanya saking terkejut. Ia takut, Lucia mencoba mematikan lampu kamar, disaat banyak petir begini jangan banyak aliran listrik yang menyala.


Namun penerangan yang gelap membuatnya tambah gelisah.


DUARRR!!!


Suara petir yang amat besar membuat seluruh tubuh Lucia bergetar, ia segera keluar untuk mencari sosok Fabio.


Keberadaan pria itu akan membuatnya sedikit lebih tenang, setidaknya Lucia ada yang menemani di situasi seperti ini.


Tok Tok!


"Kak....."


Tok Tok!!!


"Kak..... Keluar dulu, aku takut......"


"Kak, temenin aku bentar...."


Seruan serta ketukan pintu Lucia tidak disahuti sama sekali, sepertinya Fabio tidak mendengar akibat derasnya hujan dan petir yang sedari tadi tidak henti bergemuruh.


DUARRR!!!


DUARRR!!!


Petir kencang kembali terdengar, hal itu membuat Lucia tanpa sadar mendorong pintu kamar tamu hingga terbuka.


"Kak?"

__ADS_1


Lampu kamar sengaja dimatikan oleh Fabio, sedangkan orang yang menghuni kamar itu asik berbaring di atas ranjang kecil dengan deru nafas yang teratur.


Lucia mendekat ke sisi ranjang, memandang Fabio yang tidur pulas tanpa menghiraukan suara menakutkan di luar sana.


Lucia tak tega membangunkannya, namun ia benar-benar takut dan butuh seseorang untuk menemaninya.


Maka dari itu Lucia kembali membangunkan Fabio.


"Kak..... Kakak bisa denger aku?"


"Kak Fabio....."


"Kak......" Lucia sedikit menggoyang-goyangkan badan lawan bicaranya.


Rupanya cara Lucia berhasil membuat Fabio membuka setengah matanya, samar-samar ia melihat Lucia disana.


"Kak aku takut, banyak petir" cicit Lucia mengadu.


Sontak Fabio menarik lengan Lucia, "Sini, tidur bareng aku"


"Hah?? Tapi..."


"Aku ngantuk banget, sini tidur deket aku" lirihnya dengan nada parau.


Tarikan lengan Fabio membuat Lucia terduduk di tepi ranjang, sesaat Lucia hanya diam tanpa berniat untuk berbaring di atas ranjang yang sama.


Namun rasa kantuk menyerang secara berangsur-angsur, tapi ia belum berani ke kamar sendirian, takut tiba-tiba mati lampu secara mendadak.


Dipandang lagi Fabio yang terlelap dengan tangan yang masih setia menggenggamnya.


"Kak....."


Ragu untuk ikut bergabung dengan lelaki ini, akan tetapi semakin berputarnya waktu Lucia tidak kuat untuk membuka matanya.


"Kak, aku ikut tidur ya"


"Kak?"


Fabio kembali mengangkat setengah kelopak matanya, ia menepuk ranjang di sebelahnya memerintahkan Lucia dengan gerakan tangan.


Dan perlahan Lucia pun berbaring tepat di samping Fabio, membelakangi pria itu, posisi mereka sangat amat berdempetan sebab ranjang yang mereka tempati hanya cukup untuk satu orang saja.


Fabio dengan otomatis memeluk pinggang Lucia dengan telapak tangan yang berada di permukaan perut wanita tersebut.


Lucia merasa berdebar setengah mati, namun tak lama ia merasa nyaman tertidur sambil dipeluk oleh lelaki ini.


Telapak tangan Fabio yang besar menghangatkan tubuh Lucia dan bayinya.


Ya Tuhan, maafkan aku untuk malam ini saja. Aku ingin bersamanya.


Dan perlahan-lahan Lucia turut memejamkan mata, terbang ke alam mimpi dan memimpikan lelaki yang tengah memeluk erat dirinya sampai pagi.

__ADS_1


__ADS_2