Lucia, Pesona Maba Hamil

Lucia, Pesona Maba Hamil
Keseriusan Ghani


__ADS_3

Petir tetap berlanjut, tapi untungnya Lucia sudah mereda dan kembali sadar dari keterkejutan. Butuh waktu cukup lama bahkan untuk Lucia membuka mata, tangan kecilnya pun tak henti mencengkram pakaian Ghani.


Setelah membaik, Lucia diajak menuju meja makan. Perempuan tersebut pun sulit untuk memejamkan matanya lagi, alhasil disinilah ia berada, duduk bersama dua orang yang setia menemani Lucia.


"Kamu makan juga, Lucia. Aku yakin makan malam kamu pasti sedikit tadi, jadi sekarang ayo ikut makan malam" tutur Jihan.


Lucia menggeleng pelan, ia tak ada selera. Lucia banyak termenung, ia membayangkan bagaimana nasibnya saat dua yang tidak ia harapkan kehadirannya ini tidak ada di sisinya.


Lucia jadi menyesal telah berdoa agar Jihan dan Ghani segera pergi dari rumahnya, kalau mereka tidak ada mungkin ia bisa pingsan karena jantungan.


"Ya Tuhan.... Aku ini manusia macam apa!" Ujar dalam hati merutuki diri sendiri.


"Benar kata Jihan, makanlah lagi walau sedikit. Tadi kamu banyak menangis, tenaga kamu pasti terkuras" seru Ghani tiba-tiba, kali ini dia tidak bisa hanya diam, sebagai suami ia harus memberikan saran serta nasihat yang tegas untuk kebaikan istrinya, apalagi ada bayi di perut wanita itu.


"Aku ambilin ya, kamu mau kan?" Jihan menawarkan, meskipun dadanya sempat sesak ketika melihat kedekatan Ghani dengan Lucia, tetapi dia tahu itu adalah resiko yang akan ia alami.


Jihan tetap memperhatikan kondisi remaja tersebut.


Bujukan Ghani dan Jihan pun berhasil membuat Lucia luluh, dia mengangguk dan turut makan malam bersama.


Ghani lega setiap melihat Lucia melahap makanan ke dalam mulutnya, perempuan itu tampak rapuh dan lemah di mata Ghani, membuat kekhawatirannya pada Lucia selalu melekat.


"Tadi kamu sebut-sebut nama ibu, lagi kangen ya?" Ucap Jihan disela-sela makannya.


"Emm... Mungkin karena aku habis teleponan sama ibu" cicit Lucia.


"Oh ya? Pantesan. Gimana kabar ibu kamu?" Ingin tahu.


"Ibu sehat, katanya ibu mau kesini Minggu depan"


"Ibu kamu mau kesini??? Kalau gitu, gimana semisal kita jemput?" Jihan antusias mendengar kabar tersebut, meski Ibunda Lucia adalah ibu mertua Ghani dari madunya, Jihan tetap menganggap wanita paru baya itu seperti mertuanya juga.


"Ide bagus, kita bisa jemput ke rumah kamu" Ghani setuju, kali ini ia ingin menampakkan diri di hadapan mertuanya, menunjukkan kalau meski dulu ia telah merusak putrinya tetapi kini Ghani selalu menjaga Lucia.


Ghani sadar dulu bahkan ia tidak sopan menikahi Lucia tanpa meminta restu wanita tua itu, justru Jihan lah yang meminta izin supaya ibu Lucia mau menikahkan putrinya dengan Ghani.


Ghani ingin menebus dosa-dosanya sedikit demi sedikit.


"E-enggak perlu, Nyonya. Ibu bilang dia juga belum tau pasti kapan bakal datang, Minggu depan cuma perkiraan aja, kalau pun bakal Minggu depan ibu bakal langsung datang naik bis" Lucia menolak dengan halus, ia tahu sepasang manusia di depannya ini adalah orang sibuk, maka dari itu Lucia enggan merepotkan keduanya.

__ADS_1


"Tidak enak kalau kami tidak menjemput, lagian dari Jaksel ke Jakbar juga tidak terlalu memakan waktu lama" kata Ghani menimpal.


"Tapi... Ibu juga kayaknya lebih milih naik bis aja, k-kalau kalian mau ketemu, nanti saat ibu udah tiba disini"


"Kalian ini, sama-sama orang yang gak enakkan. Ya sudah kalau memang seperti itu, nanti kabari lagi kalau ibu kamu udah disini" Jihan pasrah, ia tak mau memaksa. Syukur-syukur Ibunda Lucia betah, apapun demi kenyamanan mereka berdua.


"Bukankah kamu lebih baik tanyakan dulu? Aku bersedia untuk menjemputnya, tidak sopan membiarkan mertua datang sendiri, sedangkan aku sebagai menantu mampu untuk mengantarnya kesini" Ghani nampak gelisah, ini bisa jadi kesempatan untuknya memulai dari awal.


"Mas, aku tau niat mas baik. Tapi kalau kita tetap bersikeras yang ada ibu Lucia jadi tidak nyaman, kita belum sedekat itu dengan beliau, benar kata Lucia kita bisa bertemu nanti disini" Jihan menggenggam tangan suaminya sambil memberi masukan, dari sini Jihan sudah bisa melihat keseriusan Ghani untuk hubungannya dengan Lucia.


"Maaf, aku hanya tidak enak"


"Mungkin kita bisa mengantarnya saat pulang, benar kan Lucia?"


Dan kali ini Lucia mengangguk meski ragu, lihat saja bagaimana baiknya nanti, yang terpenting ibunya sampai kesini dengan selamat.


Ghani menghela nafas berat, sepertinya ia harus lebih bersabar, jangan sampai membuat mertuanya kaget dengan sikap Ghani yang tiba-tiba ini.


"Baiklah"


***


Lucia tidur pulas di kamarnya, Jihan di kamar tamu, sedangkan Ghani terbaring di atas sofa panjang ruang tamu.


Sekitar pukul jam dua Lucia merasa ingin buang air kecil, sehingga mau tak mau Lucia pun terbangun menuju toilet yang memang terpisah dengan kamar tidurnya.


Seusai dari toilet Lucia tanpa sengaja melihat seseorang yang berbaring di sofa, ia memicingkan mata, barulah Lucia sadar itu Ghani.


"Dia gak pake selimut? Emangnya gak dingin?" Lucia bergumam.


"Atau mungkin.... Gak dapat selimut?" Pikirnya.


Lucia lantas masuk kembali ke dalam kamar, tetapi bukan untuk berbaring lagi, melainkan mengambil selimut lainnya yang tidak ia gunakan dan masih tersimpan di lemari.


Memang kain hangat ini agak tipis, tapi setidaknya bermanfaat dari pada tidak digunakan.


Lucia pun keluar lagi, diseretnya kedua kaki itu menuju tempat Ghani berada.


Ia berhenti agak jauh dari sofa, Ghani tidur sambil melipat kedua tangan, seperti menahan dingin yang menyeruak.

__ADS_1


Lucia bingung pada dirinya sendiri, kenapa mendadak ia mempedulikan lelaki ini. Mungkinkan ini adalah naluri bayinya supaya Lucia lebih memperhatikan ayah si bayi?


Sepertinya begitu.


Lucia mendekat, ia merentangkan selimut tersebut kemudian menyelimuti Ghani dengan hati-hati, tak mau sampai Ghani terbangun dan mendapatinya disini.


Dirasa cukup, Lucia berbalik hendak kembali ke dalam kamar.


Baru saja Lucia melangkah satu kali, seseorang menahan pergelangan tangannya sehingga membuat Lucia tertahan di tempat.


Lucia terperanjat, seketika ia menoleh ke belakang. Ghani bangun dan tengah menatap ke arahnya!


"T-tuan?!"


"Kenapa?" Seru Ghani serak, keberadaan Lucia sangatlah Ghani sadari, dan lebih tak disangka lagi perempuan itu menyelimutinya.


"Kenapa menyelimuti ku?"


"Itu.... B-bukan aku! B-bayinya..... Bayinya yang minta" elak Lucia mentah-mentah, melempar pernyataan kepada si buah hati.


"Oh ya?"


"Iya! L-lepasin aku"


Ghani tak mengindahkan, ia tetap menahan lengan sang istri.


"Bukannya itu pertanda kalau bayi kita ingin tidur dengan ayahnya?"


Lucia menganga, bisa-bisanya Ghani berpikir demikian?!


"Enggak tuh! Bayinya gak pingin tidur sama ayahnya, dia cuma pingin kasih selimut ini. Jadi lepasin aku" pinta Lucia membantah.


"Yang bener? Mau juga gapapa"


"Ihh!! Aku bilang enggak" Panik Lucia.


Melihat raut wajah Lucia yang kelabakan Ghani pun merasa puas, ia lantas melepas genggaman tangan dan membiarkan Lucia pergi, benar saja Lucia langsung berlari menuju kamar.


Ghani tak bisa menahan tawa, ia lagi-lagi terkekeh melihat tingkah istri kecilnya itu.

__ADS_1


__ADS_2