Lucia, Pesona Maba Hamil

Lucia, Pesona Maba Hamil
Jawaban Yang Terungkap


__ADS_3

Mereka kembali setelah fajar berada di ufuk timur, mereka berjalan saling beriringan menuju ke arah kendaraan Fabio terparkir.


Mereka banyak bercerita, namun sayangnya tidak lebih dari satu jam, Fabio mengajak Lucia pergi dari sana untuk menemui kerabat dekat yang Fabio bilang dia rindukan.


Sebuah lampu mobil menyala ketika Fabio menekan remote kecil di tangannya.


"Kakak naik mobil?"


"Hehe... Iya" ungkapnya seraya menggaruk kepala belakang yang tak gatal.


"Tumben"


"Kalau perjalanan yang cukup jauh biasanya emang pake mobil, naik motor karena emang ke kampus deket jadi mending pake motor aja" Fabio menuturkan.


"Udah yu, naik" Fabio membuka pintu depan dan mempersilahkan Lucia untuk duduk di sampingnya.


Setelah keduanya masuk, Fabio menjalankan kendaraan itu menuju tempat tujuan.


"Rumah temen kakak dimana? Jauh gak?"


"Gak terlalu jauh kok, masih di sekitaran Jaksel"


Lucia makin kalut, ia ingin diam saja di dalam mobil ketika sampai nanti, biarlah Fabio bertemu dengan teman lamanya, toh pada akhirnya ia hanya akan menjadi nyamuk diantara mereka berdua.


"Eh ke toko bunga bentar ya, aku mau beli buket buat dia"


Lucia tak menanggapi, dalam hati Lucia menggerutu, romantis sekali sampai membelikan wanita itu bunga, baru saja kemarin Fabio mengatakan jika dia sayang padanya, tapi kini malah membelikan perempuan lain seikat tanaman cantik.


Fabio menghentikan mobil di depan toko yang baru saja buka itu, ia turun dan masuk ke dalam untuk memesan bunga yang diinginkan.


Lucia melihat dari dalam, ia tak ikut keluar sebab Fabio juga menyuruhnya tetap di mobil. Lucia bisa melihat pancaran kebahagiaan Fabio melalui kaca toko yang tak tertutup itu.


"Cewek itu pasti spesial banget, dia beruntung" gumam Lucia membayangkan seperti apa wanita tersebut, pasti cantik sehingga Fabio tak bisa melupakan bahkan dibuat merindu.


Sekembalinya Fabio, lelaki itu telah membawa sebuket bunga matahari di tangannya, Lucia agak menekukkan kening.


"Kok bunga matahari? Biasanya cewek lebih suka bunga mawar" Lucia mengomentari.


"Soalnya dia suka bunga matahari, suka warna kuning juga"


"Oh... " Sahut Lucia, Fabio terdengar sangat hafal apa yang disukai oleh gadis itu, mereka benar-benar teman dekat, tapi apa benar hanya sekedar teman? Atau mungkin... Pernah punya perasaan?

__ADS_1


"Kenapa sih diem aja? Biasanya banyak nanya" Fabio memecahkan keheningan.


"Lagi gak mood aja, aku kan emang pingin sendirian tadinya. Eh, kakak malah dateng. Mana maksa aku buat ikut"


"Jadi aku salah nih menampakkan diri? Kan aku juga gak tau kamu ada disana, lagian aku khawatir kalau ngebiarin kamu sendiri naik angkutan umum"


"Iya iya" mendengus sebal.


Fabio kembali tersenyum lucu, ia menyadari suasana hati Lucia yang berubah buruk bukan karena kedatangannya, namun ketika ia menyebut wanita lain di depan perempuan ini.


Lucia seperti seseorang yang sedang cemburu.


Dan Fabio senang akan hal itu.


"Tolong pegangin bunganya ya" menyodorkan Lucia benda itu.


"Kenapa gak taruh di belakang aja?"


"Nanti kusut dong, aku gak mau bawain dia bunga yang rusak"


Lucia enggan sebenarnya, akan tetapi ia masih mempunyai hati untuk tidak terlalu egois, Lucia pun mengambil buket itu dan memegangnya dengan hati-hati.


"Makasih, kita berangkat lagi ya" mesin mobil pun menyala, keduanya membelah Senin pagi dengan suasana yang berbeda pula.


Ckittt


Roda mobil berhenti di sebuah makam yang nampak sepi itu, Lucia mengedarkan pandangan ke sekeliling memastikan apakah ada rumah di sekitar sini.


"Di mana rumahnya, kak?"


"Kita udah sampai, turun dulu yuk" tak menjawab, melainkan mengajak Lucia untuk keluar terlebih dahulu.


Mereka pun turun, Fabio berjalan memasuki area makam, mau tak mau Lucia pun mengekori meski dibuat kebingungan.


"Kak, sebenarnya kita mau kemana sih? Ini kan kuburan"


"Mau ke rumah temen aku"


"Tapi ini kan...."


Fabio mengerem kakinya di depan salah satu nisan yang berada disana, ia menatap Lucia yang berdiri di sampingnya, tersenyum seolah memberi Lucia sebuah jawaban.

__ADS_1


"Kita udah sampai di rumah temen lama ku" kata Fabio.


Lucia langsung tercengang dan menutup mulut dengan satu tangan, terkejut setengah mati mengetahui jika teman yang Fabio maksud itu ternyata sudah tiada. Lucia menyesal telah berprasangka buruk, kalau saja Lucia tau ia tidak akan pernah berani menggerutu.


"K-kenapa kakak gak bilang?"


Fabio hanya tersenyum, dia mengambil bunga yang di pegang Lucia, dan menaruhnya di atas tanah yang menumpuk itu.


"Bunga ini sesuai sama namanya"


Lucia refleks membaca nama yang tertera di batu nisan tersebut.


"Mentari"


Jadi ini alasan Fabio membeli jenis bunga berwarna kuning? Dan karena ini pula Fabio datang untuk melihat matahari terbit? Semua berhubungan dengan satu nama yang telah terkubur bersama jasadnya.


Tatapan Lucia berubah sayu, ia bisa merasakan bagaimana rasanya kehilangan seseorang yang sangat berharga bagi hidup kita, dan itu tidak akan pernah terlupakan, kenangannya akan selalu ada meski cerita baru bermunculan.


"Aku turut berdukacita" cicit Lucia.


Fabio mengangguk, menerima ucapan bela sungkawa itu. "Dia udah tenang di sana"


Lucia menengadah, walau tersenyum Lucia bisa melihat setitik kesedihan yang tersemat di ujung mata Fabio.


"Kenapa dia bisa kayak gini? Apa dia sakit sebelumnya?"


"Ya, dia sakit. Dia nutupin penyakit itu dari aku, bodohnya aku gak bisa melihat itu, karena waktu kita bertemu, dia selalu menghibur aku di tengah-tengah sakit yang menggerogoti tubuhnya sedikit demi sedikit"


Mengingat itu rasa sesak kembali menghampiri Fabio, bayang-bayang lengkungan bibir yang amat tulus telah membohonginya, dibalik senyuman itu ada rasa sakit yang di simpan serapat mungkin.


"Dan aku tidak lebih dari seorang pecundang, yang selalu acuh saat dia memberi semua cinta dan kepeduliannya" tutur Fabio lemah.


"Disaat Tuhan memanggil namanya, disaat itu pula dunia ku runtuh berantakan. Aku dipenuhi rasa sesal yang tiada ujungnya, yang akhirnya membuat aku jadi gila"


Jawaban yang Lucia tunggu-tunggu dari ungkapan Fabio berminggu-minggu lalu terungkap juga, alasan dibalik Fabio yang harus menjalani terapi panjang selama berbulan-bulan, dan inilah penyebabnya.


"Yang lebih menyesakkan adalah, ketika aku baru menyadari kalau aku mencintai dia di detik-detik ajalnya, bahkan aku udah menyiapkan cincin untuk disematkan di jari manisnya. Tapi karena sikap ku yang dulu membuat Tuhan tak Sudi untuk menjadikan dia sebagai milikku, dan aku pun harus kehilangan dia selama-lamanya"


Apa yang kita tanam, maka itu pula yang akan kita tuai. Semua perbuatan kita akan selalu ada hasil yang setara, Fabio yang Lucia kenal sempurna juga mempunyai masa kelam yang tak bisa dipercaya.


Fabio menghadap Lucia, mengambil kedua lengan kecil itu dan menggenggamnya dengan erat.

__ADS_1


"Karena itu, aku akan melakukan apapun sekarang untuk kamu, supaya aku gak menyesal suatu saat nanti. Agar aku juga bisa... Mendapatkan kamu saat cincin baru nanti telah aku siapkan"


__ADS_2