
Seasing apapun kita nanti, kamu tetap menjadi orang yang aku tunggu dan ingin ku ajak segalanya.
Seasing apapun kita nanti, kalau dunia kembali jahat sama kamu aku tetap disini, datanglah jika kamu butuh aku.
Seasing apapun kita nanti, kamu tetap jadi orang pertama yang aku cari disaat duniaku sedang tidak baik-baik saja.
Seasing apapun kita nanti, kamu tetaplah pemenangnya.
"Ini dimana? Kok kita kesini?" Tanya Lucia saat kendaraan yang mereka tumpangi berhenti di sebuah basement, dan yang Lucia tau ini bukanlah Mall.
"Ini apartemen tempat aku tinggal" balas Fabio membuka helmnya.
"Hah?? Terus kenapa kita kesini? Kakak mau ambil sesuatu?"
"Enggak, tapi kita mampir dulu ke apartemen aku ya. Kamu belum tau kan tempat tinggal aku? Sini aku kasih tau"
"Tapi.... Aku..... Aku gak berani masuk ke tempat tinggal cowok kak!" Lucia langsung memasang antisipasi, apalagi ini apartemen. Kalau sampai terjadi sesuatu Lucia tidak bisa meminta pertolongan, berteriak pun sepertinya percuma.
"Bukannya kita udah sering berduaan ya? Aku bahkan pernah main malem-malem ke rumah kamu"
"Itu beda kak, ini apartemen!"
Fabio terkekeh, ia turun duluan dari motor.
Dipandanginya Lucia dengan intens sembari mengikis jarak sedikit demi sedikit.
"Apa yang kamu pikirin?" Memicingkan mata menatap curiga.
Sontak Lucia meneguk saliva saat Fabio terus menundukkan kepala memangkas jarak.
__ADS_1
"A-aku.... Aku cuma waspada aja!"
"Oh ya? Jadi kamu lagi mikirin...."
"Kakak! Udah ah, atau aku pulang nih" ancam Lucia sambil melipat kedua tangan.
"Eh jangan dong, masa belum apa-apa udah pulang. Makanya ayo turun"
Setelah perdebatan kecil Lucia akhirnya mau diajak singgah ke apartemen Fabio, ia percaya kalau Fabio tak akan melakukan hal aneh kepadanya.
Mereka menaiki lift menuju lantai tempat Fabio tinggal.
"Kakak udah dari kapan tinggal di apartemen?"
"Dari awal masuk kuliah"
Dari sini sudah bisa ditebak kalau Fabio berasal dari keluarga berada. Jauh sekali dibanding dirinya, kuliah di universitas swasta pun karena dibiayai oleh Jihan dan Ghani.
Ting!
Pintu lift terbuka, mereka segera keluar.
Kamar nomor 54 menjadi tujuan mereka, Fabio mengeluarkan kartu untuk men-scan pintu tersebut.
"Yuk, masuk!"
Saat kaki Lucia melangkah, aroma ruangan itu menyambut kedatangannya. Cahaya kekuning-kuningan membuat tempat itu semakin indah dipandang.
"Bagus banget apartemen kakak" puji Lucia, baru kali ini ia menginjakkan kaki di sebuah apartemen, biasanya hanya hotel itupun baru sekali.
__ADS_1
"Anggap aja rumah sendiri, kalau mau tidur tuh pake aja kamar aku"
"Enggak, aku disini aja" menjatuhkan bo kongnya di sofa yang empuk itu.
Usai berkeliling kota mencari hiburan rasanya lelah sekali, tapi Fabio seperti tidak kehabisan energi, padahal lelaki itu yang mengendarai motor dari pagi sampai sore.
"Haus gak? Pingin minuman dingin atau yang biasa?" Fabio menawarkan.
"Air putih aja"
"Ya udah aku ambilin sama cemilannya juga"
Melihat Fabio yang memasuki sebuah ruangan membuat Lucia penasaran, ia pun berdiri lagi dan menyusul Fabio.
Sebuah dapur minimalis membingungkan Lucia "Ada dapur juga? Kakak suka masak?"
"Paling kalau masak yang instan aja"
Lucia masuk lebih dalam, ia melihat Fabio sedang memotong buah-buahan.
"Kakak beneran tinggal sendiri kan? Aku malu kalau tiba-tiba ketemu orang tua kakak"
"Iya, sendiri kok. Orang tua aku tinggal di Jakarta pusat, kerja disana juga"
"Kakak punya berapa bersaudara sih?"
"Aku anak tunggal. Sama kan kita" sambil sibuk dengan aktivitasnya.
"Iya, sama. Cuma beda nasib aja" Lucia menambahkan.
__ADS_1
"Iya, aku dinasibkan jadi laki-laki sedangkan kamu perempuan. Pas banget, siapa tau kita itu sebenernya jodoh" balas Fabio, ia mengerti betul apa maksud dari ucapan Lucia. Tapi sebisa mungkin Fabio menanggapinya dengan guyonan agar suasana tak berubah melow.