
Selesai mandi dan makan malam Lucia beralih menuju kamar, bunyi air berjatuhan terdengar di luar sana, hujan tengah turun membasahi seisi bumi.
Meski terkadang suara petir ikut bersenandung, tapi Lucia menguatkan diri supaya tidak bersugesti.
Ia tidak boleh lemah hanya karena suara mengagetkan itu, nanti bayinya bisa ikut terkejut.
Lucia baru saja menarik selimut, tapi getar ponsel kembali membuat Lucia menjauhkan kain hangat tersebut.
Diambilnya benda pipih dari atas nakas, Lucia pikir itu dari Fabio, tapi sebuah nama lain membuat Lucia melebarkan kelopak mata.
Segera Lucia mengangkat panggilan dengan antusias.
"Hallo Bu!"
"Hallo nak, udah mau tidur ya?" Balas seorang perempuan setengah baya di seberang sana.
"Iya, tapi belum kok. Ibu apa kabar? Lagi apa sekarang?"
"Ibu baik, ini baru aja pulang kerja. Ibu keinget kamu, kamu baik-baik kan disana?"
Dan Lucia mengangguk sambil menahan sesak di dadanya, ia merindukan ibunya yang jauh di luar kota, mendengar suara sang ibu Lucia jadi semakin emosional.
"Baik Bu" jawabnya dengan nada parau.
"Syukur kalau gitu, udah lama ibu gak nelpon kamu. Gimana kuliahnya? Lancar?"
Suara lembut nan mendayu itu membuat Lucia bisa membayangkan wajah ibunya saat ini, wanita itu pasti tengah kelelahan dan diliputi rasa cemas, andai mereka bisa bertemu Lucia ingin sekali memeluk sang ibu.
"Lancar Bu, ibu juga gimana kerjanya? Ibu jangan kecapean nanti sakit" Lucia mengingatkan.
"Kerjaan Ibu lagi sibuk-sibuknya sekarang, ibu mau beresin kerjaan biar bisa cuti, ibu mau ke Jakarta ketemu kamu. Doain ya, mungkin sebentar lagi ibu bisa kesana dalam waktu dekat"
"Ibu mau kesini???" Lucia tampak semangat dan menggebu-gebu, sepertinya harapan serta doa Lucia langsung dikabulkan oleh yang Maha Kuasa.
"Iya, kalau bisa Minggu depan ibu udah berangkat"
__ADS_1
"Iya Bu, semoga kerjaan ibu cepet selesai ya biar ibu bisa kesini ketemu aku"
Rasanya bahagia sekali setelah sekian lama tidak bertemu dengan Ibunda, Lucia jadi ingat masa-masa mereka masih bersama, kini harus berpisah karena keadaan.
"Sebelum berangkat ibu mau ke makam ayah dulu, ibu mau minta izin sebelum pergi"
Ayah? Lucia juga merindukan sosok cinta pertamanya itu, gundukan tanah yang terakhir kali Lucia datangi sebelum dirinya berangkat ke tempat ini.
"Aku titip salam buat ayah, bu. Maaf Lucia belum bisa kesana, cuma bisa berdoa dari jauh"
"Iya, pasti ibu sampaikan"
Keheningan melanda keduanya, bagaimana tidak, setelah kehilangan sosok laki-laki yang mereka cintai, kehidupan langsung berubah, banyak masalah yang dihadapi sampai detik ini, dan belum bisa mereka sangka hingga sekarang.
"Lucia kangen ibuuu....." ungkap Lucia bergetar, ia pun menangis tanpa bisa ditahan, dan tanpa Lucia lihat sang ibu pun mengeluarkan air matanya.
Putri semata wayangnya, harus menjalani hidup sekeras baja tanpa bisa ia temani, ibu mana yang tidak sakit melihatnya? Anak yang tadinya ikut berjuang agar bisa membantunya membangun perekonomian justru malah harus masuk ke jurang kesesatan.
"Ibu lebih kangen putri kecil ibu"
"Gimana kabar cucu ibu? Dia sehat?"
Lucia segera menghapus asal cairan bening yang membasahi hampir seluruh mukanya, kalau ia menangis terus pasti akan menambah beban pikiran ibunya.
"Sehat juga Bu, sekarang makannya banyak"
"Ibu seneng dengernya, kalau dateng ke sana nanti ibu bawain oleh-oleh buat kalian, makanan khas bandung, dia pasti suka"
Lucia menunduk menatap perutnya sendiri, makhluk kecil ini begitu menyita banyak perhatian, tidak Fabio tapi ibunya pun turut memikirkan bayi ini.
"Katanya dia pingin kue yang dulu pernah ibu beli juga"
"Bolu susu Lembang?"
"Iya, itu"
__ADS_1
"Nanti ibu bawa yang banyak, ada lagi?"
"Sama pingin masakan buatan ibu, selebihnya yang penting ibu cepet kesini"
"Iya, doain ibu ya supaya semuanya lancar sesuai rencana. Disana lagi hujan?" Tebak sang ibu.
"Kok ibu tau?"
"Kedengaran sampe sini suaranya, kamu sendirian disana?" Dan diiyakan oleh Lucia.
Terdengar helaan nafas berat dari balik handphone anak muda tersebut, tak bisa lagi ia membayangkan nasib putrinya sekarang, sedang hamil besar, sendirian, suasana hujan, bagaimana kalau tiba-tiba mati lampu? Siapa yang mau Lucia mintai tolong?
"Tunggu ibu ya, nak. Ibu selalu berdoa supaya kamu baik-baik aja, maaf ibu belum bisa menemani kamu"
"Gapapa Bu, Lucia juga paham kondisi ibu, tapi mau gimana lagi, roda kehidupan kita lagi ada di bawah. Lucia yakin nanti kita bisa sama-sama lagi"
Biarlah waktu yang menentukan hidup mereka, sebagai manusia mereka hanya mampu menjalani sesuai apa yang ada di depan mata.
"Ibu sudahi dulu telponnya ya, kamu lanjut tidur lagi kan besok masih kuliah"
"Iya, ibu juga jangan lupa istirahat. Selamat malem Bu, mimpi indah"
"Selamat malem juga, mimpi indah ya nak"
Tuttttt.....
Lucia menyimpan lagi ponsel di atas nakas, hatinya lumayan tenang setelah mendengar suara sang ibu, sepertinya malam ini ia akan tidur nyenyak meski petir meneriakinya.
Ketika Lucia hendak berbaring, suara ketukan pintu kembali membatalkan niat Lucia.
Terpaksa Lucia pun bangkit guna melihat siapa yang datang.
Clekkk!
Bola mata Lucia mengembang begitu mendapati dua orang di depan rumahnya.
__ADS_1
"Tuan, Nyonya???"