Lucia, Pesona Maba Hamil

Lucia, Pesona Maba Hamil
Seberapa Berharganya Aku?


__ADS_3

Pulang menggunakan bis, Lucia memeluk perutnya dari desakan-desakan orang banyak. Duduk di sisi jendela sambil melihat pemandangan pinggir jalan.


Entah apa yang akan ia lakukan hari ini, mungkin hanya akan berdiam diri lagi sambil ditemani sepi.


Disaat teman-teman berlibur bersama keluarga, Lucia berkerumun dengan jiwa raganya sendiri.


Dan juga...... Bayi ini.


Makhluk kecil yang Lucia bawa kesana-kemari, tak pernah menyusahkannya meski berat dijalani. Tanpa sadar Lucia punya teman yang melekat ditubuhnya, wujudnya belum tampak, belum bisa diajak curhat, masih belum bisa apa-apa selain membebani Lucia.


Lucia berdiri saat bis sebentar lagi melewati persimpangan rumahnya, ia bersiap untuk turun.


"Permisi"


"Permisi pak"


Lucia melewati penumpang yang berdiri berdempetan, dengan susah payah Lucia berhasil berdiri di depan pengemudi.


"Berhenti di pertigaan itu pak"


Supir pun menghentikan bis sesuai permintaan si penumpang, Lucia membayar sejumlah uang kemudian turun dari transportasi umum tersebut.


Lucia harus berjalan lagi menuju rumahnya, tidak terlalu jauh, hitung-hitung olahraga di hari libur ini.


Sambil berjalan Lucia melihat-lihat pedagang yang berjualan di sekitarnya, ia belum sarapan tetapi Lucia bingung mau makan apa, lidahnya tidak berselera sejak tadi.


Akhirnya Lucia tidak membeli apapun, sampai ia benar-benar sampai di halaman rumah.


Namun seketika Lucia terhenti ketika matanya menangkap seseorang yang duduk di teras rumah sambil menundukkan kepala.


Jaket kulit? Motor Harley? Serta postur tubuh itu...


"Kakak?"


Orang itu langsung mendongak sambil membelalakkan kedua mata, begitu melihat Lucia dia pun segera berdiri dan menghampiri.


"Lucia, kamu darimana aja? Kenapa gak ada di rumah? K-kamu diantar sama siapa?" Fabio melempar berbagai pertanyaan, ia sangat mengkhawatirkan wanita ini, bahkan kedua tangannya memegang erat lengan Lucia.


"Kakak yang ngapain disini? Dari kapan kakak dateng?"


"Aku nungguin kamu dari jam tujuh, tapi gak ada siapa-siapa didalam. Ponsel kamu juga gak bisa dihubungi" jelas Fabio.


"Kamu dari mana sih? Pergi kemana tadi?" Masih menuntut jawaban dari pertanyaan sebelumnya.


"Aku pergi jalan-jalan aja tadi, emangnya kenapa?"


"Kamu bikin aku cemas aja tau! Aku hampir ngira kamu kenapa-napa" Fabio membawa Lucia ke dalam pelukannya, bersyukur Lucia dalam keadaan baik-baik saja dan jauh dari prasangka buruknya.


Apalagi kemarin mereka tak bertemu usai Lucia dijemput oleh mobil saat di kampus, Fabio pikir Lucia marah dan melakukan hal nekat yang bisa membahayakan nyawa ibu serta bayi di dalam kandungannya.


Lucia terperanjat saat Fabio memeluk tubuhnya, Lucia bisa mendengar deru nafas Fabio yang menggebu-gebu, menabrak kulit lehernya dengan halus.


Ini bukan pertama kalinya mereka berpelukan, Lucia pernah memeluk Fabio lebih dulu saat mereka bertemu malam hari, tapi saat itu posisi Lucia sedikit tidak sadar akan sikapnya.

__ADS_1


Dan kini saat Fabio memeluknya duluan, Lucia merasa ada desiran hebat yang merambat di sekitaran tubuhnya.


Dan apa yang Fabio bilang barusan? Dia mengkhawatirkannya? Benarkah begitu??


Perasaan Lucia tiba-tiba menghangat, ada perasaan senang dikhawatirkan oleh orang ini, Lucia merasa jika dirinya berharga, sampai Fabio rela menunggunya selama dua jam.


Baru saja Lucia hendak membalas pelukan itu, Fabio sudah lebih dulu melepasnya.


"Aku kesini bawain bubur ayam buat kita berdua, tapi karena udah gak hangat lagi jadi aku kasihin ke pemulung yang lewat. Kamu udah sarapan?"


Lucia menggerakkan kepalanya ke kiri dan kanan, "Belum"


"Kita sarapan di luar aja gimana, mau?"


"Kakak kesini cuma mau bawain aku bubur ayam?" Imbuh Lucia.


"Kamu gak suka bubur ayam? Tenang aja, kan udah aku kasihin ke orang"


"Bukan gitu, maksud aku kakak kesini ada urusan penting apa sama aku? Atau cuma mau ngajak sarapan doang?"


"Ohh... Cuma mau ngajak sarapan bareng aja sih, boleh kan?"


"Mau sarapan dimana?"


"Ada makanan yang mau kamu cobain?"


"Enggak, aku lagi gak selera makan, ngikut kakak aja"


"Boleh"


Mendengar persetujuan Lucia, Fabio tak menunggu lama lagi. Ia langsung mengajak wanita itu untuk naik kendaraannya.


"Udah siap?"


"Udah"


"Masih belum itu" ujar Fabio.


Lucia mengernyitkan alisnya, apalagi yang belum? Helm sudah ia gunakan.


"Udah kok"


"Kamu belum pegangan" tanpa meminta persetujuan Lucia, Fabio mengambil kedua lengan itu dan melilitkannya di pinggang.


Sikap Fabio membuat Lucia tak mampu menahan senyumannya, Lucia terus menyembunyikan wajahnya dari pandangan Fabio.


Mereka lagi-lagi menerjang jalanan kota, menuju tempat baru setiap saatnya, menciptakan cerita dengan orang yang sama.


Selalu tanpa rencana, yang penting terlaksana.


"Kakak punya tempat makan langganan juga?"


"Hah? Apa?" Berteriak sebab tak mendengar jelas suara dari belakang.

__ADS_1


"Kakak.... Punya... Tempat makan... Langganan.... Juga?" Mengeja dengan intonasi yang dinaikkan.


"Tempat makan langganan? Oh iya iya, punya dong!"


"Kakak sering makan diluar?"


"Sering tapi pesen lewat aplikasi, jadi makannya tetep di apartemen"


Tak ada lagi percakapan setelah itu, sampai mereka tiba di tempat bubur langganan Fabio.


Lucia agak sedikit kaget, ternyata Fabio membawanya ke tempat penjual bubur gerobakan, seorang Fabio juga suka makanan pinggir jalan? Sangat mengejutkan.


"Eh, balik lagi mas?"


"Iya bang, mau makan disini. Pesen dua porsi ya"


"Siap siap"


Fabio lantas mengajak Lucia untuk duduk, karena sudah tidak terlalu pagi jadi pembeli pun tidak sebanyak saat Fabio pertama beli.


"Pasti kamu bosen makanya jalan-jalan sendirian, kan? Untung banget aku dateng, kita bisa jalan-jalan berdua deh"


Makin narsis saja ucapan Fabio setiap harinya, seakan-akan Lucia yang meminta. Tapi anehnya Lucia malah terhibur, bahkan jika mereka berdebat Lucia tak pernah lelah meladeninya.


"Kakak kali yang bosen, makanya nyamperin aku" tak mau kalah.


"Emm...Bisa dibilang iya, kita emang sama-sama saling membutuhkan, makanya gak bisa jauh"


Ah yang benar saja, dari sekian banyaknya teman Fabio lebih memilih datang padanya, saat Lucia tak ada pun Fabio tetap setia menunggu daripada mencari kawan yang lain.


Padahal Lucia sadar, jika ia tidak seasik teman-temannya. Pertanyaan itu masih belum terpecahkan, Fabio tipe yang sulit ditebak.


"Hei, malah ngelamun. Nih buburnya udah jadi"


Lucia mengerjap, sampai tak melihat tukang bubur itu memberikan pesanan.


"Ayo dimakan, atau mau aku yang suapin?"


"Ih apaan, enggak lah! Sabar dulu, buburnya masih panas"


"Hehe iya juga, soalnya aku suka kalau ngeliatin kamu makan"


"Kenapa?"


"Pipi kamu tambah besar, jadi kalau nguyah ikutan gerak" Fabio cekikikan, sambil menarik kedua pipi itu sehingga melebar.


"Aww sakit kak!" Pekik Lucia, mengusap bagian yang terkena cubitan.


"Hahaha.... Lucu banget sih. Coba kali-kali liat di kaca, kamu juga pasti ketawa sendiri"


"Enggak ah, udah kayak orang gila aja ketawa sendiri"


Fabio masih terus tertawa, bisa-bisanya ibu hamil satu ini lebih menarik ketimbang perempuan lajang di luar sana. Daya tipu muslihat apa yang Lucia gunakan? Padahal nyatanya Lucia hanya diam sambil meratapi kenyataan.

__ADS_1


__ADS_2